Saya inget banget waktu pertama kali saya posting sebagai Daddy di Instagram. Fotonya pas-pasan, caption-nya kaku, formatnya jelas keliatan asal jadi. Saya sempat mau hapus dalam lima menit setelah upload.
Tapi saya nggak hapus. Dan enam bulan kemudian, waktu saya buka lagi postingan pertama itu, saya sadar satu hal, postingan itu jelek bukan karena saya nggak niat, tapi karena itu memang belum sempet dapet feedback dari siapa-siapa. Belum ada data. Cuma dugaan.
Yang bikin saya bisa nulis lebih baik sekarang bukan karena saya akhirnya nemu formula sempurna sebelum mulai. Justru karena saya mulai dari yang jelek itu, dan ngumpulin puluhan percobaan lain yang juga nggak sempurna, satu per satu.
Ini yang saya mau bongkar. Karena kalau kamu Daddy yang lagi nahan diri buat mulai side income, konten, atau produk digital sampai “siap” atau “sempurna” dulu, kamu sebenernya lagi ngelakuin hal yang justru bikin kamu lebih lama sampainya. Ada riset yang jelasin kenapa.
Riset yang Membalik Cara Kita Mikir soal “Bagus”
Ryan Babineaux dan John Krumboltz, dua peneliti yang nulis buku Fail Fast, Fail Often, ngejalanin satu eksperimen sederhana di kelas keramik. Satu kelas dibagi dua kelompok.
Kelompok pertama dikasih tugas: bikin satu pot sebaik mungkin. Fokus ke kualitas. Ambil waktu, perhatiin detail, pastiin hasil akhirnya bagus.
Kelompok kedua dikasih tugas beda: bikin sebanyak mungkin pot. Nggak dinilai dari bagus atau jelek, cuma dari jumlah yang berhasil dibuat sampai akhir sesi.
Hasilnya bikin banyak orang kaget, termasuk saya waktu pertama baca. Pot terbaik di kelas itu justru datang dari kelompok kedua, bukan kelompok pertama. Kelompok yang ngejar kuantitas, bukan yang ngejar kualitas dari awal.
Alasannya masuk akal kalau dipikir lagi. Kelompok kedua bikin banyak pot, gagal di beberapa, belajar sesuatu dari tiap kegagalan, terus langsung terapin pelajaran itu ke pot berikutnya. Pelajarannya numpuk cepat. Sementara kelompok pertama cuma punya satu kesempatan, jadi mereka nggak punya ruang buat belajar dari kesalahan, cuma punya ruang buat cemas jangan sampai salah.
Ini yang Babineaux sebut sebagai inti dari growth mindset yang bekerja secara praktis, bukan cuma slogan motivasi. Aksi dulu, belajar dari hasilnya, sesuaikan, aksi lagi. Bukan rencanakan sampai sempurna, baru eksekusi sekali dengan taruhan besar.
Kenapa Kamu Terjebak di “Belum Waktunya”
Babineaux nyebut ini “the not-yet trap”. Jebakan “belum waktunya” ini keliatan masuk akal dari luar, tapi sebenernya cuma cara halus buat nunda tanpa merasa bersalah.
Coba cek, ada nggak salah satu dari ini yang sering muncul di kepala kamu:
“Saya mulai kalau udah lebih ngerti dulu soal ini.”
“Saya launching kalau produknya udah bener-bener rapi.”
“Saya tawarin jasa ini kalau saya udah punya lebih banyak bukti hasil kerja.”
Semuanya kedengeran wajar. Tapi masalahnya, kondisi “siap” itu nggak pernah datang dengan sendirinya. Rasa siap itu justru muncul dari pengalaman ngerjain, bukan dari mikirin sebelum ngerjain. Kamu nggak akan merasa “cukup ngerti” sebelum benar-benar praktik. Dan produk yang kamu anggap “belum rapi” itu justru butuh feedback orang lain buat jadi rapi, bukan butuh waktu kamu mikir sendiri lebih lama.
Saya sendiri kena jebakan ini pas mau mulai bikin sistem kerja yang sekarang saya sebut Daddy Freedom System. Draft pertamanya bukan sistem yang rapi, cuma catatan asal-asalan soal jam mana yang paling produktif buat saya kerja 2-4 jam kerja sehari, dan jam mana yang harus buat anak. Kalau saya nunggu sampai sistemnya “matang” dulu sebelum saya jalanin, saya nggak akan pernah tahu bagian mana yang beneran jalan di kehidupan saya dan bagian mana yang cuma kedengeran bagus di kertas.
Cara Terapin Ceramics Experiment ke Side Income Kamu
Langkah 1: Set Aturan 48 Jam
Begitu ide muncul, kasih diri kamu maksimal 48 jam buat bikin versi paling kecil dari ide itu jadi nyata. Bukan versi final, versi kecil aja. Kalau idenya jualan jasa desain, versi kecilnya bisa cuma satu contoh mockup dan satu pesan ke satu calon klien. Kalau idenya bikin konten edukasi, versi kecilnya bisa satu post, bukan satu carousel 10 slide yang kamu polish tiga minggu.
Aturan ini nyegah kamu masuk fase “riset dan rencana” tanpa batas waktu, yang sering jadi kedok halus dari rasa takut mulai.
Langkah 2: Perlakuin Percobaan Pertama Sebagai Pengumpulan Data, Bukan Pertunjukan
Ini yang paling ngubah cara saya kerja. Waktu saya masih anggep tiap konten atau tiap penawaran sebagai “pertunjukan”, tekanan buat sempurna jadi berat banget, sampai akhirnya saya milih nggak posting sama sekali. Begitu saya ganti kacamatanya, “ini bukan pertunjukan, ini eksperimen buat ngumpulin data”, tekanannya turun drastis.
Data yang kamu kumpul dari percobaan pertama itu nggak ternilai. Kamu jadi tahu audiens kamu respon ke apa, calon klien nanya soal apa, harga yang kamu pasang kemahalan atau justru kemurahan. Semua itu cuma bisa didapat dari percobaan nyata, nggak bisa didapat dari mikir doang di kepala.
Langkah 3: Satu Hal yang Jalan, Satu Hal yang Diubah
Habis tiap percobaan, sisihkan 5 menit buat jawab dua pertanyaan simpel. Satu hal apa yang jalan dari percobaan ini? Satu hal apa yang mau saya ubah di percobaan berikutnya?
Jangan lebih dari dua. Kalau kamu coba analisis semua hal sekaligus, kamu bakal kewalahan dan malah nggak jadi-jadi percobaan berikutnya. Dua poin ini cukup buat bikin percobaan kedua kamu sedikit lebih baik dari yang pertama, dan itu yang bikin efeknya numpuk cepat.
Langkah 4: Pecah Goal Besar Jadi Langkah Sekecil Mungkin
Babineaux kasih contoh soal orang yang mau lari marathon dalam setahun tapi langsung maksa diri lari jauh dari minggu pertama, ujungnya burnout dan berhenti total di minggu kedua. Pendekatan yang lebih realistis, jalan kaki 15 menit tiga kali seminggu dulu, baru pelan-pelan nambah jadi jogging, baru nambah jarak, sampai akhirnya siap ikut marathon dalam waktu yang lebih panjang tapi beneran sampai.
Untuk side income, ini artinya jangan set goal “punya bisnis sampingan yang jalan sendiri dalam 3 bulan” kalau kamu belum pernah jualan apapun. Set goal minggu ini cukup: kirim satu penawaran ke satu orang. Goal bulan ini: dapet feedback dari lima orang soal ide kamu. Goal 90 hari: punya satu produk atau jasa yang udah pernah laku minimal sekali, meskipun ke orang yang kamu kenal.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Saya coba prinsip ini pas mau mulai nulis newsletter Not A Perfect Daddy. Edisi pertama saya tulis dalam satu malam, nggak sempurna, strukturnya masih berantakan, dan saya kirim ke jumlah orang yang bisa dihitung jari. Tapi karena saya udah kirim, saya dapet balasan, ada yang bilang bagian ceritanya kepanjangan, ada yang bilang justru itu bagian favoritnya. Dari situ edisi kedua saya bisa lebih tajam, bukan karena saya mikir lebih keras, tapi karena saya punya data nyata dari percobaan pertama yang jelek itu.
Kalau saya nunggu sampai formatnya “pas” sebelum kirim edisi pertama, saya yakin newsletter itu masih ada di draft sampai sekarang.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: punya ide side income atau konten yang udah dipikirin lebih dari sebulan tapi belum ada satupun yang beneran dijalankan, dan kamu sadar alasan nundanya lebih ke “belum pas” daripada “belum ada waktu sama sekali”.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu lagi di fase rumah tangga yang butuh fokus penuh, misalnya anak baru lahir atau ada krisis keluarga yang lebih butuh perhatian kamu sekarang. Percobaan kecil ini tetap bisa nunggu beberapa minggu tanpa kehilangan momentum yang berarti.
Kalau Kamu Mau Sistem yang Lebih Lengkap buat Mulai Tanpa Nunggu Sempurna
Saya tulis lebih dalam soal cara bangun kebiasaan kerja cerdas, bukan kerja keras, buat Daddy yang cuma punya 2-4 jam kerja sehari, langsung ke email lewat newsletter Not A Perfect Daddy. Gratis, dan saya kirim tiap minggu.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apa itu ceramics experiment dan kenapa relevan buat Daddy yang mau mulai side income?
Ceramics experiment itu riset dari Babineaux dan Krumboltz yang bagi satu kelas keramik jadi dua kelompok, satu fokus bikin satu pot terbaik, satu fokus bikin sebanyak mungkin pot tanpa peduli kualitas. Pot terbaik justru muncul dari kelompok kuantitas. Relevan banget buat side income karena kebanyakan Daddy nunda mulai gara-gara nunggu ide sempurna, padahal yang bikin cepat jago itu banyak percobaan kecil yang saling ngasih pelajaran, bukan satu percobaan besar yang keburu dipikir kelamaan sampai nggak pernah jadi.
Berapa lama saya harus coba sebelum tahu ide ini worth dilanjutin atau enggak?
Patokan yang saya pakai, beres satu siklus percobaan dalam 48 jam sejak ide muncul. Habis itu catat satu hal yang jalan, satu hal yang mesti diubah, lalu jalan lagi. Baru kalau setelah delapan sampai sepuluh percobaan kecil polanya konsisten negatif, itu jadi sinyal yang layak dipertimbangkan buat ganti arah. Satu percobaan gagal belum cukup jadi bukti apa-apa.
Gimana kalau percobaan pertama saya emang jelek dan saya jadi malu nunjukkinnya ke orang?
Rasa malu di percobaan pertama itu normal, karena kamu belum punya pola, belum punya feedback nyata. Yang ngebantu itu ganti kacamata, dari “ini pertunjukan saya” jadi “ini eksperimen saya buat kumpul data”. Begitu kerangkanya berubah, rasa malunya jauh lebih ringan, dan kamu jadi lebih gampang nerima kalau percobaan pertama emang belum bagus.
Apa bedanya banyak coba dengan asal-asalan tanpa arah?
Bedanya di refleksi. Asal-asalan itu coba, gagal, coba lagi tanpa nyatet apa yang berubah dari tiap percobaan. Banyak coba yang benar itu selalu diikuti satu hal yang jalan dan satu hal yang diubah sebelum percobaan berikutnya. Tanpa refleksi itu, sepuluh percobaan cuma jadi sepuluh pengulangan kegagalan yang sama.
Saya kerja penuh waktu, gimana cara nyisipin banyak percobaan kalau waktu udah habis di kerjaan dan anak?
Percobaan yang dimaksud bukan proyek besar. Cukup versi paling kecil yang bisa diselesaikan dalam waktu sempit, misalnya 30 menit malam hari setelah anak tidur. Satu draft caption, satu halaman penawaran, satu pesan ke calon klien, itu sudah cukup jadi satu percobaan yang valid. Yang penting jumlah dan kecepatan ambil pelajarannya, bukan besarnya proyek.

