Saya inget banget waktu itu anak saya yang pertama, umur sekitar 2,5 tahun, lagi main di lantai. Saya pulang, masuk pintu, bilang “hei sayanggg” dengan nada yang menurut saya sudah sangat hangat dan ramah. Anak saya lirik sebentar, lalu balik main lagi.
Istri saya yang duduk di sudut ruangan bilang santai, “dia lagi fokus.”
Tapi di dalam saya ada sesuatu yang tidak enak. Bukan cemburu, bukan marah, tapi semacam… pertanyaan. Kenapa rasanya anak saya lebih “nyaman” main sendiri daripada lari ke saya?
Saya pikir waktu itu masalahnya adalah waktu. Saya terlalu sering tidak ada, jadi koneksinya tipis. Logis kan. Makanya solusi yang saya coba adalah: ada lebih sering. Pulang lebih awal. Weekend full di rumah. Tidak pegang HP.
Dan itu membantu, tapi tidak sepenuhnya menjawab pertanyaan itu.
Beberapa bulan kemudian saya ngobrol dengan seorang teman yang anaknya, walaupun ayahnya kerja 10 jam sehari 6 hari seminggu, begitu Daddy pulang langsung lari sambil teriak. Saya tanya apa rahasianya.
Dia bilang hal yang sederhana tapi bikin saya mikir: “Waktu saya ada, saya ada sepenuhnya. Dan cara saya ada itu anak saya suka.”
Cara saya ada itu anak saya suka.
Itu yang belum saya pikirkan.
Masalahnya Bukan Selalu Waktu
Ada brand yang produknya bagus, margin besar, tapi tetap tidak laku. Setelah diaudit, ternyata yang bermasalah bukan produknya dan bukan juga iklannya. Yang bermasalah adalah narasinya. Cara mereka berbicara ke market tidak connect.
Saya pikir ini berlaku juga untuk Daddy.
Banyak Daddy yang sudah ada di rumah. Sudah hadir secara fisik. Tapi koneksi dengan anak masih terasa tipis. Dan terlalu mudah untuk menyalahkan waktu: “ah, karena saya sering kerja.” Padahal mungkin waktu bukan satu-satunya masalah.
Mungkin yang perlu diperiksa adalah narasinya. Cara kita hadir.
Pertanyaan yang lebih tepat mungkin bukan “sudah berapa jam saya ada?” tapi “waktu saya ada, apa yang anak saya rasakan?”
Tiga Pola “Narasi” Daddy yang Bikin Anak Jaga Jarak
Saya tidak akan pura-pura punya data riset ilmiah soal ini. Tapi dari mengamati diri sendiri dan ngobrol dengan beberapa Daddy lain, ada tiga pola yang sering muncul.
Pola Pertama: Daddy Hadir Tapi Dalam Mode Instruktur
Setiap interaksi dengan anak berisi koreksi atau arahan. “Jangan begitu.” “Duduk yang bener.” “Ini bukan cara yang benar.” “Kok mainnya kayak gitu.”
Saya dulu sering seperti ini dan saya tidak sadar. Rasanya seperti saya peduli dan membantu. Tapi dari sisi anak, yang mereka terima adalah: setiap kali Daddy ada, ada sesuatu yang salah dengan saya.
Lama-lama anak belajar untuk tidak terlalu banyak interaksi dengan Daddy karena interaksi itu hampir selalu ada evaluasinya.
Pola Kedua: Daddy Hadir Tapi Terganggu
Ini yang klasik. Tubuh ada, tapi pikiran tidak ada. Mata di HP. Telinga di notifikasi. Anak ngomong tapi kamu cuma bilang “iya, iya” tanpa benar-benar mendengar.
Yang berbahaya dari pola ini adalah anak kecil itu peka. Mereka tahu. Mereka tahu kapan didengarkan sungguh-sungguh dan kapan tidak. Dan mereka belajar dari itu juga.
Pola Ketiga: Daddy yang Hanya Muncul Saat “Ada Agenda”
Ini yang paling halus. Daddy hadir ketika ada momen yang ingin di-capture. Waktu makan bersama yang sempurna. Waktu bermain yang terasa “seharusnya momen yang hangat.” Tapi di luar momen-momen itu, ada jarak.
Anak kecil tidak tahu bedanya momen yang kamu rancang dan momen yang natural. Tapi mereka tahu mana yang terasa nyambung dan mana yang terasa dipaksakan.
Yang Perlu Diubah: Bukan Banyaknya Waktu, Tapi Kualitas “Narasi”
Ini bukan artikel soal cara bermain dengan anak yang sempurna. Saya bukan ahli parenting.
Tapi yang saya pelajari sendiri, dan ini agak terasa aneh tapi ternyata berhasil, adalah memperhatikan bagaimana cara saya berinteraksi bukan seberapa banyak saya berinteraksi.
Konkretnya ada beberapa hal kecil yang saya ubah:
Pertama, 10 menit pertama waktu ketemu itu kunci. Waktu pulang kerja atau bangun pagi, 10 menit pertama ketemu anak saya usahakan full attention. Bukan langsung tanya “sudah makan?” atau “tadi main apa?” tapi ikut apa yang mereka lagi lakukan. Masuk ke dunia mereka, bukan tarik mereka ke dunia saya.
Ini kelihatan kecil tapi efeknya konsisten. Anak saya sekarang sudah lebih sering lari ke saya waktu saya pulang. Bukan karena saya ada lebih lama, tapi karena dia tahu waktu saya datang ada 10 menit yang “milik dia.”
Kedua, ganti mode instruktur ke mode penasaran. Ini yang paling susah untuk saya. Kalau anak main, alih-alih bilang “bukan begitu caranya,” saya coba bilang “wah kamu main apa nih?” atau “itu gimana caranya?”
Dua pertanyaan itu terasa bodoh tapi anak saya langsung antusias menjelaskan. Dan saya mendengarkan sungguh-sungguh. Sesi 15 menit seperti ini kadang terasa lebih “dekat” dari satu hari penuh di rumah dengan interaksi yang tidak fokus.
Ketiga, turunin ekspektasi dari setiap interaksi. Tidak semua waktu bersama harus jadi momen yang hangat dan bermakna. Kadang anak mau sendiri. Kadang dia tidak mau diajak bermain. Itu tidak apa-apa. Yang penting saya tidak memaksa dan saya tetap ada di latar.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Saya tidak bisa bilang ini sudah sempurna. Masih ada hari-hari di mana saya pulang dan lebih sibuk mikirin pekerjaan yang belum selesai daripada beneran hadir untuk anak saya.
Tapi yang berubah adalah kesadaran saya lebih cepat. Dulu kalau sudah setengah jam di rumah baru sadar “eh, saya belum beneran ngobrol sama anak.” Sekarang biasanya 5-10 menit sudah sadar dan bisa koreksi.
Untuk hadir untuk anak tidak butuh waktu yang tidak kita punya. Kadang butuh cara yang berbeda dalam waktu yang sama.
Anak saya sekarang hampir 4 tahun. Dia sudah bisa bilang “Daddy duduk sini” waktu mau main. Bukan karena saya ada lebih sering, tapi karena waktu saya ada, dia tahu saya benar-benar di sana.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: Daddy yang sudah berusaha ada di rumah lebih sering tapi masih merasa ada jarak dengan anak. Atau Daddy yang baru sadar pola interaksinya lebih banyak dalam mode koreksi atau instruksi.
Mungkin belum waktunya kalau: Kamu sedang dalam fase krisis waktu ekstrem, misalnya baru ganti kerjaan, ada proyek besar yang makan 80% energimu. Di situasi itu, perubahan gaya interaksi penting tapi yang lebih urgent adalah menyelesaikan krisis waktu dulu baru bisa konsisten.
Kalau Kamu Mau Belajar Lebih Dalam Soal Ini
Saya sesekali nulis soal pola kehadiran Daddy ini di newsletter. Termasuk framework kecil yang saya coba dan yang tidak berhasil. Kalau mau saya kirim langsung ke email kamu, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy dulu.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Anak saya sudah 5 tahun dan sudah terbentuk polanya lebih dekat ke ibu. Masih bisa diubah?
Bisa, tapi perlu ekspektasi yang realistis. Di usia 5 tahun anak sudah cukup punya “model” soal siapa Daddy bagi dia. Mengubah itu bukan satu-dua interaksi yang dramatis tapi konsistensi selama berminggu-minggu. Yang sering berhasil adalah menemukan satu aktivitas yang jadi “territory kamu dan anak” dan kamu jagain itu konsisten. Misalnya: mandi pagi, atau baca buku sebelum tidur, atau sarapan hari Minggu. Satu ritual kecil yang konsisten itu lebih efektif dari banyak momen besar yang tidak rutin.
Bagaimana kalau saya sudah coba tapi anak tetap lebih minta ke ibunya?
Itu normal, terutama di usia di bawah 3 tahun. Anak kecil punya attachment hierarchy yang terbentuk dari pengasuh utamanya. Kalau ibu adalah pengasuh utama, anak akan default ke ibu untuk kebutuhan emosional. Tugas Daddy bukan bersaing dengan ibu tapi membangun “lane” sendiri. Kamu punya hal-hal yang bisa jadi spesialisasi Daddy: petualangan kecil, hal-hal seru yang agak menantang, eksplorasi. Masuk dari sana, bukan mencoba mengisi peran yang sudah terisi oleh ibu.
Kalau saya kerja dari rumah, apa lebih mudah membangun koneksi dengan anak?
Tidak otomatis. Kerja dari rumah bisa menciptakan ilusi bahwa kamu “ada” padahal kamu di mode kerja penuh. Anak bisa jadi lebih frustasi karena mereka lihat kamu tapi tidak bisa akses kamu. Yang penting adalah ada “boundary waktu” yang jelas: ini waktu kerja (pintu kamar tertutup atau kamu di pojok tertentu), ini waktu bersama anak (HP masuk laci, laptop tutup). Tanpa boundary itu, kerja dari rumah justru bisa lebih membingungkan untuk anak daripada Daddy yang berangkat kerja dan pulang dengan jelas.
Apakah cara hadir ini harus selalu “playful” dan penuh energi?
Tidak harus. Ini yang bikin banyak Daddy capek: merasa setiap momen dengan anak harus jadi momen yang energik dan penuh semangat. Anak juga butuh Daddy yang tenang, yang bisa duduk diam di sebelah mereka sementara mereka main sendiri, yang tidak harus selalu jadi entertainer. “Hadir yang tenang” juga valid. Yang penting perhatian kamu ada di sana, bukan di tempat lain.
Saya sering merasa bersalah karena tidak bisa hadir lebih banyak. Apa yang harus saya lakukan dengan perasaan itu?
Rasa bersalah itu tidak akan pergi hanya karena ditekan. Yang biasanya membantu adalah mengubah energi itu jadi aksi konkret yang kecil dan bisa langsung dilakukan. Bukan “saya harus jadi Daddy yang lebih baik” yang abstrak, tapi “besok pagi saya mau duduk di lantai 10 menit sebelum anak sarapan dan ikut apa yang dia lakukan.” Satu langkah lebih jauh setiap hari lebih sustainable dari satu resolusi besar yang tidak konsisten.

