Kenapa Saya Nulis Email ke Orang yang Tak Dikenal

Waktu pertama kali saya nulis email ke daftar subscriber yang masih kosong, saya duduk di depan layar selama hampir 20 menit tanpa ngetik apa-apa.

Bukan karena tidak ada yang mau ditulis. Tapi karena saya tidak mengerti kenapa seseorang mau baca email dari saya. Siapa saya ini? Seorang Daddy karyawan yang waktu kerjanya terbatas, yang masih sering ketinggalan momen penting anak-anak karena notifikasi kantor, yang kalau jujur belum punya semua jawaban yang saya mau bagikan.

Dan saya hampir tidak mulai.

Ini cerita tentang kenapa saya akhirnya kirim email itu, kenapa saya terus kirim, dan apa yang saya pelajari tentang koneksi manusia dari proses yang awalnya terasa sangat aneh.

Rasa Aneh yang Saya Tidak Ekspektasi

Ada yang bilang email marketing itu soal list size, open rate, conversion. Dan iya, itu semua ada. Tapi yang tidak ada di tutorial manapun adalah perasaan pertama kali kamu kirim email ke orang yang tidak kamu kenal secara personal.

Saya ingat momen itu. Jari di atas tombol “Send”. Berpikir: apakah ini arogan? Siapa saya sampai mau kasih saran ke orang lain tentang cara jadi ayah atau cara bangun income? Saya sendiri masih belajar. Saya sendiri masih sering gagal.

Perasaan itu, kalau saya jujur namakan, adalah ketakutan untuk dilihat. Bukan ketakutan tentang email-nya. Tapi ketakutan tentang saya sendiri yang menjadi cukup transparan untuk orang asing menilai.

Di social media, kamu bisa pilih-pilih momen yang terlihat bagus. Di email, yang bekerja justru sebaliknya. Yang bikin orang terus buka email kamu adalah kejujuran, bukan presentasi yang rapi. Orang bukan subscribe ke daftar tips kamu. Mereka subscribe ke kamu, ke suara kamu, ke perspektif kamu tentang sesuatu.

Dan itu yang membuat email lebih intim dari Instagram, dan lebih menakutkan sekaligus.

Yang Terjadi Waktu Saya Akhirnya Kirim

Email pertama saya pendek. Mungkin 200 kata. Saya cerita tentang momen ketika anak perempuan saya yang waktu itu masih kecil nanya kenapa Papa selalu pegang HP waktu dia mau main. Pertanyaan yang simple tapi bikin saya diam cukup lama.

Tidak ada tips. Tidak ada framework. Cuma cerita itu, terus di akhir saya tanya: “Kamu pernah ada di momen yang sama?”

Tiga orang reply.

Tiga orang yang tidak saya kenal secara personal, yang meluangkan waktu untuk nulis balik bahwa mereka pernah ada di situasi yang sama. Satu bilang anaknya yang umur 6 tahun bilang hal serupa. Satu lagi bilang dia sudah 2 tahun work from home tapi anaknya masih bilang “Papa kerja terus”.

Saya baca balasan-balasan itu dan ada perasaan yang sulit saya describe. Bukan bangga. Lebih ke semacam, ah ternyata saya tidak sendirian dalam struggle ini.

Dan mereka juga merasa tidak sendirian karena email saya.

Itu momen pivot buat saya. Bukan soal angka atau metrik. Tapi tentang koneksi nyata yang terbentuk dari sebuah email pendek yang saya hampir tidak kirim.

Kenapa Email dan Bukan Platform Lain

Saya tidak meremehkan Instagram atau konten lain. Saya sendiri pakai keduanya. Tapi ada satu perbedaan yang saya rasakan sendiri antara bikin konten di social media versus nulis email.

Di social media, kamu performan. Ada kamera (walau hanya teks), ada likes yang bisa dilihat publik, ada komentar yang bisa dibaca siapapun. Secara tidak sadar kamu mulai nulis untuk audiens yang lebar, bukan untuk satu orang yang sedang butuh.

Di email, tidak ada yang nonton. Pembaca membuka emailmu sendirian, di inbox mereka, di momen yang mereka pilih sendiri. Tidak ada likes publik. Tidak ada komentar yang bisa dilihat orang lain. Cuma mereka dan tulisan kamu.

Ini yang bikin email terasa lebih seperti percakapan dan lebih sedikit seperti pertunjukan.

Dan sebagai Daddy yang pengen tetap hadir untuk anak-anak, saya juga sadar bahwa “hadir” bukan cuma soal secara fisik ada di ruangan. Hadir untuk anak buat saya juga termasuk membangun sesuatu yang bermakna, yang bisa dipertanggungjawabkan, yang bukan sekadar ngejar angka.

Email list, kalau dibangun dengan niat yang tepat, adalah tempat saya bisa melakukan itu.

Apa yang Saya Pelajari Tentang Menulis untuk Orang Lain

Ada istilah dalam email marketing yang namanya empathy angle, yaitu menulis dari sudut pandang apa yang pembaca kamu rasakan sekarang, bukan apa yang kamu mau sampaikan.

Waktu pertama dengar itu, terdengar teknis. Tapi semakin saya praktikkan, saya sadar ini sebenarnya hanya tentang memperhatikan orang lain dengan serius.

Kalau saya mau nulis email soal produktivitas, saya tidak mulai dari framework yang saya pelajari. Saya mulai dari pertanyaan: Daddy yang kerja 8 jam terus pulang, apa yang dia rasakan waktu sampai rumah dan masih ada kerjaan yang belum selesai? Apa yang dia pikirkan waktu anak minta main tapi otak dia masih di kantor?

Kalau saya bisa benar-benar masuk ke situasi itu, tulisan saya akan terasa berbeda. Bukan karena saya pintar. Tapi karena saya perhatian.

Dan kalau kamu tanya kenapa saya mau repot-repot nulis email ke orang yang tidak saya kenal, jawabannya mungkin justru sederhana: karena saya sendiri pernah butuh membaca bahwa saya tidak sendirian, dan tidak ada yang nulis itu untuk saya waktu saya butuhkan.

Jadi sekarang saya yang nulis.

Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya

Satu langkah lebih jauh yang saya ambil setelah email pertama itu adalah membuat jadwal mingguan untuk nulis. Bukan karena ada yang minta, tapi karena saya menemukan bahwa proses nulis email setiap minggu itu sendiri adalah cara saya berpikir lebih jernih tentang kehidupan saya sebagai Daddy.

Saya nulis email soal cara atur waktu dengan anak di hari kerja. Dalam proses nulis, saya sadar ada hal-hal yang saya bilang tapi tidak saya lakukan. Email itu jadi cermin.

Saya nulis email soal uang dan keluarga. Dalam prosesnya, saya terpaksa duduk dan jujur tentang apa yang saya takuti dan apa yang saya prioritaskan. Email itu bukan cuma untuk pembaca, tapi juga untuk saya sendiri.

Yang saya tidak ekspektasi dari membangun email list: manfaat terbesarnya bukan subscriber atau income (walau keduanya penting). Manfaat terbesarnya adalah kedisiplinan untuk refleksi mingguan yang tidak pernah saya punya sebelumnya.

Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?

Cocok kalau kamu: Daddy yang punya hal-hal yang ingin dibagikan tapi tidak nyaman tampil di video atau konten yang performatif. Yang lebih suka menulis dari bicara. Yang pengen membangun sesuatu yang bermakna, bukan sekadar ngejar followers. Yang sudah punya pengalaman hidup yang bisa berguna untuk Daddy lain, walau kamu tidak merasa “expert”.

Mungkin belum waktunya kalau: Kamu masih mencari-cari topik yang mau ditulis dan belum ada satu hal pun yang kamu tahu lebih dari rata-rata. Email list tidak bisa berjalan tanpa ada sesuatu yang mau disampaikan. Temukan dulu apa itu, baru mulai platform.

Kalau Kamu Penasaran dengan Sistem yang Saya Pakai

Ini baru pembukanya. Kalau kamu mau ikut perjalanan membangun sesuatu yang bermakna sambil tetap hadir untuk keluarga, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy.

Saya kirim tiap minggu, tentang hal-hal nyata, tanpa polesan berlebihan.

Masuk Newsletter Not A Perfect Daddy →

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apakah wajar merasa malu atau takut waktu pertama mulai nulis email?

Sangat wajar. Dan saya rasa kalau kamu tidak merasakan itu sedikit pun, mungkin kamu belum cukup jujur dalam tulisanmu. Rasa takut itu muncul justru karena kamu mau nulis sesuatu yang nyata, bukan basa-basi. Itu tanda yang bagus, bukan tanda untuk berhenti. Yang biasanya membantu: tulis email pertama dan simpan draftnya selama 24 jam, baru baca ulang. Sering kali setelah tidur satu malam, kamu lihat bahwa tulisanmu tidak seburuk yang kamu pikir.

Apakah saya perlu punya jumlah subscriber tertentu sebelum email saya “berarti”?

Tidak ada angka sakral di sini. Email pertama saya, yang dibalas 3 orang dari mungkin 15 subscriber, terasa lebih bermakna dari banyak konten yang saya buat sebelumnya. Satu balasan yang jujur dari satu orang yang tersentuh dengan tulisanmu lebih berharga dari 10.000 views tanpa interaksi. Mulai dari angka yang kecil, tapi mulai dengan niat yang serius.

Bagaimana kalau saya takut dinilai atau dikritik lewat email?

Email yang bermakna pasti akan ada yang tidak setuju. Itu bukan masalah, itu tanda kamu punya pendapat. Yang perlu dihindari bukan kritik, tapi ketidakjujuran. Kalau kamu nulis hal yang kamu benar-benar percaya dan kamu jalani sendiri, kamu punya fondasi untuk merespons kritik dengan kepala dingin. Kalau kamu nulis hal yang kamu sendiri tidak yakin, kritik akan terasa lebih berat.

Apakah email personal seperti ini bisa dipakai untuk jualan sesuatu?

Bisa, dan justru lebih efektif. Orang beli dari orang yang mereka percaya, dan kepercayaan itu dibangun dari waktu ke waktu melalui konten yang jujur dan berguna. Kalau sudah 3-6 bulan kamu konsisten kirim email yang memberi nilai nyata, waktu kamu akhirnya tawarkan sesuatu, orang yang sudah baca emailmu selama itu akan jauh lebih terbuka dibanding orang asing yang pertama kali lihat iklanmu.