Saya ingat betul momen itu. Anak pertama saya baru berumur 8 bulan, dan dalam satu minggu saya dapat saran yang saling bertentangan dari tiga orang yang berbeda. Ibu saya bilang, “Jangan biasakan digendong terus, nanti manja.” Istri saya bilang, “Justru harus banyak digendong, itu penting untuk bonding.” Dan seorang teman yang baca buku parenting bilang, “Yang paling penting adalah struktur jadwal tidur yang konsisten.”
Ketiga orang ini peduli. Ketiga orang ini bicara dari pengalaman atau dari bacaan mereka. Dan ketiga orang ini bilang hal yang berbeda.
Saya waktu itu tidak tahu harus percaya yang mana. Dan saya kira banyak Daddy di posisi yang sama, terutama yang baru punya anak, yang masih belajar, yang hidupnya sudah penuh dengan tekanan kerja dan sekarang ditambah tanggung jawab jadi orang tua.
Masalahnya Bukan Siapa yang Benar
Sini saya jujur: kebanyakan saran yang beredar bukan salah. Tapi juga bukan otomatis benar untuk situasi kamu.
Saran populer itu sifatnya rata-rata. Dibuat untuk kondisi rata-rata, untuk orang dengan konteks rata-rata, dengan anak yang “rata-rata”. Tapi anak kamu bukan rata-rata. Situasi rumah tangga kamu bukan rata-rata. Jam kerjamu, kondisi finansialmu, cara komunikasi kamu dengan istri, semua itu spesifik untuk kamu.
Yang jadi masalah adalah ketika kita menerima saran populer tanpa mempertanyakannya. Bukan karena kita tidak kritis, tapi karena waktu kita habis. Kita capek. Lebih mudah mengikuti yang mayoritas bilang daripada berpikir sendiri di tengah kondisi yang sudah mepet energinya.
Nah, ini yang saya pelajari setelah punya dua anak: ada cara untuk menyaring saran tanpa harus jadi orang yang selalu skeptis atau selalu melawan. Tidak butuh waktu lama. Hanya butuh satu pertanyaan yang tepat.
Cara Menyaring Saran yang Beredar
Pertanyaan pertama: ini bukti atau opini?
Ini bedanya besar. Opini adalah “menurut saya, anak harus tidur jam 8 malam karena itu yang terbaik.” Bukti adalah “penelitian dari 400 anak menunjukkan anak yang tidur lebih dari 10 jam punya konsentrasi yang lebih baik di usia sekolah.”
Masalahnya, dalam percakapan sehari-hari, dua-duanya terdengar sama. Sama-sama disampaikan dengan keyakinan. Sama-sama kadang dilengkapi dengan contoh satu-dua orang yang “berhasil.”
Kalau ada yang kasih saran, coba tanya dalam hati: ada polanya tidak? Bukan satu orang, tapi apakah ini terjadi secara berulang di banyak kasus? Kalau kamu tidak tahu jawabannya, itu bukan alasan untuk tidak mengikuti sarannya, tapi itu alasan untuk tidak menganggapnya sebagai kebenaran mutlak.
Langkah kedua: cari yang berpendapat sebaliknya
Ini yang saya mulai biasakan, dan cukup mengubah cara saya melihat topik apapun. Setelah membaca atau mendengar satu pendapat, saya cari siapa yang tidak setuju dan kenapa.
Bukan untuk cari pertengkaran atau bikin drama. Tapi karena saya sadar bahwa hampir tidak ada topik dalam parenting atau produktivitas yang hitam-putih. Kalau ada orang yang sangat yakin dengan satu cara dan tidak mau mendengar sudut pandang lain, itu justru tanda bahwa mereka mungkin belum betul-betul menguji ide mereka sendiri.
Misalnya, soal screen time anak. Pendapat populer: screen time buruk, batasi seketat mungkin. Tapi ada juga peneliti yang bilang konteks screen time lebih penting dari durasinya, bahwa nonton video edukasi bersama orang tua punya dampak berbeda dari nonton sendiri.
Dua-duanya punya dasar. Dua-duanya juga punya batas. Dan kalau kamu hanya dengar satu sisi, kamu akan kebingungan kenapa sarannya kadang tidak cocok dengan situasi nyata di rumahmu.
Langkah ketiga: coba dulu, baru simpulkan
Ini yang sering dilewati karena terasa lama. Orang lebih suka dengar “ini terbukti berhasil” daripada “ini mungkin berhasil, coba dulu 6 minggu dan lihat hasilnya.”
Tapi dalam konteks Daddy dengan waktu terbatas, ini justru lebih efisien. Daripada debat panjang tentang metode sleep training mana yang terbaik, pilih satu yang masuk akal untuk situasi kamu, coba 3-4 minggu, dan ukur hasilnya. Kalau tidak berhasil, ganti. Kalau berhasil, simpan.
Ini bukan berarti kamu tidak serius. Ini berarti kamu memperlakukan parenting dan sistem kerja kamu sebagai sesuatu yang terus-menerus disempurnakan, bukan sebagai formula yang sekali diikuti, selesai.
Kenapa Ini Bukan Soal Selalu Melawan Arus
Saya tidak bilang semua saran populer salah. Banyak yang benar, dan memang bertahan lama karena memang terbukti berguna untuk banyak orang.
Yang saya bilang adalah ini: menerima satu ide hanya karena banyak orang mempercayainya bukan alasan yang cukup. Kamu perlu tahu kenapa itu berlaku, dalam konteks apa, dan apakah konteks itu cocok dengan hidupmu sekarang.
Saya sendiri sudah cukup lama jatuh ke dalam pola ini, terutama soal cara kerja. Bertahun-tahun saya ikuti saran populer tentang produktivitas: buat to-do list panjang, kerja lebih keras, optimalkan setiap menit. Dan itu memang bekerja untuk menghasilkan output lebih banyak, tapi tidak bekerja untuk menghasilkan waktu yang lebih berkualitas bersama anak.
Waktu saya mulai mempertanyakan itu dan coba sistem yang berbeda, justru saya bisa kerja lebih sedikit jam tapi tetap produktif. Dan bisa lebih hadir untuk anak, bukan hanya secara fisik tapi juga secara mental.
Tapi saya butuh waktu untuk sampai ke sana. Bukan karena saya lambat. Tapi karena saya pertama harus berani bilang, “saran yang populer ini mungkin tidak cocok untuk saya.”
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Sekarang setiap kali saya dengar saran tentang parenting atau cara kerja, saya pakai satu filter sederhana: ada contoh konkretnya tidak, dan apakah konteksnya mirip dengan situasi saya?
Kalau ada yang bilang “kamu harus mulai kerja jam 5 pagi untuk bisa lebih produktif” tapi konteksnya adalah orang yang belum punya anak dan bisa tidur jam 9 malam, ya saya tidak langsung ikuti. Bukan karena sarannya salah, tapi karena kondisi saya berbeda.
Ini terdengar simpel, tapi perlu waktu untuk biasain diri tidak merasa bersalah karena tidak mengikuti saran populer. Ada guilty feeling yang cukup nyata, terutama soal parenting, ketika kamu pilih pendekatan yang berbeda dari mayoritas.
Yang saya temukan: rasa bersalah itu biasanya berkurang drastis ketika kamu punya alasan yang jelas untuk pilihan kamu. Bukan alasan defensif, tapi alasan yang kamu sendiri percaya karena sudah kamu pikirkan.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: Daddy yang sering dapat saran dari banyak arah dan bingung mana yang harus diikuti. Atau kamu yang sudah coba beberapa pendekatan populer tapi hasilnya tidak sesuai ekspektasi dan tidak tahu kenapa.
Mungkin belum waktunya kalau: Kamu baru sekali mencoba satu pendekatan dan langsung mau menyimpulkan bahwa pendekatan itu salah. Menyaring saran butuh waktu eksperimen yang cukup, minimal beberapa minggu, sebelum kamu bisa menarik kesimpulan yang berguna.
Kalau kamu mau latihan menyaring informasi lebih sistematis
Topik ini, cara membangun cara berpikir sendiri tanpa terbawa arus saran yang saling bertentangan, sering saya bahas di newsletter Not A Perfect Daddy. Bukan saran yang sempurna, tapi saran yang sudah saya saring sendiri dari pengalaman jadi ayah yang juga masih belajar.
Kalau mau saya kirim pemikiran seperti ini langsung ke email kamu, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini — gratis, dan saya kirim tiap minggu.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Kalau istri dan saya tidak setuju tentang pendekatan parenting, bagaimana cara memutuskannya?
Ini lebih sering terjadi dari yang kita kira, dan tidak ada jawaban yang universal. Yang biasanya berhasil adalah: pertama, setuju dulu bahwa kamu berdua ingin yang terbaik untuk anak, tapi “terbaik” bisa kelihatan berbeda dari dua perspektif. Kedua, coba cari data atau pengalaman dari keluarga lain yang konteksnya mirip dengan kamu, bukan hanya dari buku atau artikel. Ketiga, coba satu pendekatan selama beberapa minggu, ukur bersama, dan diskusikan hasilnya. Proses ini lebih produktif daripada debat teoritis yang tidak berujung.
Apakah mempertanyakan saran populer berarti saya tidak menghargai pengalaman orang yang lebih tua?
Tidak. Menghargai pengalaman seseorang tidak berarti kamu harus mengikuti semua sarannya. Konteks zaman berubah, penelitian berkembang, dan situasi tiap keluarga berbeda. Kamu bisa sangat menghargai seseorang sekaligus memilih pendekatan yang berbeda dari yang mereka rekomendasikan. Yang penting adalah cara kamu menyampaikannya, bukan pilihannya sendiri.
Bagaimana cara ini diterapkan untuk soal produktivitas kerja, bukan hanya parenting?
Caranya sama. Setiap kali ada sistem produktivitas yang lagi populer, tanya dulu: ini dirancang untuk siapa? Konteksnya apa? Kalau sistem itu dirancang untuk orang yang bekerja 8-10 jam penuh tanpa interupsi, tapi kamu punya anak kecil dan waktu kerja efektif kamu hanya 2-4 jam sehari, kamu perlu menyesuaikan sistemnya, bukan menyesuaikan hidupmu ke sistemnya.
Ini tidak bikin saya jadi orang yang tidak bisa diajak kerja sama?
Justru sebaliknya. Orang yang punya cara berpikir yang jelas dan bisa menjelaskan alasannya biasanya lebih mudah diajak diskusi, karena mereka tahu apa yang mereka percayai dan kenapa. Yang susah diajak diskusi adalah orang yang mengikuti sesuatu karena kebiasaan atau tekanan sosial, tanpa benar-benar tahu alasannya.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai pada cara berpikir ini?
Ini bukan seperti belajar skill teknis yang ada angka pastinya. Satu langkah lebih jauh yang paling mudah adalah mulai dengan satu topik yang kamu paling sering dengar sarannya. Coba terapkan satu filter sederhana: “ada buktinya tidak?” Itu saja dulu. Kalau sudah biasa dengan satu topik, nanti dengan sendirinya kamu akan terapkan ke topik lain juga.

