Ada satu percakapan yang saya ingat betul. Anak saya yang besar, waktu itu masih sekitar 6 tahunan, nanya di malam hari saat saya masih di depan laptop.
“Daddy masih kerja?”
Saya jawab, “Sebentar lagi.”
Dia balik ke kamar. Dan saya lanjut kerja 45 menit lagi.
Keesokan paginya dia bangun, sarapan, berangkat sekolah. Momen malamnya sudah lewat.
Yang menarik bukan kejadiannya, itu terjadi sesekali dan itu bagian dari realita. Yang menarik adalah saya tidak tahu dengan jelas, malam itu, apakah yang saya kerjakan worth trade-off itu. Saya tidak pernah ngitung. Saya hanya kerja karena ada yang perlu dikerjakan.
Itu masalahnya. Bukan waktunya, bukan proyeknya. Tapi saya mulai proyek itu tanpa pernah duduk dan ngitung tiga angka dasar yang seharusnya saya ketahui sebelum commit.
Apa yang Saya Maksud dengan Economics Daddy
Ini bukan laporan keuangan. Bukan spreadsheet 10 tab. Ini tiga angka yang harus kamu tahu sebelum mulai apapun yang akan mengambil waktu dan energimu secara konsisten.
Saya belajar konsep ini dari cara kerja yang sistematis, di mana sebelum sentuh “campaign” atau eksekusi apapun, kamu harus tahu dulu angka-angka ekonomi dasarnya. Untuk bisnis, itu gross margin, average order value, customer lifetime value.
Untuk Daddy yang mau mulai proyek baru, angka dasarnya beda tapi prinsipnya sama: tahu dulu kondisi ekonomi hidupmu sebelum commit ke apapun yang baru.
Angka 1: Margin Energi Harian Kamu
Ini bukan tentang uang. Ini tentang energi sebagai resource yang paling terbatas.
Hitung sederhana. Total jam terjaga sehari: sekitar 16 jam kalau kamu tidur 8 jam, mungkin 7 jam kalau anak masih kecil dan sering bangun malam.
Dari 16 jam itu, kurangi:
- Jam kerja kantor termasuk perjalanan dan waktu transisi setelah pulang sebelum benar-benar bisa fokus ke yang lain
- Waktu keluarga yang kamu lindungi: makan malam bareng, mandi dan tidurkan anak, quality time dengan istri
- Waktu istirahat minimum yang membuat kamu tidak jadi manusia yang moodnya buruk keesokan harinya
Sisanya adalah margin energi harianmu.
Kalau hasilnya 0 atau minus, kamu tidak punya margin. Proyek baru yang kamu mulai akan diambil dari salah satu kolom yang sudah penuh itu. Dan yang paling sering jadi korban pertama adalah waktu keluarga atau kualitas tidur.
Angka ini tidak selalu menyenangkan untuk dilihat. Saya ingat pertama kali menghitungnya dengan jujur dan hasilnya mengejutkan. Ternyata margin yang saya pikir ada itu sebetulnya lebih kecil dari yang saya bayangkan.
Tapi lebih baik tahu di atas kertas daripada tahu setelah 3 bulan kelelahan.
Angka 2: Jam Kerja Nyata yang Tersedia Per Minggu
Berbeda dari margin energi harian yang lebih soal kualitas, ini soal kuantitas jam per minggu yang bisa kamu commit untuk proyek baru.
Yang paling penting: hitung dari minggu-minggu yang tidak ideal, bukan minggu ideal.
Minggu ini mungkin kosong dan kamu bisa 8 jam untuk proyek baru. Tapi bagaimana dengan minggu depan kalau ada deadline kantor? Minggu setelahnya kalau anak sakit? Minggu setelahnya lagi kalau ada urusan keluarga mendadak?
Di minggu-minggu itu, berapa yang masih bisa kamu jalankan?
Ambil angka yang lebih konservatif dari itu. Itu baseline kamu. Proyek yang sustainable adalah proyek yang bisa tetap berjalan bahkan di minggu paling kacau, minimal di 50% kapasitas normal.
Kalau baseline kamu 3 jam per minggu, itu yang kamu build di atas. Bukan 10 jam yang hanya tersedia di minggu ideal.
Saya pernah commit ke proyek dengan asumsi “saya bisa 8 jam per minggu”. Kenyataannya di minggu-minggu biasa, 8 jam itu tidak ada. Dan pas anak sakit atau ada urusan lain, saya tidak ada cadangan sama sekali untuk proyek itu. Akibatnya: guilt yang tidak perlu dan proyek yang stagnan.
Angka 3: Value Nyata dari Satu Jam Waktumu
Ini yang paling jarang dihitung tapi paling penting untuk keputusan besar.
Satu jam waktu kamu punya dua nilai berbeda:
- Nilai produktif: berapa yang bisa dihasilkan secara finansial dari satu jam kerja di proyek tersebut
- Nilai oportunitas keluarga: apa yang kamu trade-off kalau jam itu dipakai untuk proyek, bukan untuk keluarga
Yang kedua ini yang susah dikuantifikasi tapi perlu tetap dihitung.
Misalnya: jam 5-6 sore adalah waktu anak pulang sekolah dan ingin main sama Daddy. Kalau kamu pakai jam itu untuk kerja proyek sampingan, trade-off-nya adalah momen itu. Bukan seluruh hubungan dengan anak, bukan dramatis seperti itu. Tapi momen itu, hari itu, tidak bisa diulang.
Pertanyaannya bukan “mana yang lebih penting, uang atau anak?” Pertanyaan yang lebih berguna adalah: “Apakah return dari satu jam kerja di proyek ini, baik finansial maupun non-finansial, sebanding dengan apa yang saya trade-off?”
Kalau iya, jalankan dengan tenang. Kamu sudah ngitung.
Kalau tidak, bukan berarti batalkan proyeknya. Tapi desain ulang: bisa kerja di jam yang trade-off-nya lebih rendah? Bisa kurangi scope agar per jamnya lebih efisien? Bisa delegasikan bagian yang bisa dilempar ke orang lain?
Kenapa Tiga Angka Ini, Bukan Satu atau Dua
Setiap angka ini menangkap dimensi yang berbeda.
Margin energi bicara tentang kualitas hidup harianmu dan apakah ada ruang yang genuine untuk sesuatu baru.
Jam kerja nyata bicara tentang realita eksekusi minggu ke minggu, bukan asumsi idealnya.
Value satu jam bicara tentang apakah proyek ini benar-benar worth the trade-off yang akan terjadi.
Tahu satu atau dua saja tidak cukup. Tahu semua tiga adalah fondasi dari keputusan yang tidak akan kamu sesali 6 bulan dari sekarang.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Malam dengan anak saya yang tanya “Daddy masih kerja?” itu terjadi beberapa tahun lalu, sebelum saya mulai secara serius menghitung tiga angka ini.
Setelah itu, ada perubahan yang sederhana tapi signifikan. Sebelum iya ke komitmen baru apapun yang lebih dari sekali atau dua kali, saya hitung dulu tiga angka ini.
Dan yang lebih penting: saya tentukan jam-jam mana yang tidak bisa diganggu gugat, bukan karena kaku, tapi karena saya sudah kalkulasi bahwa trade-off di jam itu terlalu tinggi. Jam makan malam bareng. Jam tidurkan anak di malam hari. Jam weekend pagi yang biasanya jadi main bareng.
Semua proyek yang saya jalankan sekarang didesain di sekitar blok waktu itu, bukan sebaliknya.
Hasilnya bukan volume kerja yang lebih banyak. Hasilnya adalah proyek yang berjalan dengan energi yang ada dan saya tidak perlu terus-menerus dalam mode guilty karena ambil waktu keluarga lebih dari yang sudah saya kalkulasi.
Ini bagian dari apa yang saya sebut Daddy Freedom System: bukan soal kerja lebih sedikit, tapi soal desain yang lebih sadar agar kerja dan hadir untuk anak bisa coexist tanpa salah satu dikorbankan tanpa sadar.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: Daddy yang sering merasa guilty karena waktu untuk proyek atau kerja melebih ekspektasi awal, atau sebaliknya proyek tidak berjalan karena tidak ada kapasitas yang jelas. Juga cocok untuk Daddy yang mau mulai sesuatu baru tapi tidak yakin apakah kapasitasnya cukup.
Mungkin belum waktunya kalau: Kamu sedang di fase hidup yang sangat padat, bayi baru lahir, ada krisis keluarga, atau baru pindah kerja, di mana variabel hidupnya terlalu tidak stabil untuk dikalkulasi dengan akurat. Di fase itu, tunda dulu, bukan karena menyerah tapi karena angkanya akan berubah lagi dalam beberapa bulan.
Kalau Kamu Mau Framework Lengkap Mengelola Waktu dan Energi sebagai Daddy
Tiga angka economics ini adalah titik awal dari sistem yang lebih besar yang saya gunakan untuk mengelola proyek sambil tetap hadir untuk anak setiap hari. Kalau mau saya bagikan lebih banyak tentang cara kerjanya, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini, gratis, dan saya kirim tiap minggu.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Bagaimana kalau angka-angkanya berubah dari bulan ke bulan?
Itu normal dan sehat. Angka-angka ini perlu diupdate setiap kali ada perubahan besar: anak bertambah, pekerjaan kantor berubah, proyek lama selesai. Bukan sesuatu yang dihitung sekali lalu berlaku selamanya. Coba review ulang minimal setiap 3 bulan atau setiap kali ada perubahan signifikan di kondisi hidup.
Apakah ini berarti saya tidak boleh kerja malam setelah anak tidur?
Saya tidak bilang itu. Banyak Daddy, termasuk saya, yang menggunakan jam malam setelah anak tidur sebagai waktu proyek. Yang penting adalah itu pilihan yang sadar dan terhitung, bukan kebiasaan yang terbentuk karena tidak ada pilihan lain. Kalau memang jam malam itu menjadi margin energimu dan kamu masih bisa tidur cukup, itu sah.
Bagaimana kalau margin energi saya kecil tapi proyek yang ada di depan saya kelihatan sangat menarik?
Tanya lebih jelas: menarik untuk siapa dan untuk tujuan apa? Banyak peluang yang terlihat menarik dari luar tapi setelah dihitung trade-off-nya tidak sebanding. Dan ada yang kelihatan biasa-biasa saja tapi return per jam-nya jauh lebih tinggi dari yang flashy. Kalau margin kecil, kamu perlu lebih selektif bukan lebih excited.
Apakah angka-angka ini berlaku juga untuk keputusan karir di pekerjaan utama?
Prinsipnya berlaku. Sebelum ambil project besar di kantor, sebelum accept promosi dengan scope lebih besar, pertanyaan yang sama relevan: berapa jam ini akan mengambil dari margin yang ada, dan apakah return-nya sebanding dengan trade-off keluarga yang akan terjadi? Bedanya adalah di pekerjaan utama ada dinamika lain seperti obligasi profesional dan karir jangka panjang yang perlu ditimbang juga.
Apakah hitung-hitungan ini membuat hidup jadi terlalu kalkulatif dan hilang spontanitasnya?
Yang saya temukan justru sebaliknya. Ketika kamu sudah tahu dengan jelas mana waktu yang dilindungi dan mana yang fleksibel, kamu bisa lebih spontan di waktu yang memang fleksibel itu tanpa rasa guilty. Yang membuat orang tidak bisa spontan biasanya bukan karena terlalu terstruktur, tapi karena tidak punya struktur sama sekali sehingga setiap pilihan terasa seperti tradeoff yang tidak jelas.

