Anak perempuan saya yang besar, sekarang sekitar 8 tahun, punya kebiasaan yang saya baru sadar baru-baru ini. Setiap kali saya ambil ponsel saat kami sedang main bersama, dia berhenti dan diam. Seperti menunggu saya selesai.

Saya tidak langsung sadar waktu itu. Saya pikir saya lagi dokumentasi momen yang bagus. Saya pikir ini untuk kenangan.

Tapi yang sebetulnya terjadi adalah saya menghentikan momennya untuk merekamnya.

Itu yang bikin saya mulai mikir lebih dalam soal cara mendokumentasikan anak. Bukan tentang apakah perlu mendokumentasikan atau tidak, tapi tentang bagaimana caranya supaya dokumentasi itu membantu saya lebih hadir, bukan lebih absen.

Bedanya Hadir dan Ada

Ini yang paling sering saya pikirkan sekarang: ada di ruangan yang sama dengan anak itu beda dengan hadir untuk anak.

Saya bisa duduk di sofa sambil anak main di karpet depan saya. Saya ada. Tapi kalau mata saya di ponsel dan pikiran saya di email yang belum dibalas, saya tidak hadir.

Sebaliknya, saya bisa ada di ruangan yang berbeda tapi ketika saya masuk dan benar-benar duduk bersama mereka, ikut main, ikut tertawa di hal yang sama yang mereka tertawakan, itu hadir.

Dokumentasi yang dilakukan dengan cara yang kurang tepat bisa mengubah Daddy yang hadir jadi Daddy yang ada tapi sibuk merekam.

Bagaimana Mendokumentasikan Justru Bisa Bantu Kamu Lebih Hadir

Ini yang saya pelajari setelah coba beberapa pendekatan berbeda selama beberapa tahun.

Satu foto, lalu simpan ponsel

Prinsip yang saya coba terapkan sekarang: kalau ada momen yang mau saya abadikan, saya ambil satu foto atau video pendek. Satu. Lalu saya simpan ponsel ke saku atau taruh di tempat yang sedikit jauh dari jangkauan saya.

Setelah itu saya benar-benar ada di momennya.

Ini kedengarannya sederhana, tapi ternyata cukup sulit dilakukan secara konsisten karena ada dorongan untuk ambil “satu lagi” yang lebih bagus, atau langsung kirim ke grup keluarga, atau tag istri, atau upload ke album.

Satu foto sudah cukup untuk kenangan. Yang lebih dari itu seringkali lebih untuk orang lain, bukan untuk kita sendiri.

Dokumentasi naratif: catatan teks pendek

Ini yang saya mulai lebih banyak lakukan belakangan: setelah momen penting berlalu, saya tulis catatan pendek di notes ponsel. Bukan langsung saat momennya terjadi, tapi setelahnya.

Bisa 2-3 kalimat saja. “Hari ini anak kedua saya berhasil naik sepeda tanpa dipegang untuk pertama kali. Mukanya serius banget fokus ke depan. Habis bisa, dia noleh ke saya dan bilang ‘Daddy lihat?’ Padahal saya udah lihat dari awal.”

Catatan seperti ini, bagi saya, jauh lebih berharga dari 50 foto yang tidak pernah saya lihat lagi. Karena di catatan itu ada detailnya, ada rasanya, ada konteksnya.

Dan yang menarik: untuk menulis catatan seperti itu, saya harus benar-benar hadir di momennya. Saya tidak bisa menulis detail yang hidup kalau saya setengah ada.

Ritual dokumentasi mingguan

Ini yang saya coba tapi belum konsisten: satu kali seminggu, biasanya malam Minggu, saya buka foto dari minggu itu dan pilih satu atau dua yang paling bermakna. Bukan yang paling bagus secara teknis, tapi yang paling terasa “ini betul-betul terjadi.”

Dari foto itu saya tulis sedikit konteks: di mana, apa yang terjadi sebelumnya, apa yang terjadi setelahnya. Ini jadi semacam jurnal visual yang sangat praktis.

Waktu yang dibutuhkan: sekitar 15-20 menit seminggu.

Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya

Sejujurnya, saya belum berhasil 100% konsisten. Ada minggu di mana ponsel masih lebih banyak di tangan dari yang seharusnya. Ada momen di mana saya masih insting-nya langsung rekam panjang-panjang.

Yang berubah adalah saya sekarang lebih sadar ketika itu terjadi. Anak perempuan saya yang berhenti main dan diam setiap kali saya angkat ponsel itu jadi semacam sinyal yang saya perhatikan. Kalau saya lihat dia berhenti, itu pengingat untuk saya simpan ponsel.

Dengan dua anak yang sedang aktif-aktifnya dan waktu yang sering terasa terlalu singkat, sadar bahwa ada di sana saja tidak cukup itu buat saya jadi lebih hati-hati tentang bagaimana mengisi waktu yang ada.

Tentang Dokumentasi untuk “Kenangan”

Saya mau jujur soal satu hal. Sebagian dari dokumentasi yang kita buat itu bukan benar-benar untuk kenangan kita sendiri. Sebagian itu untuk ditunjukkan ke orang lain, atau untuk kelihatan seperti ayah yang hadir di media sosial.

Itu bukan sesuatu yang perlu dihakimi. Tapi penting untuk jujur dengan diri sendiri soal motivasinya.

Karena kalau dokumentasi itu untuk orang lain, kita akan cenderung memilih momen yang kelihatan bagus, bukan momen yang terasa paling bermakna. Dan kita akan lebih sibuk mengambilnya dari sudut yang tepat daripada benar-benar ada di dalamnya.

Dokumentasi yang paling berharga itu yang tidak ada yang lihat selain kamu dan keluarga kamu sendiri. Foto makan malam yang berantakan. Video anak yang lagi tantrum sebelum akhirnya bisa ditenangkan. Rekaman suara anak yang cerita tentang sesuatu yang tidak masuk akal tapi penuh semangat.

Momen-momen itu tidak ada yang minta, tidak ada yang like, tapi itu yang paling jujur soal siapa kamu sebagai Daddy.

Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?

Cocok kalau kamu: sudah punya anak tapi merasa momen berlalu terlalu cepat dan kamu tidak punya banyak yang bisa diingat dari bulan-bulan terakhir, atau kamu sadar ponsel sering jadi penghalang antara kamu dan anak.

Mungkin belum waktunya kalau: anak kamu masih sangat kecil dan kamu masih di fase bertahan hidup sebagai orang tua baru. Di fase itu, tidak apa-apa untuk lebih fokus ke istirahat dan kelangsungan daripada ritual dokumentasi yang teratur.

Untuk Daddy yang Mau Lebih Hadir

Saya bahas banyak hal soal jadi Daddy yang hadir, termasuk cara mengatur waktu dan sistem kerja yang tidak menyita semua energi kamu, di newsletter Not A Perfect Daddy. Kalau mau dapat kiriman tiap minggu langsung di email, masuk dari link di bawah ini.

Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apakah anak yang masih kecil akan merasakan perbedaannya kalau saya lebih hadir?

Ya, dan lebih cepat dari yang kamu bayangkan. Anak kecil sangat sensitif terhadap kualitas perhatian, bukan hanya kehadiran fisik. Mereka tahu ketika kamu benar-benar melihat mereka versus ketika kamu ada tapi pikiran kamu di tempat lain. Ini bukan klaim yang berlebihan, ini yang sering diceritakan para orang tua yang mulai sadar dan mengubah caranya.

Bagaimana kalau istri saya yang lebih sering merekam dan saya merasa ini bukan prioritas saya?

Tidak ada yang wajib melakukan ini. Tapi kalau kamu merasa kurang punya kenangan yang berarti dari waktu bersama anak, itu mungkin sinyal bahwa ada sesuatu yang bisa diubah dari cara kamu hadir di momen-momen itu. Mendokumentasikan hanya salah satu cara, bukan satu-satunya cara untuk merasa lebih connected.

Apakah anak yang lebih besar, misalnya yang sudah 8 tahun, masih butuh saya hadir dalam arti yang sama?

Butuhnya berbeda tapi tidak kurang. Anak yang lebih besar sudah bisa mengurus dirinya lebih mandiri, tapi mereka masih perlu tahu bahwa Daddy mereka ada dan tertarik dengan kehidupan mereka. Bedanya sekarang mereka bisa mengungkapkan kalau merasa diabaikan, dan itu bisa menjadi percakapan yang penting kalau kamu mau dengarkan.

Bagaimana dengan Daddy yang bekerja dari pagi sampai malam dan hampir tidak punya waktu?

Ini yang paling susah untuk dijawab dengan jujur. Tidak ada rumus ajaib. Yang saya bisa bilang: kalau memang hanya ada 30 menit dalam sehari yang bisa kamu berikan tanpa gangguan, prioritaskan kualitas 30 menit itu lebih dari segalanya. Tidak ada ponsel, tidak ada pikiran pekerjaan, hanya kamu dan anak. 30 menit yang penuh perhatian itu lebih berharga dari 3 jam yang setengah ada.

Apakah ada hubungannya antara cara saya mendokumentasikan dengan cara anak saya ingat masa kecilnya nanti?

Ada, dan ini yang kadang bikin saya berpikir lebih panjang. Memori anak terbentuk sebagian dari apa yang mereka rasakan, bukan hanya apa yang terjadi. Anak yang ingat Daddynya selalu merekam mereka tapi jarang ikut main akan punya memori yang berbeda dari anak yang ingat Daddynya sering duduk di lantai main bersama mereka. Foto yang kamu ambil itu kenangan untuk kamu. Cara kamu hadir itu kenangan untuk mereka.