Sabtu pagi kemarin, anak perempuan saya yang sekarang 8 tahun lagi gambar di meja makan, dan dia manggil, “Daddy, liat deh.” Bukan manggil mama, bukan manggil siapa-siapa, manggil saya spesifik. Saya jalan ke situ, dan dia nunjuk satu bagian gambarnya yang menurut dia agak aneh, minta saya benerin garisnya. Hal kecil banget. Tapi begitu saya duduk dan mulai bantu, saya kepikiran satu hal yang agak nyangkut di kepala saya sepanjang hari itu: kalau saya gak ada seminggu, siapa yang bakal dia panggil buat hal-hal kecil kayak ini? Dan yang lebih penting, kalau saya diganti sosok ayah lain yang juga baik, juga sabar, juga available, apa yang bakal beda buat dia?
Saya gak langsung dapat jawabannya. Dan justru situ yang bikin saya berhenti sebentar.
Ini bukan soal saya ragu apakah saya ayah yang hadir atau enggak. Sejak 2018 saya udah bikin keputusan buat jadi Daddy yang benar-benar ada, bukan cuma numpang lewat di rumah sambil kerja. Tapi ada beda antara “hadir” dan “hadir dengan cara yang cuma kamu yang bisa kasih”. Dan pertanyaan itu, jujur, lebih tajam dari yang saya kira.
Kenapa “Ada di Rumah” Belum Cukup
Kita semua tahu statistiknya, atau minimal ngerasainnya. Daddy karyawan rata-rata pulang jam 6 atau 7 sore, udah capek, dan sisa energi buat interaksi sama anak sering cuma 1-2 jam sebelum semuanya tidur. Dari 1-2 jam itu, berapa yang benar-benar hadir, dan berapa yang cuma “ada secara fisik” sambil kepala masih di kerjaan atau di HP?
Ini yang saya pikir sering ketinggalan dari obrolan soal “jadi ayah yang hadir”. Kita fokus ke kuantitas: berapa jam, berapa kali seminggu, ikut acara sekolah atau enggak. Tapi ada layer lain yang jarang dibahas, yaitu: dari jam-jam itu, apa yang bikin pengalaman anak kamu sama kamu beda dari pengalaman mereka sama ayah manapun yang juga baik dan available? Kalau gak ada bedanya, berarti kamu ada, tapi kamu interchangeable. Bisa diganti siapa aja yang juga niat baik. Dan itu… entah kenapa rasanya lebih menyakitkan dibanding sekadar “kurang hadir”, karena setidaknya kalau kurang hadir kamu tahu apa yang harus diperbaiki. Kalau interchangeable, kamu udah hadir, tapi belum jelas hadir sebagai siapa.
Tes Diferensiasi: Dipinjam dari Dunia Branding, Dipakai buat Bapak-Bapak
Saya kerja di dunia digital marketing, dan salah satu konsep yang paling nempel di kepala saya soal branding datang dari buku Marty Neumeier, judulnya The Brand Gap. Dia bilang, sebelum sebuah brand bisa disebut kuat, brand itu harus bisa jawab 3 pertanyaan dengan spesifik: siapa kamu, apa yang kamu lakukan, dan kenapa itu penting. Kebanyakan brand gagal di pertanyaan ketiga, karena jawabannya generic. “Kami kasih pelayanan terbaik.” Semua orang bilang itu. Gak ada yang inget.
Dan ada satu tes yang dia sebut, simpel tapi nusuk: kalau kamu hapus nama brand kamu dari semua komunikasi kamu, apakah orang masih bisa nebak itu kamu? Kalau iya, berarti brand kamu punya identitas yang kuat. Kalau enggak, berarti kamu cuma satu dari seribu yang bilang hal yang sama.
Saya gak akan bohong, awalnya saya baca ini dalam konteks kerjaan, buat brand klien. Tapi malam itu, sambil masih kepikiran soal gambar anak saya, saya kebayang gimana kalau tes yang sama saya arahkan bukan ke bisnis, tapi ke diri saya sendiri sebagai Daddy.
Versi Personal dari Tes Ini
Jadi begini kira-kira pertanyaannya kalau diubah konteksnya:
Bukan “siapa brand kamu”, tapi siapa kamu di mata anak kamu, di luar status “ayah”.
Bukan “apa yang kamu lakukan”, tapi apa yang secara rutin kamu lakukan bareng anak kamu, hal yang kalau ditanya orang lain, anak kamu bisa jawab dengan cepat.
Dan yang paling penting, versi “kenapa itu penting”: kalau kamu diambil dari kehidupan anak kamu seminggu, apa spesifik yang mereka akan cerita soal rasanya sama kamu? Bukan “Daddy sayang aku”, karena itu jawaban yang bisa keluar dari mulut anak manapun soal ayah manapun yang baik. Tapi sesuatu yang lebih spesifik dari itu. Cara kamu ketawa waktu ngajak main. Lagu yang cuma kamu nyanyiin waktu nganter tidur. Cara kamu jelasin sesuatu yang bikin dia ngerti padahal orang lain udah nyerah jelasinnya berkali-kali.
Kalau jawabannya keluar cepat dan spesifik, itu tandanya ada “rasa” yang cuma anak kamu dapat dari kamu. Kalau jawabannya muter-muter dan akhirnya balik ke “ya karena Daddy sayang aku, Daddy selalu ada”, itu sinyal. Bukan sinyal kamu ayah gagal, tapi sinyal bahwa kehadiran kamu belum punya tekstur yang spesifik. Masih di level “ada”, belum di level “beda”.
Kenapa “Melebar” Justru Bikin Kamu Kehilangan Makna
Di buku yang sama, Neumeier kasih contoh soal brand yang kehilangan arah karena mencoba jadi semua hal buat semua orang. John Deere, yang dikenal karena traktor dan alat pertanian, sempat mencoba jual rumah, dan langsung kehilangan makna karena jadi cuma perusahaan real estate biasa. Volvo yang identik dengan safety, waktu coba keluar dari positioning itu demi bikin mobil yang “lebih seksi”, justru brand equity-nya yang paling kuat malah rusak.
Yang saya tangkep dari ini, dan ini yang menurut saya paling relevan buat Daddy: brand yang fokus itu tahu persis apa dirinya, kenapa dia beda, dan kenapa itu menarik. Begitu dia melebar dari situ, coba jadi segalanya, dia kehilangan yang bikin dia diinget.
Sama kayak Daddy yang coba “hadir” dengan cara meniru semua hal yang katanya ayah baik harus lakukan. Ikut semua tren parenting, coba semua aktivitas yang direkomendasiin di reels, tapi gak ada satupun yang konsisten cukup lama buat jadi identitas. Hasilnya anak kamu ngerasa kamu berusaha, tapi gak ngerasa ada “signature” yang khas dari kamu. Fokus bukan berarti kamu cuma boleh punya satu hal. Fokus berarti dari semua yang kamu lakukan, ada beberapa yang kamu benar-benar konsisten dan dalemin, bukan sekadar dicoba sekali dua kali.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Waktu saya jujur ke diri sendiri soal pertanyaan ini, jawaban yang keluar pertama kali bukan hal besar. Anak laki-laki saya yang sekarang 4 tahun, ada satu hal kecil yang cuma dia lakukan sama saya: sebelum tidur, dia minta saya bikinin suara-suara aneh pas cerita, karakter jahat pakai suara serak, karakter baik pakai suara ngeden lucu. Istri saya juga baca cerita buat dia, tapi dengan cara yang beda, lebih tenang, lebih normal. Dan saya notice, dia mulai request “yang versi Daddy” kalau lagi maunya seru. Itu kecil banget, tapi begitu saya sadar itu ada, saya jadi lebih niat masukin waktu itu ke rutinitas, bukan cuma kalau lagi mood aja. Sekarang itu jadi semacam ritual yang dia harapkan tiap malam saya di rumah, dan jujur, itu bikin saya ngerasa “oh, ini bagian dari saya yang gak tergantiin, minimal buat dia”. Bukan hal yang saya rencanain dari awal buat jadi “signature Daddy”. Ketemu aja secara organik, dan begitu saya sadar, saya rawat.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar dari Refleksi Ini?
Cocok kalau kamu: udah merasa cukup hadir secara waktu, kerja 2-4 jam sehari atau punya jadwal yang fleksibel, tapi masih ngerasa ada jarak yang gak bisa kamu jelasin sama anak. Kamu ngerasa ada, tapi belum ngerasa “spesifik”.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu sekarang masih di fase struggle basic soal waktu, di mana pertanyaan utama kamu masih “gimana caranya saya bisa ada lebih dari 1 jam sehari”, bukan “gimana caranya jam yang ada jadi lebih bermakna”. Gak apa, urus dulu yang dasar. Diferensiasi ini lapisan kedua, bukan yang pertama.
Kalau Kamu Mau Gali Ini Lebih Jauh
Kalau kamu baca ini dan mulai kepikiran, “wah, saya juga belum tahu jawabannya”, saya nulis lebih dalam soal cara nemuin dan ngerawat momen-momen kecil kayak ini di newsletter Not A Perfect Daddy. Bukan teori doang, tapi cerita nyata dan cara praktis dari yang saya coba sendiri sebagai Daddy yang juga masih belajar satu langkah lebih jauh setiap minggunya.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Bukannya semua ayah yang sayang anak otomatis punya momen spesifik kayak ini?
Belum tentu otomatis, karena momen spesifik itu butuh konsistensi dan kesadaran, bukan cuma niat baik. Ayah bisa sayang banget sama anaknya tapi interaksinya berubah-ubah terus, ikutin mood atau ikutin tren, sampai gak ada satupun yang cukup lama diulang buat jadi identitas. Sayang itu perasaan, tapi “signature” itu pola yang dirawat, dan dua hal itu gak selalu jalan bareng otomatis.
Apakah saya harus sengaja “menciptakan” momen spesifik ini, atau nunggu muncul sendiri?
Bisa dua arah. Kadang momen itu muncul sendiri, seperti cerita saya soal suara-suara aneh pas dongeng, dan tugas kamu cuma sadar itu ada lalu rawat. Tapi kalau sampai sekarang belum ada yang muncul organik, gak apa mulai dengan sengaja, misalnya pilih satu ritual kecil yang konsisten kamu lakukan, dan biarkan waktu yang bikin itu jadi bermakna, bukan dipaksa langsung jadi besar.
Bagaimana kalau anak saya masih terlalu kecil buat “cerita” apapun soal saya?
Anak yang belum bisa ngomong pun udah merekam pola lewat tubuh dan reaksi, bukan lewat kata-kata. Bayi yang tenang cuma waktu digendong dengan cara tertentu oleh Daddy, atau anak umur 2 tahun yang langsung ceria pas denger suara pintu Daddy pulang, itu semua bentuk “cerita” yang belum bisa diucapkan tapi udah dirasakan. Diferensiasi ini gak nunggu anak bisa verbal, dia mulai dari pola berulang sejak dini.
Apakah fokus ke satu atau dua hal spesifik ini artinya saya abaikan aspek lain jadi ayah?
Tidak, ini bukan soal mengabaikan yang lain, tapi soal punya beberapa hal yang benar-benar kamu dalemin di antara semua yang kamu lakukan. Kamu tetap harus urus kebutuhan basic, disiplin, kehadiran harian. Tapi di antara semua itu, biarkan ada satu atau dua hal yang benar-benar jadi “gaya kamu”, bukan sekadar mengulang apa yang dilakukan ayah pada umumnya.
Apa risikonya kalau saya terus jadi ayah yang “interchangeable” tanpa sadar?
Risikonya bukan sesuatu yang langsung kelihatan sekarang, tapi lebih ke jangka panjang: anak kamu tetap merasa disayang, tapi memori spesifik soal masa kecil sama Daddy jadi lebih tipis dan kabur. Waktu mereka besar dan ditanya “gimana rasanya waktu kecil sama Daddy”, jawabannya jadi generic, bukan karena kamu gak sayang, tapi karena gak ada tekstur yang cukup kuat buat diinget secara spesifik.

