Trust Your Gut: Keputusan Bisnis yang Daddy Takuti
Ada momen di mana otak kamu bilang satu hal dan perasaan kamu bilang yang lain. Dan sering kali, perasaan itu ternyata benar.
Ini bukan artikel tentang ikut impuls tanpa mikir. Itu berbahaya. Ini tentang sesuatu yang sedikit lebih nuanced: kapan pengalaman dan konteks yang kamu miliki membentuk semacam internal GPS yang layak didengarkan.
Anak saya yang besar pernah tanya waktu saya lagi duduk ngelamun di meja kerja. “Daddy kenapa diem aja?” Saya bilang, “Daddy lagi mikir.” Dia duduk sebentar lalu bilang, “Kalau bingung minta Tuhan tanya aja.” Dan pergi main.
Saya ketawa waktu itu. Tapi ada benarnya juga, gitu loh.
Ketika Semua Orang Bilang Jangan Tapi Perut Saya Bilang Ya
Ada keputusan beberapa tahun lalu yang saya buat meski semua orang sekitar saya bilang terlalu cepat.
Saya mau mulai proyek sampingan di tengah masa kerja yang sudah cukup penuh. Ada anak yang masih kecil, ada tanggung jawab yang tidak bisa ditinggal. Dan ada suara dari berbagai arah yang bilang: “Nanti aja”, “Tunggu sampai lebih stabil”, “Ini bukan waktu yang tepat”.
Tapi ada sesuatu yang tidak bisa saya abaikan juga. Bukan ego, bukan nafsu sukses cepat. Lebih seperti… rasa bahwa kalau saya tidak mulai sekarang, tidak akan ada waktu yang terasa “tepat” karena saya akan selalu bisa cari alasan untuk menunggu.
Jadi saya mulai. Dengan cara yang lebih kecil dari yang saya bayangkan, dengan ekspektasi yang lebih rendah, dan dengan komitmen bahwa ini tidak boleh mengambil waktu yang seharusnya untuk keluarga.
Dan itu salah satu keputusan yang saya syukuri. Bukan karena langsung berhasil besar, tapi karena dari sana saya belajar sesuatu yang tidak akan saya pelajari kalau terus menunggu.
Apa yang Membuat Intuisi Layak Dipercaya (dan Kapan Tidak)
Masalah dengan “ikut intuisi” adalah kalimat itu sering dipakai untuk justify keputusan impulsif yang sebetulnya hanya menghindari pekerjaan yang tidak nyaman.
Intuisi yang valid itu berbeda. Ini adalah pattern recognition yang bekerja cepat karena kamu sudah punya cukup konteks dan pengalaman di area itu. Waktu kamu lihat suatu situasi dan langsung punya perasaan kuat tentang arah yang tepat, itu bisa jadi instinct yang terinformasi, bukan asal tebak.
Tapi intuisi yang tidak valid itu biasanya rasa takut yang berdandan sebagai “perasaan” atau keinginan untuk ambil jalan pintas yang terasa seperti “sudah saatnya”. Perbedaannya ada di pertanyaan ini: apakah perasaan ini muncul dari pengalaman nyata atau dari keinginan untuk menghindari sesuatu?
Kalau jawabannya adalah dari keinginan untuk menghindari sesuatu, itu bukan intuisi yang perlu diikuti. Itu adalah kenyamanan yang menyamar.
Tiga Pertanyaan Sebelum Ikut Instinct
Saya tidak langsung ikut perasaan untuk keputusan yang besar. Tapi saya juga tidak mengabaikannya. Ada 3 pertanyaan yang saya tanya ke diri sendiri:
Apakah perasaan ini muncul dari pengalaman, atau ini wishful thinking? Kalau saya sudah pernah di situasi serupa dan punya track record pengambilan keputusan yang reasonably baik, instinct saya di sini lebih layak dipercaya. Kalau ini situasi yang sama sekali baru, saya perlu lebih banyak input dari luar.
Apa yang paling buruk yang bisa terjadi kalau saya ikut perasaan ini dan ternyata salah? Kalau jawabannya adalah kehilangan waktu atau uang yang masih dalam batas yang bisa saya kelola, risikonya acceptable. Kalau jawabannya adalah sesuatu yang tidak bisa di-undo, perlu lebih banyak analisa dulu.
Apakah ada data yang tersedia yang bisa saya cek sebelum putuskan? Kalau ada, cek dulu. Intuisi paling berguna ketika data tidak tersedia atau ketika keputusannya terlalu kompleks untuk dianalisa penuh. Kalau ada keyword research yang bisa kasih saya angka pencarian dalam 5 menit, saya cek itu dulu sebelum ikut perasaan bahwa “topik ini pasti ada yang cari”.
Do It Afraid: Beda dengan Nekat
Ada satu prinsip yang saya pegang dari framework yang saya pelajari belakangan ini: do it afraid. Artinya: lakukan, bahkan ketika takut. Post konten itu, launch produk itu, ceritakan kisah itu.
Tapi ini bukan berarti nekat tanpa pertimbangan. Ini lebih tentang tidak menunggu rasa takut itu hilang dulu sebelum bertindak, karena rasa takut hampir tidak pernah hilang sendiri. Kamu action duluan, dan rasa takut menyusut setelahnya.
Yang saya alami sendiri: setiap kali ada momen pertama yang takut, apakah itu publish artikel pertama, kirim penawaran pertama, atau announce produk ke orang yang belum pernah kenal saya, rasa takut itu ada. Dan saya action anyway. Dan hampir selalu, hasilnya tidak seburuk yang dibayangkan.
Ini yang membedakan “do it afraid” dari nekat: ada pertimbangan yang sudah dilakukan, ada persiapan yang masuk akal, dan ada keputusan untuk action meski rasa takut itu masih ada. Bukan action tanpa berpikir sama sekali.
Presence, Focus, Gratitude: Tiga Pilar yang Ternyata Bukan Klise
Waktu pertama kali saya dengar ini, jujur terdengar seperti motivasi poster dinding. Tapi ternyata ada substansi di baliknya.
Presence untuk Daddy konkretnya ini: kalau kamu lagi kerja, kerja sungguhan, bukan sambil setengah pikiran di tempat lain. Kalau kamu lagi main sama anak, hadir sepenuhnya, bukan sambil cek HP tiap 3 menit. Switching context itu mahal secara energi, dan Daddy yang waktunya terbatas tidak bisa afford pemborosan energi ini.
Focus artinya tahu apa yang paling penting untuk dikerjakan hari ini dan mulai dari sana, bukan dari yang paling mudah atau paling menyenangkan. Untuk yang sedang bangun produk digital dalam 2-4 jam kerja per hari, focus berarti melindungi waktu itu dari hal-hal yang terasa urgent tapi tidak benar-benar penting.
Gratitude ini yang paling sering terdengar klise tapi ternyata punya efek nyata yang bisa saya rasakan. Bukan tentang pura-pura semua baik-baik saja. Tapi tentang secara aktif notice apa yang sudah berjalan dengan baik, bahkan dalam hari yang berat. Ini bukan toxic positivity, ini adalah cara untuk menjaga momentum mental supaya tidak habis di rasa kecewa tentang apa yang belum ada.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Saya masih tidak selalu tau kapan harus ikut instinct dan kapan harus lebih analitis. Itu jujur.
Tapi yang sudah saya pelajari: keputusan yang paling saya sesali bukan yang ternyata salah setelah dicoba. Keputusan yang paling saya sesali adalah yang tidak pernah saya ambil karena menunggu terlalu lama untuk merasa yakin.
Dan sebagai Daddy yang juga lagi belajar ini semua, saya lebih nyaman sekarang dengan ketidaksempurnaan proses pengambilan keputusan. Yang penting: saya tidak membuat keputusan besar tanpa pertimbangan, tapi juga tidak membiarkan overthinking jadi alasan untuk tidak mulai.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: Sering punya perasaan kuat tentang satu arah tapi terus mengabaikannya karena tidak ada yang support atau karena kelihatannya bertentangan dengan “cara yang benar”.
Mungkin belum waktunya kalau: Kamu baru masuk ke satu bidang atau situasi yang sama sekali belum punya konteks, karena intuisi yang belum terinformasi itu tidak jauh berbeda dari tebakan.
Untuk Keputusan yang Lebih Besar
Kalau kamu sedang di titik di mana ada keputusan yang mau diambil dan butuh lebih banyak perspektif, newsletter Not A Perfect Daddy kadang menjadi tempat saya share proses pengambilan keputusan yang lebih panjang dan personal. Masuk kalau mau ikut.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy ->
Pertanyaan yang Sering Muncul
Bagaimana kalau orang yang paling saya percaya (pasangan, orang tua) tidak setuju dengan instinct saya?
Ini yang perlu dibedakan: apakah mereka tidak setuju karena mereka punya informasi atau perspektif yang kamu tidak punya, atau karena mereka khawatir secara general dan itu adalah bentuk perhatian? Dua-duanya valid tapi perlu direspons berbeda. Yang pertama: dengarkan dengan serius. Yang kedua: dengarkan, apresiasi, tapi keputusan tetap ada di kamu.
Apakah Kristen dan spiritualitas relevan untuk keputusan bisnis?
Untuk saya, iman itu jadi semacam anchor terutama di momen ketika analisa sudah habis dan saya masih tidak tau. Bukan berarti saya minta tanda ajaib sebelum setiap keputusan. Tapi ada ketenangan yang datang dari percaya bahwa ada yang lebih besar yang pegang gambaran besarnya, dan itu meringankan tekanan untuk harus selalu sempurna dalam setiap keputusan.
Bagaimana kalau setelah ikut instinct ternyata keputusan itu salah?
Itu akan terjadi. Bukan soal apakah tapi kapan. Yang perlu disiapkan: pastikan kalau salah, itu tidak menghancurkan sesuatu yang tidak bisa dipulihkan. Dan kalau sudah salah, fokus bukan ke menyesali tapi ke apa yang bisa dipelajari dari sana. Keputusan yang salah dan kamu belajar dari itu jauh lebih berharga dari tidak mengambil keputusan sama sekali.
Satu hal terakhir: anak saya yang 8 tahun tidak akan ingat keputusan bisnis mana yang benar dan mana yang salah. Yang akan dia ingat adalah apakah Daddy hadir, apakah Daddy tertawa sama dia, dan apakah Daddy kelihatan hidup dengan cara yang dia percaya. Itu tolok ukur yang lebih penting dari apapun.

