Saya inget banget pertama kali nemuin konsep ini. Malam-malam, anak sudah tidur, istri juga sudah duluan, dan saya masih duduk di depan laptop sambil mikir: kalau saya nulis sesuatu malam ini, apakah itu masih akan “bekerja” untuk saya bulan depan?

Pertanyaan itu yang akhirnya bikin saya mulai serius memahami gimana Medium Partner Program ini sebetulnya bekerja.

Karena jujur ya, sebagai Daddy yang baru punya dua anak dan kerja tetap di siang hari, waktu saya itu berharga banget. Saya tidak bisa pergi jualan setiap hari. Saya tidak bisa live streaming tiap malam sambil nemenin anak. Yang saya butuhkan adalah sesuatu yang bisa saya kerjakan 2-4 jam saja, lalu punya efek yang berlanjut bahkan saat saya sedang hadir untuk anak di hari berikutnya.

Kenapa Medium Menarik untuk Daddy yang Waktunya Terbatas

Model bisnis Medium itu sederhana sebenarnya. Pembaca bayar langganan sekitar $5-15 per bulan. Dari uang langganan itu, Medium bagi-bagi ke penulis berdasarkan seberapa lama pembaca berbayar membaca artikel kamu.

Jadi bukan soal berapa banyak orang yang klik. Bukan soal berapa follower kamu. Ini soal seberapa lama orang betah baca tulisan kamu.

Dan ini yang menarik untuk saya: artikel yang saya tulis bulan ini, masih bisa dapat reading time bulan depan, bulan depan lagi, dan seterusnya. Arsip artikel lama terus “bekerja” selama masih ada yang menemukan dan membacanya.

Buat Daddy yang kerja penuh dan punya waktu terbatas, ini perbedaan yang besar. Kamu tidak sedang menukar waktu dengan uang secara langsung. Kamu sedang menukar waktu dengan aset yang punya nilai jangka panjang, atau setidaknya lebih panjang dari durasi menulisnya.

Cara Kerjanya: Reading Time, Bukan View Count

Ini yang paling sering disalahpahami orang yang baru masuk ke Medium.

Logikanya bukan: lebih banyak view = lebih banyak uang. Logikanya adalah: semakin lama orang membaca artikel kamu, semakin besar bagian kamu dari total pool pendapatan Medium hari itu.

Satu artikel dengan 1.000 pembaca yang rata-rata baca 8 menit bisa menghasilkan jauh lebih banyak daripada artikel dengan 10.000 pembaca yang sebagian besar pergi setelah 30 detik. Ini bukan intuisi yang natural, kan, tapi begitulah sistemnya bekerja.

Implikasi praktisnya untuk Daddy yang mau nulis di Medium:

Panjang artikel itu penting. Artikel 1.500-2.000 kata secara sistematis menghasilkan lebih banyak reading time daripada artikel 500 kata. Bukan karena panjang itu sendiri yang bagus, tapi karena artikel yang cukup panjang memberi waktu bagi pembaca untuk benar-benar masuk ke dalam kontennya.

Strukturnya harus bikin orang tidak mau berhenti. Setiap bagian artikel harus kasih alasan bagi pembaca untuk lanjut ke bagian berikutnya. Kalau di paragraf ke-3 orang sudah bisa tebak ke mana arahnya, mereka pergi. Kalau setiap bagian membuka sedikit pertanyaan baru, mereka lanjut.

Topik yang kamu benar-benar kuasai akan terasa berbeda dari topik yang kamu riset satu hari sebelum nulis. Pembaca bisa merasakan bedanya, dan itu langsung berdampak ke berapa lama mereka betah.

Sistem yang Realistis untuk 6-12 Bulan ke Depan

Ini yang perlu saya sampaikan dengan jujur, karena saya tidak mau kamu masuk dengan ekspektasi yang salah.

Bulan 1 sampai 3, kamu hampir pasti tidak akan dapat penghasilan yang berarti dari Medium. Mungkin nol, mungkin beberapa ratus ribu rupiah, tapi tidak akan mengubah hidup. Ini fase membangun, fase di mana algoritma Medium mulai mengenal kamu sebagai penulis yang konsisten.

Bulan 4 sampai 6 mulai ada momentum. Kalau kamu konsisten dan tulisanmu cukup baik untuk membuat orang betah baca, mulai ada artikel lama yang terus dapat reading time. Penghasilan mulai terbentuk, tapi masih belum besar, mungkin Rp1-3 juta per bulan kalau kamu cukup beruntung dengan niche dan kualitas tulisanmu.

Bulan 7 ke atas, efek kompounding mulai terasa. Artikel lama masih jalan, artikel baru menambah. Ini yang saya maksud dengan “sistem”, bukan satu artikel ajaib yang langsung viral.

Medium juga bukan satu-satunya lapisan. Yang lebih menarik lagi adalah ini: sambil kamu menulis di Medium dan membangun pembaca, kamu seharusnya juga membangun email list secara paralel. Karena Medium bisa mengubah algoritma kapan saja, tapi email list itu milik kamu sepenuhnya.

Dua Lapisan yang Bekerja Bersamaan

Kalau kamu memandang Medium sebagai satu-satunya sumber income, kamu akan frustrasi. Tapi kalau kamu memandangnya sebagai dua hal sekaligus: penghasilan dari reading time PLUS saluran untuk membangun email list, hitungannya berubah.

Setiap artikel yang kamu tulis di Medium bisa diakhiri dengan ajakan masuk ke email list kamu. Orang yang suka tulisanmu, cukup suka untuk berlangganan email. Dari email list itu, suatu hari kamu bisa jual sesuatu: ebook, template, mini course, apapun yang relevan dengan topik yang kamu tulis.

Ini yang buat sistem ini masuk akal dalam jangka panjang. Bukan hanya soal dapat $500 per bulan dari Medium. Tapi Medium sebagai pintu masuk ke ekosistem yang lebih besar.

Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya

Saya belum sampai di titik penghasilan Medium yang konsisten dan besar. Jujur. Tapi yang saya sedang pelajari adalah pola menulis dengan 2-4 jam kerja yang bisa saya lakukan di malam hari setelah anak tidur atau di pagi hari sebelum anak bangun.

Yang saya temukan: kualitas 1 artikel yang ditulis dengan fokus 90 menit jauh lebih baik dari 3 artikel yang ditulis terburu-buru. Dan untuk sistem seperti Medium yang membayar berdasarkan berapa lama orang mau baca, kualitas itu yang paling menentukan.

Saya juga belajar bahwa menulis topik yang benar-benar saya alami dan pahami, bukan topik yang populer tapi jauh dari keseharian saya, menghasilkan artikel yang terasa lebih jujur. Dan pembaca bisa merasakan perbedaan itu.

Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?

Cocok kalau kamu: punya keahlian atau pengetahuan spesifik yang bisa kamu tulis (pekerjaan, hobi, pengalaman hidup), nyaman menulis dalam bahasa Inggris minimal setara, bisa konsisten minimal satu artikel per minggu selama 6 bulan, dan tidak butuh hasil dalam 1-2 bulan pertama.

Mungkin belum waktunya kalau: kamu butuh tambahan income dalam waktu dekat (kurang dari 3 bulan), belum ada topik yang benar-benar kamu kuasai untuk ditulis, atau bahasa Inggrismu masih perlu banyak development.

Kalau Mau Tahu Lebih Lanjut tentang Membangun Income Sampingan sebagai Daddy

Saya nulis lebih banyak soal sistem kerja 2-4 jam dan cara membangun penghasilan tambahan tanpa harus sacrifice waktu keluarga di newsletter mingguan saya.

Kalau mau saya kirim langsung ke email kamu, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini, gratis, dan saya kirim tiap minggu.

Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apakah ini cocok untuk yang baru pertama kali nulis online?

Bisa, tapi siapkan mental untuk kurva belajar yang cukup panjang. Menulis untuk dibaca orang lain, apalagi dalam bahasa Inggris, itu skill yang butuh waktu untuk berkembang. Yang paling penting adalah mulai, lalu iterasi dari feedback pembaca. Kalau artikel pertamamu tidak menghasilkan apa-apa, itu normal. Artikel ke-10 biasanya sudah jauh lebih baik dari artikel pertama.

Berapa jam per minggu yang realistis untuk tetap bisa dapat penghasilan dari Medium?

Minimal 3-5 jam per minggu untuk maintain konsistensi satu artikel seminggu. Itu termasuk riset, nulis, edit, dan publish. Kalau bisa 6-8 jam, lebih baik karena kualitas artikelnya bisa lebih dalam. Yang tidak realistis adalah mengharapkan income yang berarti kalau kamu hanya publish satu artikel per bulan.

Apakah perlu beli tools berbayar untuk mulai?

Tidak. Medium sendiri gratis untuk nulis dan publish. Kalau mau ada email list, ada opsi mulai gratis seperti Mailchimp atau Beehiiv sampai batas tertentu. Investasi utama di sini adalah waktu, bukan uang.

Bagaimana kalau topik yang saya kuasai bukan topik bisnis atau teknologi?

Medium bayar berdasarkan reading time, bukan topik. Topik bisnis, self-improvement, dan teknologi memang cenderung dapat lebih banyak pembaca karena pasarnya lebih besar, tapi topik lain juga bisa berhasil kalau kamu bisa menjangkau komunitas yang tepat dan menulis dengan cukup dalam. Yang paling penting adalah kamu punya perspektif yang genuine, bukan sekadar ringkasan dari artikel orang lain.

Kalau saya tidak punya email list sama sekali sekarang, dari mana mulainya?

Mulai dari Platform dulu, email list belakangan. Tulis beberapa artikel, lihat mana yang paling resonan dengan pembaca, lalu buat “lead magnet” sederhana, bisa berupa checklist atau template yang relevan dengan topik artikel terbaikmu. Tawarkan itu sebagai alasan untuk berlangganan email. Tidak perlu sempurna di awal, yang penting ada sesuatu yang bisa kamu tawarkan.