Jam 10 malam. Anak saya yang besar, sekitar 8 tahun, sudah tidur sejak tadi. Yang kecil, 4 tahun, baru saja berhenti rewel dan akhirnya terlelap juga setelah drama hampir satu jam. Saya duduk di meja kerja, masih pakai baju kantor, dan ada notifikasi chat kerja yang berkedip di pojok layar. Saya lihat jam. Besok harus masuk jam 8. Dan saya baru tersadar, hari ini saya sudah kerja dari jam 8 pagi sampai jam 10 malam, minus 2 jam makan dan mandiin anak, dan dari semua jam itu, tidak ada satu pun yang akan kembali.
Itu bukan momen yang dramatis. Tidak ada yang meledak-ledak. Hanya kesadaran pelan-pelan, kayak air yang meresap, bahwa setiap jam yang saya jual tidak pernah bisa dibeli kembali.
Kebanyakan Daddy yang saya kenal di sekitar saya ada di posisi yang sama. Kerja keras, income lumayan tapi tidak lebih dari cukup, dan waktu untuk anak terasa makin tipis tiap tahunnya. Yang bikin frustrasi bukan karena tidak mau kerja keras. Tapi karena sistem yang kita masuki dari awal, sistem jual waktu per jam, memang didesain supaya kita selalu kurang. Mau naik gaji? Kerja lebih lama. Mau income lebih besar? Ambil lembur. Dan waktu untuk hadir untuk anak? Itu yang terakhir dipertimbangkan.
Yang saya perlahan mulai sadari, dan ini yang ingin saya bagikan di sini, adalah bahwa kebanyakan karyawan punya satu aset yang tidak mereka hitung sama sekali. Ilmu dari pekerjaan sehari-hari yang sudah mereka kumpulkan selama bertahun-tahun. Dan ilmu itu, kalau dikemas dengan benar, bisa dijual berkali-kali tanpa kamu harus hadir setiap saat.
Aset yang Kamu Tidak Sadar Kamu Punya
Saya mau tanya sesuatu yang mungkin terdengar sepele: di kantor atau di lingkaran pertemanan kamu, topik apa yang paling sering orang minta saran ke kamu?
Bisa soal cara kerja Excel yang bikin laporan lebih cepat. Bisa soal cara nego gaji. Bisa soal cara baca laporan keuangan sederhana. Bisa soal cara minta cuti panjang tanpa drama ke atasan. Bisa soal cara urus BPJS untuk anggota keluarga. Bisa soal cara beli saham yang tidak bikin panik setiap minggu. Apa pun itu.
Setiap kali orang datang ke kamu untuk minta saran soal sesuatu dan kamu bisa jawab dengan mudah, bahkan sambil lalu, itu tanda kamu sudah punya pengetahuan yang cukup matang di area itu. Kamu tidak merasa istimewa soal itu karena bagi kamu sudah biasa. Tapi bagi orang yang belum tahu, itu sangat berharga.
Ini yang disebut info product. Bukan kursus mewah dengan studio rekaman dan produksi mahal. Info product paling sederhana adalah pengetahuan yang kamu punya, dikemas dalam format yang mudah dikonsumsi orang lain, dan dijual dengan harga yang masuk akal.
Format yang paling realistis untuk Daddy yang punya waktu terbatas ada tiga, dan ini perbedaan mendasarnya:
| Format | Waktu Buat | Harga Jual | Cocok Kalau |
|---|---|---|---|
| Email course (5-7 email) | 4-8 jam | $17-47 | Mau mulai cepat, topik step-by-step |
| Ebook PDF | 8-15 jam | $27-67 | Mau lebih lengkap, suka menulis |
| Video course | 20-40 jam | $97-297 | Sudah terbukti ada peminatnya, topik butuh visual |
Kalau kamu Daddy yang baru mau mulai dan waktu adalah sumber daya paling langka, email course adalah titik masuk yang paling wajar. 4-8 jam total. Kalau kamu punya 1 jam setiap malam setelah anak tidur, itu berarti dalam satu minggu produk pertama kamu sudah jadi.
Tiga Langkah yang Tidak Butuh Waktu Banyak
Langkah 1: Identifikasi Ilmu yang Orang Rela Bayar
Ini bukan pertanyaan “saya ahli di bidang apa?” Pertanyaan yang lebih berguna adalah: “masalah apa yang paling sering saya bantu orang selesaikan, dan mereka berterima kasih setelah itu?”
Ada dua sinyal yang perlu kamu perhatikan. Pertama, orang datang ke kamu tanpa diminta, bukan sebaliknya. Kalau teman kantor atau tetangga selalu tanya ke kamu soal topik tertentu, itu sinyal organik yang sulit dipalsukan. Kedua, kamu bisa menjelaskannya dalam 30 menit dan orang langsung paham. Artinya ilmu itu sudah terstruktur cukup baik di kepala kamu.
Satu cara yang saya temukan cukup efektif untuk mengeksplor ini: tuliskan 10 hal yang kamu tahu lebih baik dari rata-rata orang di sekitar kamu. Bukan dibandingkan dengan ahli nasional, bukan dibandingkan dengan professor. Dibandingkan dengan orang biasa yang tidak bekerja di bidang yang sama dengan kamu. Dari 10 itu, pilih yang paling spesifik. Semakin spesifik topiknya, semakin mudah menemukan orang yang mau bayar untuk itu.
Langkah 2: Outline 7 Poin Sederhana
Setelah tahu topiknya, buat outline. Bukan buku teks. Bukan kurikulum 100 halaman. Cukup 7 poin: masalah utama orang yang mau kamu bantu, mengapa masalah itu sering tidak terselesaikan dengan cara biasa, lalu 4-5 langkah konkret yang kamu rekomendasikan, dan satu antisipasi kesalahan yang sering terjadi.
Kalau kamu bisa nulis 7 poin itu di Notes atau di kertas dalam 30 menit, itu sudah cukup untuk jadi kerangka email course pertama kamu. Satu email per poin, satu poin per hari, kirim selama 7 hari. Itu model paling sederhana yang bisa langsung jalan.
Langkah 3: Pre-sell Sebelum Bikin
Ini yang paling penting dan paling sering dilewatkan: jangan buang 8-15 jam membuat produk sebelum ada yang mau beli.
Caranya simpel. Buat deskripsi singkat produk yang kamu mau buat, mungkin 3-5 kalimat, dan tanya ke 20-30 orang yang kamu kenal apakah mereka tertarik dengan topik itu. Tidak harus formal. Bisa lewat WhatsApp pribadi, bisa di postingan media sosial, bisa di grup komunitas yang relevan.
Benchmark yang wajar: kalau 20 orang atau lebih tertarik dan beberapa di antaranya mau bayar di muka, lanjutkan dan buat produknya. Kalau kurang dari 10 orang yang menunjukkan minat, itu sinyal untuk mereview ulang topik atau cara kamu jelaskan manfaatnya, bukan untuk langsung menyerah. Ada perbedaan besar antara topik yang tidak menarik dan topik yang cara penyampaiannya belum kena.
Ini yang membuat pendekatan ini berbeda dari cara lama: kamu tidak investasi waktu di muka untuk sesuatu yang belum terbukti. Kamu test dulu, baru eksekusi.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Jujur, saya belum punya satu produk info product yang sudah rampung dan sudah jual ribuan kali. Saya tidak mau klaim yang tidak ada. Tapi saya sudah mulai proses itu, dan yang saya temukan adalah bahwa hambatan terbesarnya bukan waktu, bukan kemampuan teknis, dan bukan modal. Hambatan terbesarnya adalah kita terlalu sering mengecilkan nilai dari apa yang kita tahu.
Saya pernah bantu beberapa orang di sekitar saya soal cara kerja di ranah digital marketing, sesuatu yang sudah jadi keseharian saya. Bagi saya itu biasa, tapi bagi mereka itu terasa seperti membuka pintu yang selama ini terkunci. Dan momen itu yang membuat saya sadar, ilmu yang terasa “biasa saja” di mata saya, bisa sangat berharga bagi orang yang belum ada di titik yang sama.
Yang saya sedang coba bangun sekarang, dengan waktu yang ada, adalah memulai dari yang paling sederhana dulu. Email course dari topik yang paling sering saya jelaskan berulang kali ke orang berbeda. Logikanya simpel: kalau saya sudah jelaskan hal yang sama ke 10 orang secara manual, lebih efisien kalau saya tulis sekali dan orang bisa baca sendiri.
Konteks waktunya: anak saya yang besar biasanya sudah tidur jam 9 malam. Yang kecil paling telat jam 10. Itu artinya ada jendela sekitar 45 menit sampai 1 jam sebelum saya sendiri harus tidur. Setiap malam bukan karena saya mau sacrifice tidur, tapi karena itu waktu yang memang sudah “bebas” dan selama ini sebagian besar habis untuk scroll yang tidak menghasilkan apa-apa. Kalau 1 jam itu dipakai menulis, dalam satu minggu sudah ada satu email. Dalam sebulan, sudah ada draft produk pertama.
Ini bukan Daddy Freedom System yang sudah sempurna. Ini lebih ke, saya sedang membangun pondasinya, pelan-pelan, dengan waktu yang realistis ada.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: sudah kerja minimal 3-5 tahun di satu bidang, punya topik spesifik yang orang sering tanya ke kamu, dan punya sekitar 1 jam per malam setelah anak tidur yang sekarang habis untuk scrolling atau nonton series. Kamu tidak harus sudah punya audiens besar di media sosial, tidak harus sudah pernah buat produk digital sebelumnya. Yang penting ada ilmu yang konkret dan kamu bisa jelaskan dengan jelas.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu masih dalam 1-2 tahun pertama kerja di bidang itu dan belum cukup yakin dengan kedalaman ilmu yang kamu punya, atau kamu sedang dalam masa paling chaotic pasca kelahiran anak, misalnya bayi baru lahir yang waktu tidurnya tidak bisa diprediksi sama sekali. Dalam kondisi itu, energi kamu harus ke hal yang paling penting dulu. Info product bisa nanti. Juga kalau kamu tipe yang belum nyaman dengan konsep menjual sesuatu ke orang lain, itu hambatan yang perlu diselesaikan dulu sebelum soal produknya.
Kalau Kamu Penasaran dan Mau Mulai Eksplorasi
Kalau topik ini nyambung dan kamu mau mulai dari mana, saya sesekali bahas soal income growth realistis untuk Daddy karyawan di newsletter Not A Perfect Daddy. Bukan teori muluk, lebih ke apa yang sedang saya coba dan apa yang saya pelajari dari prosesnya.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Saya bukan expert. Siapa yang mau beli ilmu dari saya?
Ini pertanyaan yang hampir semua orang tanyakan, termasuk saya sendiri awalnya. Dan jawabannya agak kontra-intuitif: kamu tidak harus jadi expert tertinggi di bidang itu. Kamu hanya harus tahu lebih dari target audiens kamu. Kalau kamu bisa bantu seseorang yang baru mulai belajar tentang sesuatu yang kamu sudah kuasai selama 5 tahun, itu sudah cukup untuk jadi dasar produk yang berguna. Orang tidak selalu cari guru dengan gelar paling tinggi, mereka cari orang yang bisa jelaskan hal yang rumit dengan cara yang mudah dipahami. Itu skill yang kebanyakan karyawan berpengalaman sudah punya tanpa mereka sadari.
Berapa target income yang realistis dari info product pertama?
Untuk produk pertama dengan audiens yang masih kecil, target yang realistis di bulan pertama adalah sekitar $500-$1.000 atau setara Rp8 juta-Rp16 juta. Ini asumsi kamu punya setidaknya beberapa ratus orang yang bisa kamu reach, entah lewat media sosial, grup komunitas, atau email list yang mungkin sudah ada. Angka itu bukan angka yang akan mengubah hidup dalam semalam, tapi cukup signifikan sebagai bukti bahwa modelnya bekerja, dan dari sana kamu bisa kembangkan lebih jauh. Bulan-bulan berikutnya tergantung seberapa banyak kamu investasikan ke audiens dan visibility.
Apakah saya harus punya followers banyak dulu di media sosial?
Tidak harus, tapi memang lebih mudah kalau ada. Yang lebih penting dari jumlah followers adalah kualitas koneksi. 200 orang di komunitas WhatsApp yang sudah percaya kamu lebih berharga dari 2.000 followers IG yang tidak tahu siapa kamu. Banyak orang berhasil menjual produk pertama mereka hanya dari jaringan pribadi: mantan rekan kerja, alumni kampus, grup komunitas yang sudah kamu aktif di dalamnya. Mulai dari yang sudah ada dulu, bukan dari zero di platform baru.
Butuh tools apa untuk mulai?
Untuk email course, yang paling sederhana: akun email marketing gratis seperti Mailchimp atau MailerLite, dan platform pembayaran yang bisa terima transfer atau kartu. Untuk ebook PDF, cukup Google Docs dan export ke PDF. Total biaya di bulan pertama bisa nol sampai Rp200rb saja, jauh di bawah kekhawatiran kebanyakan orang. Urusan website, landing page yang indah, atau platform kursus yang canggih bisa datang nanti kalau sudah ada bukti orang mau beli.
Bagaimana cara kerja cerdas, bukan kerja keras, diterapkan di sini?
Konsep kerja cerdas, bukan kerja keras di konteks ini artinya kamu memisahkan antara waktu yang kamu habiskan dan nilai yang kamu hasilkan. Kalau kamu jual jasa konsultasi per jam, setiap rupiah yang masuk butuh 1 jam kamu. Tapi kalau kamu punya email course yang sudah jadi, 1 penjualan tidak butuh waktu kamu sama sekali karena produknya sudah ada. Kamu buat sekali, bisa dijual berkali-kali. Ini bukan berarti tidak ada kerja keras sama sekali di depan, karena ada. Tapi effort di depan itu finite, dan hasilnya bisa berjalan tanpa kehadiran kamu setiap saat. Itu perbedaan yang cukup mendasar dari model karyawan biasa.

