Saya ingat betul momen itu.

Anak saya yang pertama berumur sekitar dua tahun. Kami lagi di mall, dan dia mau mainan yang tidak saya belikan. Dia nangis, kemudian tantrum, dan saya duduk di kursi dekat kasir sambil menunggu dia selesai.

Ada ibu-ibu yang lewat dan lihat saya. Ekspresinya campuran antara simpati dan sedikit heran, mungkin juga sedikit menghakimi, kenapa anak ini dibiarkan tantrum begitu saja tanpa orang tuanya turun tangan lebih aktif.

Saya waktu itu tidak yakin apakah saya melakukan hal yang benar. Saya pernah baca bahwa membiarkan anak tantrum tanpa bereaksi berlebihan itu bagus untuk pembelajaran emosi. Tapi saya juga pernah baca artikel lain yang bilang kamu harus aktif bantu anak mengelola emosinya di momen seperti itu, tidak bisa cukup hanya hadir secara pasif.

Dua sumber, dua pendapat yang berbeda, dua sumber rasa bersalah yang berbeda juga.

Ketika Standar Tidak Dibuat untuk Kondisi Kamu

Saya bukan orang tua pertama yang merasa seperti ini. Dari yang saya dengar di berbagai percakapan dengan sesama Daddy, perasaan tidak pernah cukup memenuhi standar parenting yang “benar” itu sangat umum, terutama bagi ayah yang juga bekerja penuh dengan waktu yang terbatas.

Masalahnya bukan bahwa standar-standar itu salah. Banyak yang berdasarkan penelitian yang cukup solid. Masalahnya adalah standar itu sering dipresentasikan sebagai universal, padahal dibuat dengan asumsi kondisi tertentu.

Misalnya, standar screen time anak yang sangat ketat. Ini masuk akal kalau kamu punya waktu cukup untuk terus berinteraksi aktif dengan anak sepanjang hari. Tapi kalau kamu single parent, atau keduanya bekerja, atau ada kondisi kesehatan di keluarga yang menyita waktu dan energi, penerapan standar itu bisa sangat berbeda.

Atau standar tentang meal time yang harus selalu makan bersama di meja makan tanpa gadget. Ideal, iya. Tapi kalau kondisi rumah tangga kamu berbeda dari kondisi ideal itu, apakah setiap malam kamu tidak berhasil melakukan itu berarti kamu orang tua yang gagal?

Saya tidak percaya itu.

Yang Saya Pelajari dari Mempertanyakan Standar Sendiri

Ini bukan berarti semua standar parenting harus dicurigai atau diabaikan. Ada yang memang solid dan perlu diikuti. Tapi ada cara yang lebih sehat untuk mendekatinya.

Pertama, bedakan antara prinsip dan teknik. Prinsip seperti “anak butuh merasa aman dan dicintai” itu hampir universal. Tapi tekniknya, apakah itu melalui makan bersama setiap hari, atau ritual sebelum tidur tertentu, atau metode disiplin yang spesifik, itu lebih bergantung pada konteks.

Kamu bisa setia pada prinsip sambil fleksibel dalam teknik. Dan fleksibel dalam teknik bukan berarti kamu tidak serius dengan parenting kamu.

Kedua, tanya “ini cocok untuk kondisi kami tidak?” bukan “apakah ini yang seharusnya dilakukan?” Pertanyaan pertama berbasis realita. Pertanyaan kedua berbasis standar abstrak yang mungkin tidak relevan.

Ini terdengar simple, tapi butuh waktu untuk biasain diri. Karena tekanan sosial dari standar parenting itu nyata, dan ada judgement yang kamu rasakan, baik dari orang lain maupun dari diri sendiri, ketika kamu pilih pendekatan yang berbeda.

Momen yang Mengubah Cara Saya Melihat Ini

Anak saya sekarang sudah delapan tahun. Dan kalau saya refleksi, momen-momen yang paling dia ingat bukan momen di mana saya berhasil memenuhi checklist parenting yang “benar.”

Yang dia ingat adalah waktu kami bikin proyek kecil bersama di rumah. Waktu saya duduk di lantai dan main lego sampai malam. Waktu saya dengerin ceritanya tentang sesuatu yang terjadi di sekolah tanpa terburu-buru.

Bukan karena saya selalu ada sepanjang waktu. Saya bekerja, dan ada periode di mana saya sangat sibuk. Tapi ketika saya hadir, saya benar-benar hadir untuk anak, dan itu yang dia rasakan.

Ini bukan saran bahwa “cukup hadir sebentar tapi berkualitas” adalah solusi untuk semua masalah. Bukan. Tapi ini mengingatkan saya bahwa standar parenting yang saya khawatirkan selama ini sering lebih ada di kepala saya daripada di kebutuhan nyata anak saya.

Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya

Saya tidak punya sistem parenting yang sempurna. Sampai sekarang masih sering ada momen di mana saya tidak yakin apakah respons saya sudah tepat, atau apakah keputusan tertentu yang kami buat sebagai orang tua akan berdampak baik jangka panjang.

Tapi yang berubah adalah cara saya memproses ketidakyakinan itu. Saya tidak lagi langsung merasa bersalah hanya karena pendekatan saya berbeda dari standar yang populer. Saya mulai tanya dulu: apa buktinya bahwa standar ini berlaku untuk konteks kami? Ada tidak alternatif yang mungkin lebih cocok?

Kadang jawabannya adalah “standar itu memang valid dan perlu kami ikuti.” Tapi kadang jawabannya adalah “standar itu dibuat untuk situasi berbeda, dan yang lebih cocok untuk kami adalah…”

Dan itu OK.

Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?

Cocok kalau kamu: Daddy yang sering merasa bersalah karena tidak bisa memenuhi standar parenting yang populer, tapi kondisi hidupmu memang berbeda dari asumsi di balik standar itu. Atau kamu yang mendapat banyak saran parenting dari berbagai arah dan bingung harus pegang yang mana.

Mungkin belum waktunya kalau: Kamu sedang di fase sangat awal parenting dan belum punya cukup pengalaman untuk membedakan mana yang memang tidak cocok dan mana yang belum nyaman karena masih baru. Di fase ini, mungkin lebih berguna untuk coba dulu beberapa pendekatan sebelum mulai menyaringnya.

Kalau kamu mau terus diskusi tentang ini

Ini persis topik yang sering muncul di newsletter Not A Perfect Daddy. Saya berbagi pengalaman saya sendiri, termasuk yang masih saya pertanyakan dan belum yakin, bukan sebagai panduan parenting yang sempurna tapi sebagai sesama Daddy yang juga masih belajar.

Kalau mau saya kirim refleksi seperti ini langsung ke email kamu, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini — gratis, dan saya kirim tiap minggu.

Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →

Pertanyaan yang Sering Muncul

Bagaimana cara menjelaskan ke orang yang lebih tua (mertua, orang tua) kalau kita memilih pendekatan parenting yang berbeda?

Ini salah satu tantangan yang paling sering saya dengar. Yang biasanya lebih berhasil adalah fokus pada tujuan yang sama (“kita semua mau yang terbaik untuk anak ini”) daripada fokus pada perbedaan metode. Dan pilih waktu yang tepat untuk diskusi ini, bukan di tengah momen yang sudah emosional. Kalau pun tidak ada kesepakatan, kamu tetap bisa menghargai niat mereka sambil tetap berpegang pada keputusan yang kamu dan pasangan sudah sepakati bersama.

Bagaimana cara tidak membandingkan anak saya dengan anak lain yang sepertinya “lebih mudah” diurus?

Perbandingan itu natural tapi jarang berguna. Yang perlu diingat adalah bahwa kamu tidak melihat keseluruhan gambar dari anak lain. Apa yang terlihat mudah dari luar mungkin punya tantangannya sendiri yang tidak terlihat. Lebih berguna untuk fokus pada perkembangan anak kamu sendiri dibanding dengan standar anak orang lain.

Kalau suami dan istri punya pendekatan parenting yang berbeda, siapa yang harus mengalah?

Tidak harus ada yang mengalah secara total. Yang lebih sehat adalah mencari tahu apa yang menjadi dasar dari masing-masing pendekatan, dan apakah ada cara untuk mengintegrasikan keduanya. Anak yang melihat orang tuanya bisa berbeda pendapat tapi tetap konsisten dalam nilai-nilai utama justru belajar banyak dari itu. Yang perlu disepakati adalah nilai-nilai inti, bukan teknik spesifik.

Apakah tidak apa-apa kalau standar parenting kita berubah seiring waktu?

Sangat oke. Anak yang sama pun punya kebutuhan yang berubah seiring umur. Dan kamu sebagai orang tua juga belajar terus. Berubah bukan berarti tidak konsisten, berubah karena ada pembelajaran baru itu justru tanda bahwa kamu serius. Yang perlu dijaga adalah perubahan itu dikomunikasikan, terutama ke anak yang sudah cukup besar untuk memahaminya.

Bagaimana cara tidak terlalu keras pada diri sendiri ketika membuat kesalahan parenting?

Ini mungkin yang paling sulit. Yang membantu saya adalah mengingatkan diri bahwa tidak ada orang tua yang tidak pernah salah, termasuk orang tua yang terlihat paling “benar” dari luar. Yang membedakan bukan ketiadaan kesalahan, tapi bagaimana kamu merespons dan belajar dari kesalahan itu. Kalau kamu minta maaf ke anak ketika kamu melakukan sesuatu yang tidak tepat, itu sendiri sudah mengajarkan sesuatu yang sangat berharga.