Kenapa Anak Saya Lebih Dekat ke Ibunya, dan Apa yang Saya Lakukan

Saya inget betul satu momen yang cukup bikin saya diam cukup lama setelahnya.

Sore itu saya baru selesai kerja, laptop sudah tutup, dan saya pikir ini saatnya main sama anak. Saya masuk kamar, manggil nama anak laki saya yang waktu itu baru mau 4 tahun. Dia lagi main sama istri saya. Saya panggil. Dia lihat saya sebentar, terus balik lagi ke arah mamanya.

Istri saya ketawa kecil. Tapi saya gak ketawa.

Bukan lebay, gak ada drama. Tapi ada sesuatu yang terasa. Semacam kenyataan kecil yang selama ini tidak mau saya perhatiin terlalu dalam, dan malam itu tiba-tiba jadi sangat nyata.

Anak saya lebih pilih mamanya.


Ini Lebih Umum dari yang Saya Kira

Kalau kamu Daddy karyawan yang kerja seharian, pulang malam, dan waktu di rumah lebih banyak habis buat istirahat atau beresin kerjaan sisa, situasi ini kemungkinan besar bukan asing.

Saya pelajari ini dari karya Dr. Daniel Amen, seorang psikiater yang banyak nulis soal kesehatan otak dan hubungan keluarga. Salah satu yang dia bahas: kenapa banyak ayah kehilangan pengaruh ke anak mereka, padahal secara finansial mereka hadir, bahkan lebih dari cukup.

Dan jawabannya sederhana dan cukup menyakitkan. Bukan soal uang. Bukan soal waktu. Tapi soal koneksi.

Dr. Amen bilang: no connection, no influence. Kalau koneksi tidak ada, anak tidak akan mengikuti nilai-nilai kamu. Mereka akan mengikuti nilai dari teman-teman mereka, dari media yang mereka konsumsi, atau dari siapapun yang lebih “hadir” untuk mereka secara emosional.

Waktu saya baca ini pertama kali, saya langsung inget momen malam itu.


Relational Bank: Konsep yang Mengubah Cara Saya Lihat Waktu dengan Anak

Ini mungkin salah satu mental model paling praktis yang pernah saya temukan soal hubungan ayah dan anak.

Bayangkan ada sebuah rekening tabungan yang namanya relational bank. Setiap kali kamu hadir secara penuh untuk anak, setiap kali kamu dengarkan dia, setiap kali kamu ikut dalam dunianya, kamu setor ke rekening itu. Dan setiap kali kamu abai, sibuk sendiri, atau reaktif, kamu tarik dari rekening itu.

Yang penting: kamu tidak bisa menarik lebih banyak dari yang sudah kamu setor.

Dan poinnya lebih jauh dari itu. Dr. Amen bilang, tabungan relational ini paling penting untuk dibangun sekarang, sebelum anak masuk remaja. Karena ketika anak sudah remaja dan mulai banyak tekanan dari teman, dari dunia luar, dari media sosial, saat itulah kamu butuh kredit. Kamu butuh rekening relational yang cukup untuk mereka tetap mau dengerin kamu, mau cerita ke kamu, mau cari kamu di saat susah.

Kalau rekening itu kosong waktu mereka remaja? Mereka cari tempat lain.

Dan saya sadar, waktu anak saya pilih mamanya malam itu, itu bukan accident. Itu cerminan dari siapa yang lebih sering nyetor ke rekening mereka.


Special Time: Cara Paling Langsung untuk Setor ke Rekening

Ini yang Dr. Amen rekomendasikan, dan ini yang akhirnya saya coba sendiri: 20 menit special time per hari.

Aturannya sederhana tapi ternyata tidak semudah kedengarannya.

Kamu duduk sama anak. Kamu bilang, “Ini waktu kamu. Mau ngapain?” Dan kamu ikuti apapun yang dia mau lakukan, selama 20 menit penuh.

Tiga aturan keras yang harus kamu pegang selama 20 menit itu:

Tidak boleh ada perintah. Jangan bilang “jangan gitu”, “coba ini dulu”, “ini caranya salah”.

Tidak boleh ada pertanyaan. Saya tahu ini aneh kedengarannya, tapi pertanyaan pun bisa terasa seperti kamu mengarahkan. “Mau coba yang itu gak?” itu tetap pertanyaan.

Tidak boleh ada arahan. Biarkan anak yang memimpin. Kalau dia curang saat main, ikuti aturannya selama 20 menit itu.

Saya pertama kali dengar ini saya langsung pikir, “Ini terlalu simpel.” Tapi waktu saya coba pertama kalinya dengan anak laki saya, 20 menit itu terasa jauh lebih berat dari yang saya bayangkan. Saya sadar betapa sering saya refleks memberikan komentar, pertanyaan, atau arahan tanpa sadar.

Dan yang lebih menarik: di minggu kedua dan ketiga, saya mulai notice sesuatu. Anak saya mulai cari saya lebih sering. Bukan drama, tidak tiba-tiba berubah 180 derajat. Tapi ada sesuatu yang bergeser.


Active Listening: Yang Lebih Dari Sekadar Diam

Ini bagian yang saya pikir banyak ayah, termasuk saya, sering underestimate.

Kita pikir mendengarkan itu artinya kita diam dan tidak interupsi. Tapi active listening yang Dr. Amen maksud lebih dari itu.

Ada tiga langkah konkretnya:

Ulangi kembali apa yang kamu dengar. Bukan paraphrase dengan koreksi, tapi ulangi dengan kata-kata yang dekat. Ini memberi sinyal ke anak bahwa kamu benar-benar menyimak, bukan hanya menunggu giliran ngomong.

Diam cukup lama setelahnya. Ini yang susah. Kita terbiasa mengisi keheningan dengan solusi atau komentar. Tapi keheningan itu ruang untuk anak melanjutkan, untuk mengeluarkan apa yang sebenarnya ingin dia ungkapkan.

Dengarkan perasaan di balik kata-katanya. Sering kali apa yang anak katakan bukan isu sebenarnya. Ada perasaan di baliknya.

Dr. Amen punya contoh yang cukup bagus. Seorang anak bilang dia mau rambut warna biru. Respons reaktif kebanyakan ayah: “Gak boleh, nanti jadi pusat perhatian”, “Gak pantas”, langsung debat. Dan diskusi jadi pertarungan.

Active listening: “Oh, kedengarannya kamu mau coba rambut warna biru?” Terus diam.

Anak itu kemudian cerita lebih panjang. Dan akhirnya keluar kalimat yang sebenarnya: “Kadang aku merasa gak nyambung sama teman-teman.”

Itu percakapan yang berbeda sama sekali. Dan percakapan itu tidak akan terjadi kalau kamu langsung masuk ke mode reaktif.


Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya

Jujur, saya tidak langsung sempurna menerapkan ini. Masih ada hari-hari di mana saya masuk kamar dan pikiran saya masih setengah di kerjaan.

Tapi yang berubah adalah saya sekarang punya kerangka yang jelas. Kalau saya lihat anak saya mulai renggang atau lebih banyak cari mamanya, saya tahu itu sinyal: rekening relational bank lagi tipis.

Saya bukan tipe yang menghitung-hitung waktu dengan anak dalam spreadsheet. Tapi 20 menit special time itu sudah jadi semacam patokan untuk diri saya sendiri. Kalau sehari tidak ada momen di mana saya benar-benar hadir untuk mereka tanpa distraksi, itu yang saya jadikan alarm.

Dan yang paling saya ingat dari semua ini: pengaruh orang tua tidak datang dari otoritas atau aturan. Dia datang dari koneksi. Anak yang merasa didengar dan dilihat, dia yang mau dengerin kamu ketika kamu perlu berbicara soal hal-hal yang lebih penting nanti.


Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?

Cocok kalau kamu: Daddy yang kerja full-time dan punya waktu terbatas di rumah, tapi sadar bahwa hubungan dengan anak butuh investasi yang lebih konkret dari sekadar “hadir secara fisik.”

Mungkin belum waktunya kalau: Kamu sudah punya sistem special time yang konsisten dan anak kamu sudah punya hubungan yang baik denganmu. Kalau itu kondisinya, artikel ini mungkin lebih berguna sebagai reminder untuk menjaganya, bukan memulainya.


Kalau Topik Ini Relevan untuk Kamu

Saya tulis lebih banyak soal ini di newsletter Not A Perfect Daddy. Setiap minggu saya kirim satu hal kecil yang saya sedang pelajari atau coba sendiri sebagai Daddy, bukan tips motivasi, tapi pengalaman nyata dari ayah yang masih belajar juga.

Kalau mau saya kirim langsung ke email kamu, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini, gratis, dan saya kirim tiap minggu.

Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →


Pertanyaan yang Sering Muncul

Kalau anak sudah agak besar, misalnya 6-8 tahun, apa masih bisa dibangun koneksinya?

Masih bisa, dan justru lebih mudah dikomunikasikan karena anak sudah lebih bisa menangkap konteks. Yang berbeda adalah cara special time-nya. Anak usia 8 tahun mungkin gak mau main lego lagi, tapi dia mungkin mau cerita soal temannya, mau diajak nonton sesuatu bareng, atau mau diajarin sesuatu yang dia penasaran. Prinsipnya sama: kamu ikut dunianya, bukan paksa dia masuk dunia kamu.

Bagaimana kalau saya sudah coba hadir tapi anak tetap lebih pilih mamanya?

Ini butuh waktu dan konsistensi, bukan hasilnya langsung terasa di hari pertama. Relational bank yang tadinya kosong atau tipis tidak bisa diisi ulang dalam satu sesi. Yang saya temukan, perubahan kecil biasanya mulai terlihat setelah 2-3 minggu konsisten, dan itu pun bukan anak tiba-tiba berbalik 180 derajat, tapi ada momen-momen kecil di mana dia mulai cari kamu lebih sering.

Anak saya maunya main HP terus. Apa special time tetap bisa berlaku?

Ini pertanyaan yang cukup relevan di 2026. Kalau anak mau main game di HP, kamu bisa minta dia ajarin kamu main game itu. Biarkan dia yang jadi “ahlinya” selama 20 menit itu. Kamu bukan mengevaluasi waktu layarnya, kamu hadir di dalam dunianya, bahkan kalau dunianya ada di layar HP sekalipun.

Saya sering pulang malam dan anak sudah tidur. Apa 20 menit masih realistis?

Kalau weekday betul-betul gak ada jendela waktu, fokus ke akhir pekan. 20 menit di Sabtu pagi yang benar-benar kamu hadir penuh, lebih berharga dari satu jam di akhir minggu tapi kamu sambil pegang HP. Dan kalau ada satu hari di minggu di mana kamu bisa pulang lebih awal, jadikan itu hari special time. Tidak perlu sempurna tiap hari, tapi harus ada ritmenya.

Apa bedanya hadir secara fisik dan hadir secara penuh?

Hadir secara fisik artinya tubuh kamu ada di ruangan yang sama. Hadir secara penuh artinya perhatian kamu benar-benar di anak, bukan di pikiran yang lain. Saya sendiri pernah duduk satu jam di sebelah anak sambil mata ke layar laptop, dan itu tidak dihitung sebagai kehadiran yang nyata. Anak tahu bedanya.