Ada satu momen yang saya ingat cukup jelas. Anak saya yang besar, waktu itu masih sekitar 5 atau 6 tahun, nanya ke saya di malam hari saat saya baru mau buka laptop.
“Daddy ngapain?”
“Daddy kerja sebentar,” jawab saya.
Dia diam sebentar, lalu bilang, “Daddy kerja terus.”
Dan dia pergi ke kamarnya.
Saya tutup laptop malam itu.
Tapi yang menarik adalah kalimat itu tidak langsung bikin saya berhenti sama sekali dari kerja malam. Itu bikin saya berpikir lebih lama tentang “kerja” mana yang beneran penting dan “kerja” mana yang bisa dikerjakan di waktu yang berbeda.
Bukan Semua Kerja Malam Sama
Waktu itu saya sedang mulai serius membangun konten. Bukan karena ingin terkenal, lebih karena saya melihat beberapa orang di sekitar saya membangun personal brand yang akhirnya membuka pintu ke income yang lebih tidak tergantung pada satu sumber saja.
Dan saya sadar, ada perbedaan besar antara kerja malam yang sifatnya reaktif, balas email, selesaikan laporan yang deadline-nya mepet, versus kerja malam yang sifatnya investasi jangka panjang, seperti membangun konten, nulis, atau belajar sesuatu.
Yang pertama menguras dan tidak membangun apapun selain memenuhi kewajiban yang sudah ada. Yang kedua pelan-pelan membangun sesuatu yang bisa berguna jauh ke depan.
Saya tidak bilang ini mudah dibedakannya. Apalagi waktu capek dan otak sudah tidak tajam setelah seharian kerja.
Kenapa Konten, Bukan Hal Lain
Ada banyak cara membangun aset jangka panjang. Investasi finansial, belajar skill baru, membangun relasi. Konten adalah salah satunya, dan yang menarik dari konten adalah dia membangun kepercayaan dalam skala yang susah dilakukan lewat cara lain.
Setiap posting yang saya publish adalah satu titik kecil yang memberi tahu orang “ini yang saya tahu, ini yang saya pelajari, ini cara saya berpikir”. Ratusan titik itu, kalau konsisten, membentuk sesuatu yang jauh lebih besar dari satu-satu titiknya.
Dan ada satu reframing yang akhirnya cukup membantu saya untuk tidak berhenti di tengah jalan: konten yang saya buat malam ini bukan hanya untuk audiens yang belum saya kenal. Ini juga untuk membangun sesuatu yang suatu hari bisa saya tunjukkan ke anak saya. Bahwa Daddy pernah membangun sesuatu secara konsisten, dengan cara yang tidak mengorbankan mereka.
Itu bukan alasan yang muluk-muluk. Tapi cukup untuk membuat 30-45 menit malam terasa bermakna, bukan sekadar “kerja lagi”.
Sistemnya Membuat Ini Mungkin
Satu hal yang saya pelajari dari mencoba konsisten bikin konten sambil punya dua anak dan tanggung jawab lain adalah: kalau saya harus mikir “mau nulis tentang apa?” saat sudah duduk di malam hari, kemungkinan besar tidak akan jadi.
Kapasitas untuk berpikir kreatif atau strategis setelah seharian kerja itu terbatas. Dan mengeluarkannya untuk hal yang harusnya sudah diputuskan sebelumnya adalah pemborosan.
Makanya brief mingguan itu penting buat saya. Tiap Senin pagi, saya luangkan 30 menit untuk isi: minggu ini mode konten hari apa, topiknya apa, hook-nya apa. Setelah itu diisi, saya tidak perlu lagi membuat keputusan besar saat duduk di malam hari. Tinggal nulis apa yang sudah diputuskan.
Itu yang membuat waktu malam yang terbatas bisa efektif, bukan karena saya tiba-tiba lebih energik, tapi karena energi yang ada tidak habis di tempat yang salah.
Yang Saya Tidak Ingin Lakukan
Saya tidak ingin membangun konten dengan cara yang membuat anak saya merasa kompetitor dari layar.
Jadi aturan saya sederhana: konten tidak dikerjakan saat anak masih terjaga dan butuh saya. Kalau anak tidur, laptop boleh buka. Kalau anak sakit atau butuh perhatian, laptop tutup, tidak ada pengecualian.
Itu bukan aturan yang sempurna. Ada malam-malam di mana saya break itu. Tapi itu tetap jadi standar yang saya pegang.
Dan dari perspektif itu, konten yang konsisten bukan lawan dari jadi Daddy yang hadir untuk anak. Justru bisa jadi ekspresinya, bahwa kamu sedang membangun sesuatu yang bermakna, di waktu yang kamu punya, tanpa mengorbankan hal yang paling penting.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Ritme yang saya pakai sekarang adalah jadwal posting 3-4 hari seminggu, dengan brief yang sudah diisi tiap Senin. Eksekusinya di malam hari setelah anak tidur, biasanya antara 30-60 menit per sesi.
Tidak selalu berjalan mulus. Ada minggu-minggu di mana anak sakit, istri butuh saya lebih, atau saya sendiri yang capek luar biasa dan tidak ada kapasitas untuk menulis apapun yang masuk akal. Di minggu-minggu itu saya memang skip, dan itu tidak membuat sistem-nya runtuh.
Yang membuat sistem-nya tetap jalan adalah kembali ke brief minggu berikutnya dan lanjut dari sana. Tidak perlu catch-up yang dramatik, cukup lanjut.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: sudah ada niat untuk bangun konten atau personal brand tapi terus tertunda karena tidak tahu bagaimana menyisipkannya di antara tanggung jawab sebagai Daddy dan karyawan, dan mau cari cara yang tidak mengorbankan waktu keluarga.
Mungkin belum waktunya kalau: kondisi rumah masih sangat demanding, misalnya anak masih bayi yang sering bangun malam, atau ada situasi keluarga yang butuh perhatian penuh. Tidak ada yang salah dengan menunda dulu sampai situasinya lebih stabil. Konten bisa dibangun kapan saja, tahap hidup ini tidak akan terulang.
Kalau Kamu Mau Baca Lebih Tentang Ritme Kerja Daddy yang Tidak Mengorbankan Keluarga
Di newsletter Not A Perfect Daddy, saya share lebih dalam tentang bagaimana saya mengelola waktu sebagai Daddy yang juga ingin terus berkembang secara profesional, tanpa harus masuk mode hustle yang menguras. Gratis, satu email tiap minggu.
Kalau kamu mau saya kirim lebih banyak tulisan seperti ini langsung ke inbox kamu, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini, gratis, dan saya kirim tiap minggu.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Bagaimana kalau pasangan tidak mendukung waktu malam untuk bikin konten?
Ini percakapan yang penting untuk dilakukan bersama pasangan sebelum mulai. Bukan hanya “saya mau bikin konten ya”, tapi lebih ke “ini tujuannya, ini manfaatnya jangka panjang, ini waktu yang saya minta, dan ini komitmen saya bahwa ini tidak akan mengorbankan waktu keluarga kita.” Pasangan yang memahami konteks dan alasannya biasanya jauh lebih mudah untuk mendukung daripada yang hanya diberi tahu hasilnya saja.
Apa yang harus dilakukan kalau sudah konsisten 3-4 minggu tapi tidak ada yang lihat atau engage sama sekali?
Itu bagian dari proses awal yang hampir semua orang lewati. Konten di 3-4 minggu pertama biasanya memang sepi, dan itu normal karena audiens belum ada. Yang perlu diperiksa adalah apakah kontennya sudah cukup spesifik topiknya dan apakah ada upaya aktif untuk mendistribusikannya ke orang yang relevan, misalnya engagement di komentar orang lain yang topiknya sama. Konsistensi tanpa distribusi biasanya tetap sepi untuk waktu yang lama.
Apakah bikin konten berarti harus tampil di video juga, atau teks saja cukup?
Bergantung platform dan kenyamananmu. Konten teks saja bisa sangat efektif, terutama di platform seperti LinkedIn atau Twitter. Kalau kamu lebih nyaman nulis daripada tampil di video, mulai dari situ. Tidak ada kewajiban untuk video kalau itu yang bikin kamu tidak mulai-mulai.
Berapa lama sampai konten yang konsisten benar-benar terasa “worth it”?
Ini pertanyaan yang sulit dijawab dengan angka pasti karena bergantung banyak faktor: topik, platform, konsistensi, kualitas konten. Tapi dari yang saya lihat, titik balik biasanya ada di 3-6 bulan pertama. Bukan berarti dalam 3 bulan kamu sudah punya ribuan follower, tapi biasanya ada sesuatu yang mulai terasa berbeda, mungkin ada orang yang mulai reach out, atau ada peluang yang datang karena kontenmu. Itu yang membuat satu langkah lebih jauh terasa worth it.
Apakah ini relevan untuk Daddy yang tidak punya keahlian di bidang digital sama sekali?
Ya, tapi topik kontennya tidak harus digital. Konten yang paling kuat biasanya dari keahlian atau pengalaman yang kamu punya di bidang apapun, selama ada orang yang mau belajar dari itu. Seorang Daddy yang ahli di bidang teknik sipil, atau yang sudah 10 tahun bekerja di finance, atau yang punya pengalaman merawat orang tua sambil punya anak kecil, itu semua adalah topik yang ada audiensnya. Keahlian digital bukan syarat.

