Saya ingat malam itu dengan cukup jelas. Anak saya yang pertama masih bayi, mungkin 7-8 bulan. Saya duduk di depan laptop, lagi coba kerja sesuatu, tapi pikiran saya ada di tempat lain.
Bukan di email, bukan di kerjaan. Pikiran saya ada di satu pertanyaan: kalau besok saya kehilangan semua penghasilan, keluarga saya bisa bertahan berapa lama?
Waktu itu saya tidak tahu jawabannya. Mungkin beberapa minggu. Mungkin lebih pendek dari itu. Dan ketidaktahuan itu, jujur, lebih menakutkan dari pertanyaan itu sendiri.
Ketakutan yang Tidak Pernah Benar-benar Pergi
Ada jenis ketakutan yang tidak terasa dramatis tapi selalu ada di latar belakang. Bukan ketakutan akut seperti “saya takut jatuh dari tangga” yang bisa diselesaikan dalam detik. Tapi ketakutan yang lebih seperti suara latar, selalu on, selalu ada.
Buat banyak Daddy karyawan, ketakutan itu biasanya soal finansial. Bukan selalu “saya takut miskin” yang besar dan eksplisit, tapi lebih ke “saya tidak tahu apa yang terjadi kalau…” yang halus dan terus-menerus.
Dan yang saya temukan setelah beberapa tahun: ketakutan latar itu sangat mahal harganya, karena dia diam-diam mencuri kualitas kehadiran kamu di rumah.
Waktu pikiran kamu ada di “kalau gaji saya terlambat”, “kalau proyek ini tidak jalan”, “kalau bulan depan ada keperluan mendadak”, tubuh kamu memang ada di ruang tamu bersama anak. Tapi kepala kamu tidak ada di sana. Dan anak kamu merasakannya, meski mereka tidak bisa bilang apa yang mereka rasakan.
Satu Angka yang Mengubah Segalanya
Ada konsep di dunia bisnis yang namanya financial runway. Di sana artinya: kalau income perusahaan berhenti hari ini, dengan uang kas yang ada sekarang, perusahaan bisa beroperasi berapa bulan sebelum kehabisan?
Saya pinjam konsep ini untuk keluarga.
Financial runway keluarga adalah: kalau income kamu berhenti hari ini, keluarga bisa hidup dengan pengeluaran normal berapa bulan?
Rumusnya sederhana:
Total tabungan yang bisa diakses / Pengeluaran bulanan keluarga = Runway dalam bulan
Contoh konkret: tabungan Rp30 juta, pengeluaran bulanan Rp10 juta, maka runway kamu 3 bulan.
Kenapa ini penting? Karena begitu kamu tahu angkanya, ketakutan latar itu punya bentuk. Dan sesuatu yang sudah punya bentuk jauh lebih mudah dikelola daripada sesuatu yang kabur dan tidak jelas.
Berapa yang Cukup?
Ini yang saya tahu setelah beberapa tahun memperhatikan pola sendiri dan ngobrol dengan Daddy-Daddy lain.
Di bawah 1 bulan: tingkat stres finansial sangat tinggi. Setiap pengeluaran tidak terduga terasa seperti krisis. Susah hadir untuk anak karena kepala selalu dalam mode survival.
1-3 bulan: mulai ada sedikit ruang bernapas. Bisa menghadapi kejutan kecil tanpa panik. Tapi masih cukup rentan kalau ada yang lebih besar.
3-6 bulan: ini yang saya rasakan sebagai titik balik. Di level ini, saya mulai bisa hadir untuk anak secara berbeda. Bukan berarti tidak ada kekhawatiran finansial sama sekali, tapi levelnya sudah tidak mencuri kepala saya setiap malam.
Di atas 6 bulan: ini yang ideal, terutama kalau kamu satu-satunya pencari nafkah atau kalau income kamu agak tidak menentu. Di sini, keputusan kerja sudah tidak didorong oleh ketakutan, tapi oleh pilihan.
Kenapa Daddy Sering Tidak Tahu Angka Ini
Ini bukan soal tidak peduli atau tidak bertanggung jawab. Saya juga dulu tidak tahu.
Ada beberapa alasan yang sering muncul.
Pertama, kita tidak pernah menghitung pengeluaran bulanan yang sebenarnya. Banyak Daddy punya estimasi kasar tapi tidak tahu persis. Kalau ditanya “pengeluaran keluarga kamu berapa sebulan?”, jawabannya sering berupa range yang lebar, bukan angka yang konkret.
Kedua, kita sering salah memasukkan apa yang dihitung sebagai “tabungan”. Ada uang yang ada di rekening tapi sebetulnya sudah dialokasikan untuk sesuatu, misalnya DP rumah, liburan yang sudah direncanakan, atau gadget yang mau dibeli. Itu bukan runway. Runway adalah uang yang benar-benar bisa kamu pakai untuk survive kalau perlu.
Ketiga, ada unsur yang saya sebut “takut lihat”. Kalau saya hitung dan angkanya jelek, lebih baik tidak tahu. Padahal tidak tahu jauh lebih mahal dari tahu angka yang tidak enak.
Cara Hitung Runway Kamu Sekarang
Ini bisa dilakukan dalam 30 menit kalau datanya tersedia. Tidak perlu spreadsheet canggih atau software mahal.
Langkah 1: Hitung pengeluaran bulanan yang sebenarnya
Ambil rekening koran atau riwayat transaksi 2-3 bulan terakhir. Lihat rata-rata keluar berapa per bulan. Masukkan: makan, transport, cicilan, tagihan, belanja rutin, biaya anak, dan kebutuhan lain yang konsisten tiap bulan.
Ini angka yang sering mengejutkan. Banyak Daddy yang pikirnya Rp8 juta per bulan ternyata setelah dihitung hasilnya Rp12-13 juta. Tidak apa-apa, itu informasi. Lebih baik tahu daripada estimasi yang salah.
Langkah 2: Hitung tabungan yang benar-benar bisa diakses
Ini bukan total tabungan kamu. Ini tabungan yang bisa kamu akses dalam 1-2 minggu kalau perlu. Rekening tabungan biasa, deposito yang tidak terlalu lama jatuh temponya, uang yang tidak sudah dialokasikan untuk sesuatu.
Kalau punya investasi yang bisa dicairkan, hitung juga, tapi pisahkan dari kas karena proses cairnya berbeda.
Langkah 3: Bagi
Tabungan yang bisa diakses dibagi pengeluaran bulanan. Itu runway kamu.
Tulis angkanya. Taruh di tempat yang kamu bisa lihat. Bukan untuk bikin stres, tapi untuk punya baseline yang jelas.
Dari Sini Kamu Bisa Bikin Keputusan yang Lebih Tenang
Begitu kamu tahu angkanya, hal berikutnya adalah tanya: apa yang ingin kamu lakukan dengan angka ini?
Kalau runway kamu 1 bulan dan ingin naik ke 3 bulan, artinya kamu perlu menambah tabungan sebesar 2x pengeluaran bulanan. Dengan pengeluaran Rp10 juta, berarti target tabungan tambahan Rp20 juta. Berapa lama bisa mencapai itu? Itu jadi pertanyaan yang konkret, bukan cita-cita kabur.
Dan di sini, kalau kamu juga punya side hustle atau sedang memikirkan nambah income, tujuannya jadi lebih clear. Bukan “mau nambah income biar lebih banyak”, tapi “mau nambah income Rp3 juta per bulan selama 7 bulan untuk mencapai runway 3 bulan”. Itu berbeda rasanya. Lebih ada arahnya.
Kerja cerdas, bukan kerja keras, artinya juga tahu untuk apa kamu kerja. Financial runway kasih kamu itu.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Sejak 2018, saya mulai lebih serius tracking ini. Dan ada perubahan yang konkret terasa begitu runway keluarga kami naik ke level yang lebih aman.
Bukan perubahan yang dramatis. Bukan tiba-tiba jadi Daddy yang sempurna atau tidak punya kekhawatiran sama sekali. Tapi ada sesuatu yang berubah di cara saya hadir di rumah. Lebih mudah “parkir” pikiran kerja ketika bersama anak. Tidak terlalu reaktif kalau ada kejutan pengeluaran mendadak.
Salah satu hal yang paling konkret: sebelumnya, kalau anak sakit dan butuh ke dokter di waktu yang tidak terduga, ada lapisan stres tambahan soal biaya. Bukan besar, tapi ada. Setelah runway lebih panjang, hal seperti itu jadi lebih mudah dihadapi, fokusnya ke anak, bukan ke kalkulasi biaya di kepala.
Saya tidak bilang ini mudah atau cepat. Saya kerja maksimal 2-4 jam sehari sekarang, dan salah satu hal yang membuat itu bisa jalan adalah fondasi finansial yang cukup stabil. Fondasinya tidak muncul tiba-tiba, dibangun perlahan selama beberapa tahun dengan keputusan-keputusan kecil yang konsisten.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: Daddy karyawan yang merasa ada level stres finansial latar yang tidak pernah benar-benar pergi, tapi tidak tahu persis sumbernya atau tidak pernah punya angka yang jelas. Terutama kalau kamu merasakan bahwa kekhawatiran tentang uang itu diam-diam mempengaruhi cara kamu hadir di rumah.
Mungkin belum waktunya kalau: Kamu sedang dalam krisis finansial akut, misalnya ada cicilan yang sudah menunggak atau ada kebutuhan mendesak yang belum terpenuhi. Di situ prioritasnya berbeda dulu, selesaikan yang urgent, baru bisa bicara soal membangun runway.
Lebih Dalam soal Finansial Keluarga di Newsletter
Topik ini punya banyak nuance yang tidak cukup saya tulis dalam satu artikel, terutama bagaimana cara menavigasi target runway ketika income kamu tidak tetap atau ada seasonal fluctuation. Saya tulis lebih dalam di newsletter Not A Perfect Daddy. Kalau mau saya kirim langsung ke email kamu, masuk di sini, gratis dan saya kirim tiap minggu.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Kalau pengeluaran bulanan kami naik terus karena anak makin besar, cara hitungnya gimana?
Pakai pengeluaran 2-3 bulan terakhir sebagai baseline, bukan proyeksi masa depan. Setiap 3-6 bulan, hitung ulang karena memang pengeluaran berubah, terutama kalau ada biaya anak yang bertambah seperti sekolah atau kegiatan. Runway itu angka yang perlu diupdate berkala, bukan yang dihitung sekali lalu disimpan.
Apakah tabungan pensiun atau investasi masuk dalam hitungan runway?
Dalam hitungan runway, saya pisahkan: investasi jangka panjang tidak masuk. Runway idealnya adalah uang yang bisa diakses dalam 2 minggu tanpa penalti atau proses yang panjang. Investasi jangka panjang itu beda tujuannya, jangan dicampur.
Kalau pasangan juga punya income, cara hitungnya bagaimana?
Kalau ada dua income, runway kamu sebenarnya ada dua skenario: satu income berhenti, atau dua-duanya berhenti. Untuk praktisnya, coba hitung: kalau income kamu saja yang berhenti, tabungan yang ada cukup untuk berapa bulan? Itu yang paling relevan untuk Daddy sebagai gambaran risiko personal.
Saya sudah hitung dan angkanya kurang dari 1 bulan. Langkah pertama apa?
Tidak ada yang perlu panik dulu. Langkah pertama adalah tahu dengan lebih detail ke mana pengeluaran pergi setiap bulan. Dari sana biasanya ada 1-2 pos yang bisa dioptimasi tanpa mengubah gaya hidup drastis. Kenaikan kecil tapi konsisten, misalnya Rp500 ribu per bulan, sudah membangun runway 6 bulan dalam 2 tahun kalau pengeluaran kamu di Rp10 juta per bulan.
Apa bedanya financial runway dengan just saving more money?
Framing-nya berbeda dan itu penting. “Saving more” terasa abstrak, mau save untuk apa? Kalau kamu punya target runway yang jelas, misalnya “saya mau punya 4 bulan runway”, tujuannya konkret. Kamu tahu butuh berapa, kamu tahu sudah di mana, dan kamu tahu langkah selanjutnya. Itu yang membuat progress terasa nyata, bukan cuma angka tabungan yang naik turun.

