Saya pernah bikin digital product yang menurut saya bagus. Judulnya tepat, desainnya bersih, materinya lengkap. Buang waktu sekitar 3 minggu bikinnya – waktu yang cukup berharga untuk seorang Daddy dengan waktu terbatas.
Hasilnya? Penjualan sangat sepi. Bukan karena harganya terlalu mahal atau terlalu murah. Bukan karena tidak ada yang tahu. Tapi karena saya memulai dari yang ingin saya ajarkan, bukan dari apa yang sebenarnya audience butuhkan.
Itu pelajaran mahal yang seharusnya bisa dihindari dengan riset market yang benar sejak awal.
Mengapa Produk yang “Bagus” Seringkali Tidak Laku
Ada asumsi yang hampir semua orang buat waktu pertama kali membuat digital product: kalau saya menguasai topik ini dan topiknya berguna, pasti ada yang beli.
Asumsi itu tidak sepenuhnya salah, tapi tidak cukup.
Yang menentukan apakah produk laku bukan apakah topiknya berguna secara objektif, tapi apakah produk itu terasa seperti jawaban yang tepat untuk masalah spesifik yang dirasakan audience pada saat ini.
“Kursus manajemen waktu” adalah topik yang berguna. Tapi orang tidak bangun pagi sambil berpikir “saya butuh kursus manajemen waktu.” Mereka bangun pagi sambil berpikir “saya tidak punya waktu buat anak malam ini lagi.” Atau “saya tidak bisa tidur karena deadline besok dan anak sakit.” Atau “saya sudah bulan kedua tidak nabung sama sekali.”
Produk yang menjawab masalah spesifik itu laku. Produk yang menjual topik generik bersaing dengan ribuan produk lain yang menjual topik yang sama.
Riset market adalah proses untuk menemukan masalah spesifik itu sebelum kamu buang waktu dan energi bikin produk.
Dua Hal yang Harus Kamu Ketahui Sebelum Buat Apapun
Masalah Spesifik Mereka
Bukan “kurang produktif” atau “ingin penghasilan lebih.” Tapi masalah konkret: “sudah 3 bulan uang di rekening tidak naik meski sudah coba freelance” atau “kerja sampingan selalu terhenti di bulan pertama karena kehabisan ide atau waktu.”
Makin spesifik masalah yang bisa kamu identifikasi, makin mudah kamu buat produk yang terasa seperti solusi yang dicari, bukan yang diterima.
Keinginan Spesifik Mereka
Ini sedikit berbeda dari masalah. Masalah adalah kondisi sekarang yang ingin dihindari, keinginan adalah kondisi ideal yang ingin dicapai.
Dan keinginan itu sangat dipengaruhi oleh konteks hidup. Daddy karyawan berusia 30 tahun yang ingin income tambahan motif utamanya mungkin “supaya istri bisa resign dan fokus ke anak.” Daddy yang sama berusia 38 tahun mungkin motivasi utamanya “supaya bisa lunasi KPR lebih cepat dan tidak ada beban bulanan sebesar itu.”
Produk yang sama dengan messaging yang berbeda bisa bekerja untuk keduanya, tapi kamu harus tahu mana yang sedang kamu targetkan.
Framework Riset Market dengan AI
Ini proses yang saya pakai sekarang sebelum mulai memikirkan produk apapun.
Sesi 1: Petakan Audience dengan Detail
Mulai dengan mendeskripsikan target audience kamu secara detail. Bukan kategori luas, tapi profil spesifik:
- Usia dan status keluarga
- Situasi pekerjaan (karyawan/wiraswasta, industri apa, level karir)
- Kondisi finansial secara kasar
- Masalah utama yang sudah kamu tahu mereka hadapi
- Apapun yang kamu tahu soal rutinitas dan konteks hidup mereka
Kemudian minta AI: “Berikan saya 20 masalah paling spesifik yang dialami orang dengan profil ini dalam konteks [topik produk yang kamu mau buat]. Setiap masalah harus berupa situasi konkret yang bisa terjadi dalam 1 minggu kehidupan mereka.”
Sesi 2: Gali Lebih Dalam
Dari 20 masalah yang muncul, pilih 3-5 yang paling kuat menurut kamu. Untuk setiap masalah, minta AI: “Ceritakan 5 momen spesifik di mana seseorang dengan profil ini mengalami masalah ini.”
Output sesi ini adalah bank detail situasi yang bisa kamu pakai untuk dua hal: copy produk dan topik konten yang menarik target audience yang tepat.
Sesi 3: Temukan Keinginan di Balik Masalah
Untuk setiap masalah utama yang sudah kamu identifikasi, tanya: “Apa yang sebenarnya diinginkan orang yang mengalami masalah ini? Bukan solusi teknisnya, tapi kondisi ideal dalam kehidupan sehari-hari mereka yang mereka inginkan.”
Ini akan memberi kamu bahasa yang mereka pakai untuk describe apa yang mereka cari, yang sangat berguna untuk judul produk, deskripsi, dan konten marketing.
Validasi Sebelum Buat Produk
Riset AI adalah fondasi, tapi validasi dengan orang nyata tetap penting. Tidak harus formal. Cara paling mudah:
Posting satu konten yang bicara soal masalah spesifik yang kamu temukan dari riset. Lihat apakah ada yang berkomentar “ini persis kondisi saya” atau sejenisnya. Itu validasi yang cukup untuk mulai.
Atau kalau kamu sudah punya grup chat atau network: tanya langsung. “Hei, saya lagi pertimbangkan bikin [deskripsi produk]. Masalah yang saya mau solve adalah [masalah spesifik]. Apakah ini relevan dengan kamu?” Jujur, sederhana, dan hasilnya lebih berharga dari survey panjang.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Setelah pengalaman produk yang tidak laku itu, sekarang saya tidak mulai proses pembuatan produk apapun sebelum punya setidaknya 10 situasi konkret yang saya yakin dirasakan target audience.
Prosesnya tidak selalu mulus. Kadang setelah riset saya sadar bahwa produk yang ingin saya buat sebenarnya menjawab masalah yang tidak sepenting yang saya kira. Dan itu lebih baik ditemukan sebelum produk selesai dibuat daripada setelah.
Dengan 2-4 jam kerja sehari yang saya punya untuk side hustle, tidak ada margin untuk buang waktu bikin produk yang salah. Riset yang benar di awal adalah satu-satunya cara kerja cerdas yang saya kenal.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: sudah punya topik yang mau dijadikan digital product, atau sudah pernah buat produk tapi tidak laku dan tidak tahu kenapa. Juga berguna kalau kamu baru mau mulai dan ingin fondasi yang kuat sejak awal.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu belum punya topik sama sekali. Riset market butuh setidaknya satu titik awal, satu area keahlian atau pengalaman yang mau kamu jadikan produk.
Buat Kamu yang Serius Mau Mulai Digital Product
Di newsletter Not A Perfect Daddy, saya kadang tulis lebih detail soal proses ini termasuk template prompt yang saya pakai. Kalau mau masuk ke mailing list, tidak ada biaya dan saya tidak spam.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah saya harus bayar untuk tool riset market?
Tidak perlu. AI yang sudah ada (ChatGPT gratis, Claude gratis) cukup untuk proses ini. Tool berbayar seperti platform riset keywords berguna untuk validasi tambahan, tapi bukan keharusan di tahap awal. Yang paling berharga adalah kualitas observasi dan deskripsi audience kamu, bukan tool-nya.
Topik saya sudah punya banyak pesaing. Apakah masih worth untuk masuk?
Banyak pesaing justru sinyal bahwa ada permintaan. Yang perlu kamu cari adalah angle yang lebih spesifik yang belum banyak dijawab. Riset market yang baik akan membantu kamu menemukan celah itu: subsegmen audience yang punya kebutuhan spesifik yang produk-produk yang ada belum benar-benar menjawabnya.
Berapa lama seharusnya satu produk dikerjakan sebelum launching?
Ini sangat bervariasi, tapi untuk Daddy dengan waktu terbatas: target 4-6 minggu dari nol ke produk minimal yang bisa dilaunching. Lebih penting launching cepat dan dapat feedback nyata daripada menunggu produk sempurna yang tidak pernah keluar. Riset market yang baik di awal justru mempersingkat waktu pengerjaan karena kamu tahu persis apa yang perlu ada dan apa yang tidak.
Apakah riset market ini beda untuk digital product vs konten gratis?
Prosesnya sama, tapi levelnya berbeda. Untuk konten gratis, kamu butuh paham situasi audience secara umum supaya konten terasa relevan. Untuk produk berbayar, kamu butuh memahami masalah secara lebih dalam – termasuk seberapa besar masalah itu mengganggu kehidupan mereka dan seberapa lama mereka sudah mencari solusinya. Orang bayar untuk solusi masalah yang sudah lama mereka coba selesaikan sendiri tapi belum berhasil.
Apa tanda bahwa riset saya sudah cukup untuk mulai?
Dua tanda yang saya pegang: pertama, kamu bisa menyebutkan 10 situasi spesifik yang dialami target audience kamu tanpa perlu berpikir lama. Kedua, waktu kamu ceritakan masalah itu ke satu orang nyata yang masuk kategori target audience, mereka bilang “itu persis saya.” Kalau dua itu sudah ada, kamu sudah bisa mulai.

