Saya masih ingat betul malam itu. Anak saya yang besar, dia kelas 2 SD waktu itu, nanya satu pertanyaan yang saya tidak sangka: “Daddy, kenapa kadang kelihatan jauh padahal lagi di rumah?”

Itu bukan pertanyaan yang mudah dijawab. Dan saya tidak menjawabnya dengan baik malam itu. Saya bilang “Daddy lagi pikiran kerja, Kak” dan ganti topik.

Tapi pertanyaan itu tidak hilang dari kepala saya. Terus muter. Dan saya tidak punya ruang untuk memprosesnya, karena kepala saya sudah penuh dengan hal lain yang juga belum terselesaikan.

Waktu itulah saya pertama kali mulai jurnal dengan serius. Bukan karena saya suka nulis. Tapi karena kepala saya butuh tempat untuk dikosongin.

Apa yang Salah dari Cara Journaling yang Kebanyakan Orang Bayangkan

Ada gambaran journaling yang bikin banyak orang tidak pernah mulai: nulis panjang, introspektif, puitis, seperti diary masa remaja. Atau yang versi lain: morning pages tiga halaman tanpa henti setiap pagi, 45 menit minimum.

Keduanya bukan standar yang harus kamu ikuti kalau kamu Daddy karyawan yang waktu paginya sudah penuh dengan rutinitas anak.

Journaling yang berguna untuk Daddy yang sibuk bukan tentang panjangnya. Bukan tentang elegannya tulisan. Ini tentang mengosongkan kepala dan menemukan apa yang sebetulnya sedang kamu pikirkan.

Dan yang lebih penting dari menulisnya: memprosesnya.

Cara Journaling yang Saya Temukan Benar-benar Berhasil

Bagian Pertama: Dump Dulu, Rapikan Nanti

Waktu kamu duduk untuk jurnal, tujuan utama bukan menghasilkan tulisan yang bagus. Tujuannya adalah mengeluarkan apapun yang ada di kepala ke halaman atau layar.

Mulai dari yang paling banyak minta perhatian kepala kamu hari itu. Bisa tentang kerja, bisa tentang anak, bisa tentang sesuatu yang belum diputuskan. Tulis saja. Tidak perlu urut, tidak perlu logis, tidak perlu lengkap kalimatnya.

Waktu yang saya butuhkan untuk ini: sekitar 10-12 menit kalau sedang banyak yang muter di kepala. Kadang lebih pendek. Saya tidak punya target halaman atau jumlah kata. Selesai kalau kepala terasa lebih ringan.

Bagian Kedua: Review Sekali Seminggu

Ini yang membedakan jurnal yang berguna dari jurnal yang hanya jadi tempat sampah digital.

Satu kali seminggu, sisihkan 15-20 menit untuk baca ulang jurnal minggu itu. Bukan untuk editing, bukan untuk menilai tulisanmu. Tapi untuk cari:

Ide yang muncul lebih dari sekali. Kalau satu ide atau satu pertanyaan muncul di tiga hari berbeda, itu tanda otak kamu sedang menganggap itu penting. Angkat ide itu ke Raw Ideas folder kamu untuk diproses.

Keputusan yang terus ditunda. Sering kita tahu apa yang perlu diputuskan tapi terus diundur karena tidak ada waktu untuk duduk dan benar-benar memutuskan. Jurnal sering mengungkap ini lebih jelas daripada yang kita sadari.

Pola emosi atau situasi. Kalau kamu lihat kamu nulis tentang capek dan frustrasi di 4 dari 7 hari, itu bukan sekadar bad week. Itu signal yang perlu direspon.

Bagian Ketiga: Extract yang Bisa Dieksekusi

Dari review mingguan itu, extract 2-3 hal yang mau kamu tindaklanjuti. Bisa berupa ide yang dipindah ke Raw Ideas. Bisa berupa satu keputusan yang akhirnya kamu buat. Bisa berupa satu perubahan kecil dalam rutinitas.

Yang penting: jangan biarkan jurnal jadi tempat menulis yang tidak pernah menghasilkan aksi apapun. Tulisan tanpa tindakan adalah hiburan, bukan tools untuk berkembang.

Yang Paling Saya Dapatkan dari Jurnal

Jawaban untuk pertanyaan anak saya itu tidak datang malam itu juga. Tapi beberapa minggu kemudian, waktu saya baca ulang jurnal-jurnal saya, saya temukan pola yang saya tidak sadar sebelumnya.

Saya lebih sering hadir secara fisik tapi tidak hadir secara mental waktu kepala saya penuh dengan hal-hal kerja yang belum selesai. Dan kepala saya penuh bukan karena banyak kerja, tapi karena tidak punya tempat untuk taruh hal-hal yang belum terputuskan itu.

Jurnal jadi tempat itu. Bukan solusi yang seketika, tapi proses yang pelan-pelan bikin saya lebih sadar: kapan saya lagi hadir untuk anak, dan kapan saya hanya ada secara fisik saja.

Ini yang artinya Not A Perfect Daddy buat saya. Bukan soal jadi sempurna. Tapi soal mau jujur sama diri sendiri tentang di mana sebetulnya saya berada, supaya bisa satu langkah lebih jauh dari sana.

Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya

Jadwal jurnal saya tidak konsisten. Jujur. Ada minggu di mana saya jurnal hampir tiap hari. Ada minggu di mana tidak sama sekali karena banyak hal lain yang terjadi.

Yang saya jaga adalah review mingguan. Itu yang tidak saya skip kalau bisa. Sabtu pagi, sebelum anak bangun, sekitar 15-20 menit. Baca ulang jurnal seminggu, cari pola, extract yang perlu dieksekusi atau dipindah ke sistem catatan yang lain.

Dari sana saya sering dapat ide konten, keputusan yang akhirnya bisa saya buat setelah lama nggantung, atau insight kecil tentang cara saya bereaksi terhadap sesuatu yang ternyata perlu saya perhatikan lebih.

Saya tidak bisa bilang ini mengubah hidup secara dramatis. Tapi ini adalah salah satu kebiasaan yang kalau saya skip terlalu lama, saya mulai merasakan bedanya: kepala lebih penuh, keputusan lebih lambat, dan waktu bersama keluarga terasa lebih banyak yang mengganggu dari dalam kepala sendiri.

Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?

Cocok kalau kamu: sering merasa kepala penuh dengan banyak hal yang belum selesai. Kamu seorang Daddy yang kadang fisiknya di rumah tapi pikirannya masih di kantor. Kamu butuh cara untuk proses keputusan-keputusan yang tertunda tanpa harus punya partner diskusi setiap kali.

Mungkin belum waktunya kalau: kamu sedang di titik di mana bahkan tidur cukup saja sulit. Dalam kondisi itu, tambah kebiasaan baru bisa jadi beban tambahan yang tidak perlu. Prioritaskan dulu yang lebih fundamental: tidur dan istirahat yang cukup.

Mau Saya Kirim Template Jurnal untuk Daddy?

Saya punya format jurnal sederhana yang saya pakai sendiri. Bukan format yang panjang atau rumit, tapi cukup untuk memulai dan konsisten. Kalau mau saya kirim langsung ke email kamu, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini.

Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy ->

Pertanyaan yang Sering Muncul

Saya sudah pernah coba jurnal tapi selalu berhenti setelah 2 minggu. Bagaimana supaya konsisten?

Yang paling sering bikin berhenti adalah ekspektasi terlalu tinggi di awal: harus setiap hari, harus panjang, harus insightful. Turunkan bar-nya. Targetkan 3 kali seminggu dulu, dan minimumnya hanya 5 menit, bukan 30 menit. Kalau kamu bisa konsisten 3 bulan dengan standar yang lebih rendah, lebih baik daripada 2 minggu dengan standar tinggi lalu berhenti.

Apakah ada topik tertentu yang sebaiknya ditulis dalam jurnal Daddy?

Tidak ada aturan keras. Tapi yang sering berguna untuk saya: apa yang menghabiskan paling banyak energi mental hari ini, apa yang belum diputuskan dan perlu diputuskan, dan momen bersama anak atau keluarga yang perlu saya catat sebelum terlupakan. Tiga hal itu sudah cukup untuk satu sesi jurnal yang berguna.

Bagaimana kalau saya tidak suka nulis? Apakah jurnal bisa dalam bentuk voice note?

Bisa. Voice memo jurnal itu valid. Kamu ngomong apa yang ada di kepala, simpan, review seminggu sekali dengan mendengarkan ulang. Satu catatan: waktu review, kamu mungkin butuh transkripsi untuk lebih mudah menemukan pola. Tools seperti Otter.ai bisa bantu untuk ini.

Apakah jurnal pribadi ini perlu disinkronkan dengan second brain atau sistem catatan yang lain?

Tidak harus dijaga terpisah, tapi tidak harus juga dicampur sepenuhnya. Yang paling penting adalah: extract output yang berguna dari jurnal ke sistem yang kamu pakai untuk kerja dan ide. Raw journal-nya sendiri bisa tetap terpisah, hanya untuk kamu dan tidak perlu dirapikan untuk dibaca orang lain.

Anak saya sudah bertanya kenapa Daddy sering kelihatan jauh meski di rumah. Apa yang perlu saya lakukan?

Itu pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur dan sesuai usia anak. Untuk anak yang lebih kecil, cukup bilang: “Daddy lagi mikirin sesuatu, Daddy minta maaf ya.” Untuk yang lebih besar, kamu bisa lebih jujur: bahwa kepala orang dewasa kadang penuh dengan banyak hal, dan Daddy sedang belajar supaya waktu bersama keluarga bisa benar-benar hadir. Anak-anak lebih mengerti kejujuran daripada yang kita pikir.