Ada momen yang saya ingat dengan cukup jelas. Waktu itu saya sedang review jadwal 2 bulan terakhir dan saya lihat kalender saya penuh. Meeting, follow-up, ngerjain request, bikin konten, balas pesan. Dari mata siapa pun, saya kelihatan produktif.
Tapi waktu saya cek hasilnya, yang baru hampir tidak ada. Tidak ada klien baru. Tidak ada proyek baru yang dimulai. Tidak ada eksperimen yang dicoba. Semua yang saya kerjakan, well, melayani yang sudah ada.
Dan ini yang membuat saya berhenti sebentar.
Demand Gen yang Tidak Menghasilkan yang Baru
Di dunia Google Ads ada jenis campaign yang namanya Demand Gen. Idenya bagus di atas kertas: jangkau orang baru, buat demand baru, akuisisi pelanggan baru. Tapi yang terjadi setelah diuji dengan eksperimen yang ketat, campaign ini ternyata sebagian besar hanya menjangkau orang yang sudah kenal brand. Bukan pelanggan baru. Returning customer.
Kelihatan berhasil di permukaan karena ada konversi. Tapi kalau dibedah, tidak ada incremental yang nyata. Tidak ada pertumbuhan. Yang terjadi hanya mengakselarasi keputusan orang yang memang sudah mau beli.
Habis investasi besar. Tidak ada yang baru.
Dan ini lebih umum di kehidupan Daddy dari yang kita sadari.
Aktivitas yang Terasa Produktif tapi Cuma Menyenangkan yang Sudah Ada
Saya tidak bicara soal membuang-buang waktu di hal yang jelas sia-sia. Itu mudah diidentifikasi. Yang lebih berbahaya adalah aktivitas yang terasa produktif, legitimate, bahkan penting, tapi sebetulnya hanya menyentuh hal yang sudah ada.
Beberapa contoh yang sering saya lihat, dan yang pernah saya alami sendiri.
Posting konten ke audiens yang sama
Kamu posting 3x seminggu di Instagram. Ada engagement. Ada komentar dari orang-orang yang sudah follow kamu sejak lama. Rasanya produktif karena ada respons. Tapi kalau follower baru yang belum pernah kenal kamu tidak bertambah dalam 2 bulan, kamu sedang menghibur audiens lama, bukan menarik yang baru. Dua hal yang terasa sama dari luar, tapi hasilnya sangat berbeda.
Networking dengan orang yang sudah kenal
Kopi darat, zoom call, follow-up WhatsApp dengan kontak lama. Ini tidak salah. Menjaga hubungan itu penting. Tapi kalau 90% energi networking kamu habis di situ dan kamu tidak pernah menjangkau orang baru sama sekali, jaringan kamu tidak tumbuh. Hanya dipertahankan. Dan jaringan yang statis di dunia yang bergerak cepat, lama-lama jadi jaringan yang menyusut.
Belajar hal yang sudah kamu tahu
Ini yang paling subtle. Beli kursus soal topik yang sudah kamu pahami 70% karena merasa ada “gap” kecil yang perlu diisi. Baca buku yang confirm apa yang sudah kamu yakini. Dengerin podcast dari podcaster favorit yang sudah predictable angle-nya. Semua itu membuat kamu merasa belajar, padahal kamu sedang mengkonsumsi echo chamber milik sendiri.
Mengoptimasi yang sudah berjalan vs membangun yang baru
Tweaking proses yang sudah exist. Mempercantik sistem yang sudah cukup bagus. Memperbaiki hal yang sudah 80% benar jadi 85% benar. Ada nilainya, tapi kalau semua waktu habis di sini dan tidak ada yang baru dibangun, kamu menginvestasikan energi untuk diminishing returns.
Kenapa Ini Terjadi, dan Kenapa Susah Dihentikan
Aktivitas comfort ini tidak terasa seperti buang waktu. Justru sebaliknya. Ada feedback loop yang terus bilang “kamu produktif, kamu kerja, kamu tidak santai-santai.”
Otak kita memang dirancang untuk prefer aktivitas yang familiar dengan feedback yang cepat. Posting konten dan langsung ada likes itu dopamine hit yang nyata. Ngobrol dengan orang yang sudah kenal kamu itu menyenangkan karena tidak ada friction. Belajar hal yang sudah kamu kuasai 70% itu mudah diserap karena sudah ada konteks di kepala.
Sedangkan hal yang benar-benar baru itu tidak nyaman. Tidak ada jaminan ada yang respon. Tidak tahu apakah akan berhasil. Energinya lebih besar, feedbacknya lebih lama, dan kemungkinan gagalnya lebih tinggi.
Makanya otak kita dengan sangat terampil menggantikan yang baru dengan yang familiar, dan memberi label “ini juga kerja.”
Buat Daddy yang waktu produktifnya sudah terbatas, mungkin cuma 2-4 jam di luar pekerjaan utama, ini lebih serius. Kalau 2 jam itu habis di aktivitas comfort semua, kita tidak maju.
Cara Bedakan Aktivitas yang Menghasilkan vs yang Tidak
Ini framework sederhana yang saya pakai untuk cek diri sendiri.
Pertanyaan Diagnosis: Apa yang Baru yang Dihasilkan dalam 8 Minggu Terakhir?
Bukan “apa yang dikerjakan”. Tapi apa yang baru dihasilkan.
Orang baru yang masuk jaringan kamu dan belum ada sebelumnya. Skill yang 8 minggu lalu kamu tidak punya dan sekarang sudah bisa dikerjakan. Income dari sumber yang 8 minggu lalu tidak ada. Proyek atau inisiatif yang belum pernah ada sebelumnya. Hubungan yang lebih dalam dengan anak atau istri yang 8 minggu lalu terasa stagnan.
Kalau jawabannya susah, atau kamu harus mikir lama, itu informasi penting.
Framework Tiga Kolom
Ambil selembar kertas atau buka notes di HP. Buat tiga kolom.
Kolom pertama: Aktivitas rutin yang kamu kerjakan tiap minggu (tuliskan semua, jangan filter dulu). Kolom kedua: Siapa yang diuntungkan dari aktivitas ini? Orang/audiens/klien yang sudah ada, atau yang baru? Kolom ketiga: Dalam 8 minggu terakhir, apa bukti nyata bahwa ini menghasilkan sesuatu yang baru?
Kalau kolom ketiga kosong atau lemah untuk sebagian besar baris, kamu sudah tahu ke mana energi kamu pergi.
Bukan Soal Hapus, tapi Soal Proporsi
Ini yang penting. Saya tidak bilang aktivitas yang menjaga yang sudah ada itu buruk. Memelihara hubungan dengan klien lama itu penting. Menjaga audiens yang sudah ada itu perlu. Belajar hal yang memperdalam yang sudah kamu tahu juga punya nilai.
Yang perlu dicek adalah proporsinya. Kalau 90% energi produktif kamu habis di memelihara yang sudah ada, dan 10% atau kurang yang tersisa untuk membangun yang baru, itu proporsi yang membuat pertumbuhan nyaris mustahil.
Saya tidak punya angka baku yang “ideal” untuk semua orang. Tapi dari apa yang saya coba sendiri, ketika proporsinya bergeser ke setidaknya 30-40% di hal yang baru, sesuatu mulai terasa berbeda dalam 2-3 bulan. Tidak dramatis. Tapi ada yang bergerak.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Saya pernah beberapa bulan di mana posting konten terasa “on track” karena jadwal terpenuhi. Tapi waktu saya cek, hampir semua yang saya posting adalah untuk audiens yang sudah ada. Tidak ada eksperimen di channel baru. Tidak ada konten yang sengaja dirancang untuk menjangkau orang yang belum pernah dengar nama saya.
Yang saya ubah bukan frekuensinya. Saya tetap posting dengan frekuensi yang sama. Tapi saya alokasikan minimal 1 dari 4 konten untuk sesuatu yang eksplisit ditujukan ke audiens baru, atau topik yang saya belum pernah coba. Hasilnya tidak langsung kelihatan dalam 2 minggu. Tapi setelah 3 bulan, ada pertumbuhan yang tidak ada sebelumnya.
Satu langkah lebih jauh dari apa yang sudah nyaman, itu yang ternyata menggerakkan jarum.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: merasa sudah konsisten kerja tapi tidak tahu kenapa tidak ada progress nyata dalam 3-6 bulan terakhir. Atau kamu yang calendar-nya penuh tapi waktu evaluasi tidak ada hasil baru yang bisa ditunjukkan.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu sedang di fase awal membangun sesuatu dari nol dan masih perlu establish basis yang kuat dulu. Di titik itu, fokus ke yang sudah ada dan perkuat itu dulu sebelum mulai ekspansi ke yang baru.
Kalau Ini Terasa Nyambung dengan Situasi Kamu
Kalau kamu mulai sadar bahwa sebagian besar waktumu habis di aktivitas comfort, dan kamu mau mulai redistribusi energinya dengan cara yang tidak mengorbankan waktu keluarga, saya bahas ini lebih jauh di newsletter Not A Perfect Daddy.
Kalau mau saya kirim langsung ke email kamu, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini, gratis, dan saya kirim tiap minggu.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy ->
Pertanyaan yang Sering Muncul
Bagaimana kalau aktivitas “comfort” itu adalah pekerjaan utama saya?
Ini konteks yang berbeda dan valid. Pekerjaan utama yang sudah establish tidak sama dengan aktivitas comfort yang menguras tanpa menghasilkan. Kalau pekerjaan utamamu sudah memberikan income yang stabil dan security keluarga, itu bukan aktivitas yang perlu ditinggalkan. Yang perlu dicek adalah aktivitas di luar pekerjaan utama yang harusnya menghasilkan pertumbuhan tapi ternyata tidak. Di situlah biasanya sumber kebocoran waktunya.
Saya tidak tahu apa yang “baru” yang harus saya kejar. Mulai dari mana?
Jangan mulai dari apa yang baru dulu. Mulai dari tanya apa yang ingin kamu punya 12 bulan dari sekarang yang belum ada sekarang. Income stream baru? Skill baru? Audiens yang lebih luas? Hubungan yang lebih dalam dengan anak? Setelah itu terbayang, baru tanya aktivitas apa yang seharusnya menggerakkan ke sana. Dari situlah kamu mulai identifikasi mana yang menghasilkan dan mana yang tidak.
Apakah konsistensi tidak penting? Bukankah konsisten adalah kunci?
Konsistensi penting, tapi konsistensi di arah yang salah tidak menghasilkan tempat yang benar. Konsisten posting setiap hari ke audiens yang sama tidak secara otomatis membuat audiens baru datang. Konsisten belajar hal yang sudah kamu tahu tidak otomatis membuka skill baru. Pertanyaannya bukan “apakah kamu konsisten” tapi “kamu konsisten ke arah apa.” Kalau arahnya sudah benar, baru konsistensi punya dampak besar.
Ini terdengar seperti saya harus selalu mengejar yang baru. Apa tidak melelahkan?
Saya tahu terdengar begitu, tapi bukan itu poinnya. Bukan semua waktu harus diisi dengan hal baru. Yang baru butuh energi lebih, dan itu memang benar. Makanya saya bilang proporsi, bukan ganti semua. Kalau 70% waktumu di hal yang sudah established dan comfortable dan 30% di hal yang baru, itu sudah jauh lebih baik dari 95% vs 5%. Kamu tidak harus selalu di mode eksplorasi. Tapi harus ada allocation yang cukup di sana untuk membuat pertumbuhan terjadi.
Bagaimana cara jelaskan ini ke diri sendiri di hari-hari di mana aktivitas comfort terasa seperti yang paling masuk akal dikerjakan?
Hari-hari itu memang akan selalu ada, dan tidak apa-apa. Yang saya coba lakukan bukan memaksa diri untuk selalu pilih yang “baru” setiap hari. Tapi saya punya satu pertanyaan sederhana yang saya tanyakan ke diri sendiri setiap minggu: minggu ini ada tidak sesuatu yang baru yang dimulai atau dicoba? Kalau jawabannya tidak dua minggu berturut-turut, itu sinyal untuk cek ulang ke mana waktu pergi.

