Saya inget banget malam itu. Dokumen Google di depan saya, cursor berkedip, dan saya sudah 3 minggu di draft yang sama.

Anak yang kecil sudah tidur, anak yang besar sudah di kamarnya, dan saya punya mungkin 90 menit sebelum mata saya ikut tutup sendiri. Dan saya pakai waktu itu untuk mengedit kalimat yang sama untuk keempat kalinya.

Bukan karena kalimatnya jelek. Tapi karena ada suara di kepala saya yang bilang “ini belum siap”. Belum cukup lengkap, belum cukup bagus, belum cukup meyakinkan untuk orang baca.

Itu waktu yang saya buang. Dan saya tidak menyadarinya sampai jauh kemudian.

Jebakan “Nanti Kalau Sudah Siap”

Masalahnya bukan di naskahnya. Masalahnya ada di cara saya berpikir soal “siap”.

Dalam kepala saya, “siap” punya standar yang tidak pernah terpenuhi. Ada saja yang kurang. Perlu satu section lagi, perlu satu contoh lagi, perlu satu data lagi. Sampai ada titik di mana saya sadar bahwa saya tidak menunggu produk siap, saya menghindari momen ketika produk itu bertemu orang nyata dan mendapat penilaian nyata.

Itu yang sebenarnya ditakutin. Bukan ketidaksempurnaan produknya. Tapi penilaian orang lain terhadap sesuatu yang kamu buat.

Untuk Daddy yang kerja full-time dan punya mungkin 2 jam per malam untuk bangun sesuatu di luar kerjaan utama, waktu yang habis di mode “belum siap” itu mahal sekali. Bukan hanya waktu yang hilang, tapi momentum yang tidak pernah dibangun.

Apa yang Berubah Setelah Saya Ganti Caranya

Ada satu pertanyaan yang mengubah cara saya kerja. Bukan dari buku atau podcast, tapi dari momen bosan saya sendiri dengan progress yang tidak ke mana-mana.

Pertanyaannya sederhana: apa yang paling buruk yang bisa terjadi kalau saya publish ini sekarang?

Dan saya jawab dengan jujur. Tidak ada yang baca. Atau ada yang baca dan bilang ini biasa. Atau ada yang beli dan minta refund karena tidak sesuai ekspektasi.

Itu semua hal yang bisa saya kelola. Tidak ada yang permanen. Tidak ada yang menghancurkan apa yang sudah saya bangun.

Yang lebih destruktif justru tidak pernah publish, tidak pernah launch, tidak pernah mendapat feedback. Karena tanpa feedback, kamu tidak bisa tahu apakah yang kamu buat itu benar-benar berguna atau hanya kelihatan berguna di dalam kepala kamu sendiri.

Find Your Why Sebagai Anchor

Sebelum saya bisa benar-benar jalankan prinsip ini, saya perlu tahu kenapa saya mulai. Karena kalau “kenapa”-nya tidak jelas, setiap kali ada hambatan saya akan kembali ke mode “belum siap” tadi.

Ada 5 pertanyaan yang saya jawab waktu itu, dan jawaban-jawaban itu jadi semacam pengingat setiap kali mau menyerah:

Kenapa saya mau membangun ini? Bukan untuk jadi kaya atau terkenal, tapi karena saya mau ada income yang tidak bergantung 100% pada jam kerja saya, sehingga saya bisa lebih fleksibel hadir untuk anak.

Untuk siapa saya membangunnya? Untuk orang yang sekarang berada di posisi yang saya pernah ada sebelumnya dan butuh shortcut yang saya sudah jalan duluan.

Apa yang berubah kalau ini berhasil? Waktu yang lebih fleksibel, bukan hanya income yang lebih besar.

Apa yang paling saya takutkan kalau gagal? Buang waktu dan ternyata tidak ada yang butuh apa yang saya buat. Itu takut yang valid. Tapi kalau tidak dicoba, saya tidak akan pernah tahu.

Dan yang terakhir, yang paling mengubah cara pandang saya: Apa yang tetap ada meskipun saya gagal? Jawabannya adalah: semua yang sudah saya pelajari dalam prosesnya, dan keluarga yang masih di sana apapun yang terjadi.

Jawaban dari pertanyaan kelima itu yang bikin saya akhirnya bisa publish tanpa menunggu sempurna.

Prinsip “1% Better Each Day” dan Kenapa Lebih Realistis dari Sprint Besar

Saya tipe orang yang suka sprint. Bikin sesuatu dalam waktu singkat dengan intensitas penuh. Dan saya sudah berkali-kali tahu bahwa sprint besar itu tidak sustainable kalau kamu punya dua anak dan kerja full-time.

Yang lebih works untuk saya: 1% lebih baik setiap hari. Kalimat ini terdengar klise, tapi konkretnya seperti ini:

Hari 1: bikin outline. Hari 2: tulis section pertama. Hari 3: review dan revisi section itu. Hari 4: lanjut ke section berikutnya.

Bukan langsung selesai dalam satu malam. Tapi dalam 2 minggu, ada sesuatu yang selesai. Dan “selesai dalam bentuk yang cukup baik” itu jauh lebih berharga dari “sempurna yang tidak pernah ada”.

Ini yang saya maksud dengan kerja cerdas, bukan kerja keras. Bukan soal kerja lebih lama atau lebih banyak. Tapi soal kerja dengan cara yang menghasilkan sesuatu yang nyata, bukan sesuatu yang terus direncanakan.

Momen yang Mengubah Mindset Saya

Ada satu momen spesifik yang saya ingat. Waktu itu saya akhirnya publish sesuatu yang saya rasa “belum 100% siap” menurut standar saya sendiri. Dan ada orang yang DM dalam 2 jam pertama, bilang bahwa konten itu persis menjawab pertanyaan yang sudah dia cari jawabannya selama beberapa minggu.

Produk itu tidak sempurna. Ada bagian yang saya tahu bisa lebih baik. Tapi berguna. Dan berguna lebih penting dari sempurna.

Itu yang saya ingat setiap kali ada dorongan untuk menunggu satu kali revisi lagi.

Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya

Saya sekarang pakai rule sederhana: kalau sesuatu sudah menjawab satu masalah nyata untuk satu orang nyata dengan cara yang konkret, itu sudah cukup untuk di-publish atau di-launch.

Bukan berarti tidak ada quality control sama sekali. Tapi batasannya bukan “sempurna”, batasannya adalah “cukup berguna untuk seseorang yang tepat”.

Dengan cara ini, saya bisa lebih konsisten produce sesuatu dalam 2-4 jam kerja per hari tanpa terjebak di cycle perencanaan yang tidak ada ujungnya. Dan dari sana, iterasi memang terjadi, tapi berdasarkan feedback orang nyata, bukan berdasarkan asumsi saya sendiri tentang apa yang kurang.

Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?

Cocok kalau kamu: Punya sesuatu yang ingin kamu buat atau publish tapi sudah berminggu-minggu di draft, atau sering rasa tidak siap padahal kalau dianalisa lebih jujur sudah cukup untuk dimulai.

Mungkin belum waktunya kalau: Kamu memang belum punya substansi yang cukup untuk topik yang mau kamu bawa, atau produk yang mau kamu jual masih punya lubang besar di bagian core value proposition-nya. Done better than perfect bukan excuse untuk launch sesuatu yang belum berguna.

Mau Tahu Framework Praktisnya?

Kalau mau saya kirim framework lebih lengkap soal cara kerja di 2-4 jam per hari tanpa sacrificing waktu keluarga, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini, gratis dan saya kirim tiap minggu.

Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy ->

Pertanyaan yang Sering Muncul

Bagaimana bedain antara “cukup baik untuk di-launch” vs “terburu-buru dan hasilnya jelek”?

Tanda bahwa sesuatu sudah cukup baik: ada satu problem yang benar-benar dijawab, ada quick win yang bisa pembeli atau pembaca dapat dalam 30-60 menit pertama, dan kamu sendiri kalau jadi pembeli mau bayar untuk ini.

Tanda bahwa ini terburu-buru: kamu tahu ada lubang besar di bagian inti yang kamu sengaja tutup mata, atau kamu belum bisa jelasin ke orang lain manfaatnya dalam satu kalimat.

Bagaimana kalau dapat feedback negatif setelah launch?

Itu justru informasi berharga. Feedback negatif yang spesifik (misalnya: “bagian X tidak jelas” atau “step 3 tidak bisa saya terapkan karena kondisi saya beda”) jauh lebih berguna dari tidak ada feedback sama sekali. Yang perlu dihindari adalah feedback destruktif yang tidak ada solusinya, tapi itu jarang terjadi kalau audience kamu sudah orang yang tepat.

Prinsip ini berlaku juga untuk keputusan parenting?

Ada overlap tapi dengan nuance yang berbeda. Untuk konten atau produk, done better than perfect sangat masuk akal. Untuk keputusan yang melibatkan anak dan tidak bisa di-undo, memang perlu lebih hati-hati. Tapi untuk hal-hal seperti rutinitas baru dengan anak atau cara main yang belum pernah dicoba, prinsip ini tetap berlaku: coba dulu, adjust berdasarkan respons anak.

Berapa lama biasanya butuh untuk “rasa siap” itu datang sendiri tanpa dipaksa?

Jujur, rasa siap itu hampir tidak pernah datang sendiri. Yang terjadi biasanya adalah: kamu publish meski rasa tidak siap, ternyata tidak seburuk yang kamu bayangkan, dan dari sana confidence bertumbuh. Itu yang saya alami sendiri. Bukan rasa siap yang datang duluan, tapi aksi yang datang duluan dan rasa siap menyusul belakangan.