Follower Banyak Bukan Berarti Layak Ditiru
Bukan siapa yang paling rame di feed kamu yang layak ditiru. Yang layak ditiru adalah orang yang track recordnya udah kebukti nyata di arah yang sama kayak yang kamu mau tuju.
Saya cerita dulu kenapa ini kepikiran. Waktu lagi baca ulang materi lama soal strategi audience buat iklan digital, ada satu bagian yang nyantol banget di kepala saya, judulnya soal “kualitas seed audience”. Intinya begini, kalau kamu mau cari orang baru yang mirip pembeli terbaik kamu, kualitas hasilnya itu sepenuhnya ditentukan dari siapa yang kamu jadikan contoh awal. Kalau contohnya diambil dari pembeli yang benar-benar sudah terbukti loyal, hasilnya bagus. Kalau contohnya diambil dari orang yang cuma follow akun kamu doang tanpa pernah beli apa-apa, hasilnya jauh lebih lemah, malah disebutin di situ, “avoid for conversion”.
Begitu saya baca itu, saya langsung kepikiran ke kehidupan saya sendiri, dan mungkin juga kehidupan kamu. Kita sering nyari role model, entah buat cara kerja, cara ngatur waktu sama anak, cara dapat income tambahan, dari orang yang kelihatan paling rame di media sosial. Padahal rame itu bukan bukti dia berhasil di hal spesifik yang kamu incar. Rame itu cuma bukti dia rame.
Kenapa Kita Gampang Ketipu sama “Rame”
Otak kita pakai jalan pintas buat menilai kredibilitas. Kalau ada satu akun yang followernya banyak, komentarnya ramai, kelihatan sibuk terus, kita otomatis anggap dia pasti tahu sesuatu yang kita belum tahu. Itu wajar, semua orang begitu, saya juga sering kejebak yang sama.
Masalahnya, rame di media sosial itu ukurannya beda sama berhasil di hal yang spesifik. Ada orang yang rame karena kontennya menarik secara visual, tapi belum tentu dia benar-benar sudah membuktikan sistem yang dia omongin itu jalan dalam jangka panjang. Ada juga yang rame karena momentum sesaat, viral sekali, terus orang menganggap dia expert padahal baru sekali itu aja yang berhasil.
Yang bikin ini penting buat kamu, Daddy yang waktunya udah dipotong habis antara kerjaan kantor dan waktu sama keluarga, adalah karena waktu kamu buat belajar dan coba hal baru itu sangat terbatas. Kalau kamu pakai waktu 2-4 jam kerja yang kamu punya buat niru pendekatan orang yang sebenarnya gak pernah benar-benar terbukti di situasi yang mirip kamu, effort itu keluar tapi arahnya salah dari awal.
Framework Sederhana: Cek Dulu “Seed”-nya Sebelum Niru
Ada satu cara yang saya pinjam dari konsep audience itu, saya sederhanakan biar gampang dipakai buat menilai siapa yang layak jadi contoh.
Level 1: Sudah Benar-Benar “Sampai” (Layak Ditiru Detail)
Ini orang yang bukan cuma ngomong, tapi udah kebukti konsisten menjalani hal yang kamu incar, dalam jangka waktu yang cukup lama, bukan sekali momentum doang. Kalau kamu mau income tambahan sambil tetap hadir untuk anak, cari orang yang memang sudah menjalani dua hal itu bersamaan dalam waktu yang cukup panjang, bukan orang yang baru viral sekali soal “cara kerja produktif” tapi belum jelas gimana kehidupan keluarganya di balik itu.
Level 2: Sudah Jalan Prosesnya, Belum Tentu Sampai
Ini orang yang kelihatan serius mengusahakan hal yang sama kayak kamu, tapi belum tentu sudah “sampai”. Boleh dijadikan teman belajar bareng, boleh saling tukar cerita, tapi jangan langsung anggap semua caranya pasti benar, karena dia sendiri masih dalam proses coba-coba.
Level 3: Sekadar Menarik Perhatian, Kualitasnya Belum Jelas
Ini orang yang kontennya menarik, insight-nya kedengaran masuk akal, tapi kamu belum tahu apakah dia benar-benar praktik apa yang dia omongin. Boleh jadi bahan bacaan ringan, tapi jangan jadi dasar keputusan besar.
Hindari: Rame Doang, Tidak Ada Bukti Nyata
Ini yang paling sering bikin orang salah arah. Akun rame, engagement tinggi, tapi kalau ditelusuri, gak ada bukti konkret dia benar-benar berhasil di hal spesifik yang kamu mau tiru. Sama seperti audience yang cuma follow tapi gak pernah beli, kualitasnya paling rendah buat dijadikan contoh serius.
Satu Hal Lagi yang Sering Kelewat: Role Model Juga Bisa Kadaluarsa
Ini yang jarang disadari. Role model yang cocok buat kamu tiga tahun lalu, belum tentu masih cocok sekarang, karena situasi hidup kamu berubah. Waktu saya belum punya anak kedua, cara ngatur waktu saya beda banget sama sekarang, setelah anak laki-laki saya lahir dan waktu yang bisa saya pakai buat kerja makin sempit. Kalau saya masih niru pendekatan orang yang situasinya udah gak sama kayak saya sekarang, ya jelas gak nyambung.
Jadi bukan cuma soal cek kualitas role model sekali di awal, tapi juga soal ngecek ulang secara berkala, apakah contoh yang kamu pegang itu masih relevan sama fase hidup kamu sekarang, atau udah waktunya cari contoh baru yang lebih pas.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Saya pernah, di masa awal bangun income tambahan di luar kerjaan utama, ambil banyak tips dari orang yang kelihatan produktif banget di media sosial. Jadwalnya rapi, kontennya konsisten, kelihatan hasilnya bagus. Saya coba niru jadwalnya persis, padahal dia gak punya anak kecil di rumah dan waktu kerjanya jauh lebih fleksibel dari saya. Hasilnya, saya cuma bertahan dua minggu sebelum keteteran, karena sistemnya emang dibangun buat situasi yang beda sama saya.
Setelah itu saya lebih hati-hati. Saya cari orang atau cerita yang situasinya benar-benar mirip, sama-sama kerja penuh waktu, sama-sama harus bagi waktu sama anak kecil, baru saya perhatikan pendekatannya. Bukan berarti langsung sukses juga, tapi setidaknya arah yang saya ambil lebih nyambung sama kondisi saya sendiri.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: sudah beberapa bulan coba niru cara orang lain tapi hasilnya gak nyambung, atau sering ganti-ganti panutan setiap ada yang kelihatan menarik di feed.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu memang masih di fase eksplorasi awal dan belum tahu arah spesifik mau ke mana. Di fase itu, lihat-lihat banyak orang dulu itu sehat, belum perlu langsung filter ketat.
Kalau Kamu Mau Belajar Lebih Dalam Soal Cara Pilih Prioritas dengan Waktu Terbatas
Ini salah satu hal yang saya bahas lebih detail di sistem yang saya pakai sehari-hari, soal cara mengalokasikan waktu dan energi yang terbatas ke hal yang benar-benar nyambung sama tujuan kamu. Ini bagian dari kerja cerdas, bukan kerja keras, prinsip yang saya pegang di Daddy Freedom System.
Kalau kamu mau saya kirim lebih banyak cerita dan framework kayak ini langsung ke email kamu, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini, gratis, dan saya kirim tiap minggu.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah artinya saya harus stop ikutin akun yang kelihatan sukses di media sosial?
Enggak harus stop, cuma bedain antara konsumsi buat hiburan atau inspirasi ringan, sama konsumsi buat dasar keputusan besar. Boleh tetap follow, tapi jangan otomatis anggap semua yang dia omongin pasti berlaku buat situasi kamu, apalagi kalau situasinya jauh beda.
Bagaimana kalau saya belum tahu siapa yang cocok jadi role model saya?
Mulai dari cari orang yang situasinya paling mirip sama kamu dulu, bukan yang hasilnya paling besar. Orang yang sama-sama kerja kantoran, sama-sama punya anak kecil, sama-sama waktu terbatas, walau hasilnya belum se-wah orang lain, seringkali lebih relevan buat kamu tiru dibanding orang yang situasinya jauh beda.
Kalau saya sudah coba tapi belum lihat hasil, apakah itu artinya role modelnya salah?
Belum tentu. Cek dulu apakah kamu udah kasih waktu yang cukup, minimal beberapa minggu sampai satu dua bulan, sebelum menilai. Ganti-ganti pendekatan terlalu cepat sebelum ada cukup waktu buat lihat hasilnya juga bikin kamu gak pernah tahu pendekatan mana yang sebenarnya jalan.
Apakah konsep ini cuma buat urusan income, atau bisa dipakai buat hal lain juga?
Bisa dipakai buat apa saja, termasuk cara parenting, cara ngatur rumah tangga, cara jaga kesehatan. Prinsipnya sama, cek dulu apakah orang yang kamu jadikan contoh benar-benar sudah terbukti di situasi yang mirip kamu, bukan cuma keliatan meyakinkan di permukaan.
Bagaimana cara tahu kalau role model saya sudah kadaluarsa buat fase hidup saya sekarang?
Perhatikan apakah pendekatannya masih nyambung sama situasi kamu sekarang. Kalau situasi kamu berubah signifikan, misalnya anak nambah, kerjaan berubah, waktu makin sempit, dan kamu masih maksa pakai pendekatan yang dibuat buat situasi lama, biasanya itu tanda saatnya cari contoh baru yang lebih pas sama fase kamu sekarang.

