Saya ingat betul momen itu. Anak perempuan saya yang waktu itu masih sekitar dua tahun, narik-narik tangan saya, minta diajak main. Dan saya bilang, “bentar ya, satu email lagi.”
“Satu email lagi” itu ternyata 45 menit.
Waktu saya akhirnya tutup laptop, dia sudah tidur.
Dan yang membuat itu lebih terasa menyakitkan bukan karena saya tidak punya waktu. Saya punya waktu. Saya sudah selesai kerja sejak jam lima sore. Tapi pikiran saya masih di laptop, masih di email yang belum selesai, masih di to-do list yang entah mengapa selalu panjang meski sudah diisi sejak pagi.
Hadir secara fisik itu gampang. Hadir secara mental itu yang susah.
Yang Saya Salah Sangka Tentang “Lebih Sedikit Kerja”
Waktu pertama kali saya mulai menargetkan kerja lebih sedikit jam sehari, asumsi saya sederhana: kalau jam kerjanya berkurang, waktu untuk keluarga otomatis naik.
Kenyataannya tidak sesederhana itu.
Yang terjadi justru adalah saya merasa guilty setiap kali tidak kerja, karena ada yang masih belum selesai. Dan guilty itu tidak membiarkan saya benar-benar hadir waktu sama anak. Saya ada di ruang tamu, tapi pikiran saya masih di kerjaan. Saya main Lego sama anak laki-laki saya tapi setengah pikiran saya mikir proposal yang belum selesai.
Mengurangi jam kerja tanpa sistem yang jelas hanya memindahkan kegelisahan ke tempat lain.
Yang Sebenarnya Perlu Berubah
Ada satu prinsip yang saya pelajari, mungkin terlambat tapi lebih baik dari tidak sama sekali: pikiran tidak bisa benar-benar berhenti bekerja kecuali ada kepercayaan bahwa semua yang perlu diselesaikan sudah dicatat dan sudah ada tempatnya.
Ini yang di beberapa sistem produktivitas disebut sebagai “capture” atau “off-loading.” Pikiran kamu tidak akan tenang selama ada hal-hal penting yang masih mengambang di kepala, tidak tertulis, tidak punya waktu yang jelas untuk dikerjakan.
Jadi langkah pertama bukan “kurangi waktu kerja.” Langkah pertama adalah: buat sistem yang memungkinkan kamu benar-benar menutup kerja di waktu yang kamu tentukan, dengan keyakinan bahwa semua yang penting sudah tercatat dan tidak akan hilang.
Komponen yang Saya Coba Terapkan
Blok kerja yang punya batas waktu jelas. Bukan “kerja sampai selesai.” Bukan “nanti kalau sudah senggang.” Kerja dari jam A sampai jam B, dan waktu jam B tiba, tutup semua tab kerjaan, apapun statusnya.
Yang membuat ini bisa dilakukan: di akhir blok kerja itu, ada 10 menit untuk nulis apa yang belum selesai dan kapan akan diselesaikan. Jadi pikiran tidak perlu “mengingat” semua itu semalaman.
Dua hal paling penting yang perlu diselesaikan hari ini. Bukan sepuluh. Bukan semua yang ada di to-do list. Dua. Kalau dua itu selesai, hari itu sudah berhasil, apapun yang lain terjadi. Ini yang sering disebut sebagai prinsip daily highlight.
Satu ritual yang menandai transisi dari “mode kerja” ke “mode Daddy.” Ini terdengar dramatis tapi ternyata efektif. Bisa sesederhana ganti baju, berjalan kaki 10 menit, atau mandi setelah selesai kerja. Ritual itu memberikan sinyal fisik ke otak bahwa konteksnya sudah berubah.
Tidak semua ini langsung bekerja dari hari pertama. Saya butuh beberapa minggu sebelum itu terasa natural. Dan ada hari-hari di mana ritual itu tidak cukup dan pikiran saya masih berkeliaran ke kerjaan. Tapi secara rata-rata, perbedaannya terasa.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Waktu anak perempuan saya pulang sekolah sekarang, ada jendela waktu sekitar 2-3 jam sebelum makan malam di mana saya benar-benar tidak buka laptop. Bukan karena tidak ada yang perlu dikerjakan. Karena ada sistem yang meyakinkan saya bahwa semua yang penting sudah dicatat dan punya tempat.
Dan yang saya temukan: kualitas waktu itu jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Anak saya juga merasakannya, meski mungkin tidak sadar apa yang berubah. Yang berubah adalah saya benar-benar ada di sana, bukan secara fisik saja.
Jujur, saya masih Not A Perfect Daddy soal ini. Ada malam-malam di mana laptop dibuka lagi setelah anak tidur dan berakhir tengah malam. Ada minggu-minggu di mana deadline bikin sistem berantakan. Tapi ada kemajuan yang terasa nyata dari titik saya dua tahun yang lalu.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: sudah mulai mikirin ini dan tahu ada sesuatu yang perlu berubah, tapi belum tahu dari mana mulai. Atau kamu sudah kurangi jam kerja tapi tetap tidak merasa benar-benar hadir waktu sama keluarga.
Mungkin belum waktunya kalau: situasi kerjaan kamu sedang dalam krisis yang memang butuh ekstra jam sekarang. Ada masa-masa di mana beban memang lebih besar dari biasa, dan itu realistis. Yang tidak sehat adalah kalau itu jadi default dan bukan pengecualian.
Untuk Daddy yang Mau Mulai Tapi Tidak Tahu Caranya
Di newsletter Not A Perfect Daddy, saya tulis lebih banyak tentang sistem praktis yang bisa dicoba Daddy yang masih karyawan, termasuk cara membuat batas waktu kerja yang anak istri bisa lihat dan hormati. Kalau mau, masuk ke sini dan saya kirim tiap minggu.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Saya kerja dari rumah dan susah pisah antara waktu kerja dan waktu keluarga. Apa yang bisa dilakukan?
Ini salah satu tantangan terbesar untuk orang yang kerja dari rumah, karena batas fisiknya tidak ada. Yang paling membantu adalah batas yang eksplisit dan dikomunikasikan, bukan hanya diasumsikan. Artinya: anak dan pasangan tahu jam berapa kamu masuk “mode kerja” dan jam berapa kamu selesai. Dan kalau ada yang mengganggu di jam kerja, itu boleh tapi ada konsekuensi waktu kerja memanjang.
Cara lain yang membantu: punya tempat kerja yang spesifik di rumah yang tidak dipakai di luar jam kerja. Kalau kamu kerja di meja makan, selesai kerja kamu juga tidak duduk di sana. Ini memberikan asosiasi ruang yang membantu pikiran beralih konteks.
Bagaimana cara mengajari anak untuk tidak ganggu waktu kerja?
Anak yang lebih besar, sekitar 4-5 tahun ke atas, bisa mulai paham konsep “Daddy lagi kerja” kalau dijelaskan dengan konkret dan konsisten. Yang membantu: tunjukkan secara visual kapan kamu bisa diganggu dan kapan tidak. Beberapa Daddy pakai sistem lampu warna, ada yang pakai papan tulis kecil di pintu. Yang tidak bekerja: bilang “jangan ganggu” tanpa ada alternatif yang jelas kapan mereka boleh minta waktu kamu.
Untuk anak di bawah tiga tahun, itu lebih sulit dan mungkin butuh pasangan yang bisa menjaga di jam kerja kamu. Tidak ada solusi sempurna untuk fase ini.
Apakah Daddy Freedom System bisa diterapkan sambil masih kerja di kantor full-time?
Daddy Freedom System dalam konteks ini lebih ke sistem mental dan rutinitas, bukan hanya soal jam kerja. Prinsipnya bisa diterapkan meski kamu kerja 9-5 di kantor: yang diatur adalah momen transisi waktu pulang, bagaimana kamu masuk ke “mode Daddy” setelah sampai rumah, dan bagaimana kamu melindungi jendela waktu tertentu di malam hari dari notifikasi kerja.
Bagaimana kalau pasangan juga kerja dan kita berdua saling kurang hadir untuk anak?
Ini situasi yang banyak dialami pasangan muda dengan anak kecil, dan tidak ada jawaban yang mudah. Yang sering membantu: bukan coba optimalkan semua waktu sekaligus, tapi cari satu blok waktu per hari yang benar-benar dilindungi bersama, misalnya makan malam tanpa gadget atau 30 menit sebelum tidur anak. Mulai dari yang paling kecil itu dan jaga konsistensinya sebelum coba tambah lebih banyak.
Ini terdengar ideal tapi di pekerjaan saya tidak mungkin punya batas kerja yang kaku. Apa masih relevan?
Relevan, meski implementasinya berbeda. Kalau pekerjaan kamu memang tidak memungkinkan batas jam yang kaku setiap hari, yang bisa dilakukan adalah punya minimum: minimal ada satu atau dua hari dalam seminggu di mana batasnya benar-benar dijaga. Dan di hari-hari di mana tidak bisa, setidaknya ada satu momen per hari yang kamu lindungi untuk anak, meski hanya 20-30 menit.
Hadir untuk anak bukan berarti harus tersedia penuh setiap saat. Artinya mereka tahu ada saat-saat di mana kamu benar-benar ada untuk mereka, dan itu cukup predictable untuk mereka andalkan.

