Jujur ya, ini yang saya malu ngakuinnya.
Ada satu periode di mana saya punya ide produk digital. Sudah jelas banget di kepala: topiknya apa, formatnya apa, harganya berapa, platform apa yang mau saya pakai. Saya bahkan sudah mulai bayangin tampilannya. Sudah riset tools. Sudah baca beberapa artikel soal cara setup halaman penjualan.
Yang belum pernah saya tanya? Apakah ada orang yang mau beli.
Bukan karena saya tidak tahu pertanyaan itu penting. Tapi karena rasanya aneh. Rasanya kayak mau jualan ke teman sendiri. Kayak minta validasi. Kayak… tidak percaya diri. Jadi saya skip bagian itu dan langsung lompat ke bagian yang terasa lebih produktif, setup, desain, konten.
Hasilnya? Produk selesai, tapi tidak tahu siapa yang mau beli, dan saya menghabiskan 3 minggu untuk sesuatu yang belum tentu dibutuhkan orang lain.
Ini bukan pengalaman yang memalukan untuk dibagikan, soalnya ternyata hampir semua orang melakukannya dengan cara yang sama. Kita punya skill, kita punya pengetahuan, dan kita langsung skip ke “gimana cara jualnya” tanpa sempat berhenti sebentar dan tanya “apakah ada yang mau beli ini?”
Kenapa Kita Selalu Skip Bagian Ini
Ada beberapa alasan kenapa langkah validasi ini sering dilewati, dan bukan karena kita malas atau bodoh.
Alasan pertama: validasi terasa seperti minta izin. Ketika kamu harus tanya ke orang lain apakah mereka mau bayar untuk sesuatu yang kamu buat, ada perasaan tidak nyaman di sana. Rasanya seperti kamu sedang expose diri sendiri ke kemungkinan penolakan. Dan penolakan sebelum produk jadi terasa lebih menyakitkan dari penolakan setelah produk jadi, karena yang ditolak adalah ide kamu, bukan produknya.
Alasan kedua: aktivitas “ngebangun” terasa lebih produktif. Buka Canva, desain cover. Install plugin. Riset platform. Nulis outline. Semua itu terasa seperti progress yang nyata, padahal kamu belum tahu apakah arah yang kamu tuju itu benar atau tidak.
Alasan ketiga: kita assume kalau skill kita berharga, pasti ada yang mau bayar. Ini sebetulnya tidak salah, tapi ada gap besar antara “orang butuh skill ini” dan “orang mau bayar ke kamu untuk skill ini dalam bentuk produk digital dengan harga sekian.” Ketiganya adalah pertanyaan yang berbeda.
Dan ada alasan keempat yang jarang disebut: kita tidak tahu harus tanya apa dan ke siapa. Kalau tidak tahu caranya, ya tidak dilakukan.
Framework Validasi Sederhana: 5 Orang, 1 Pertanyaan
Ini yang saya pelajari, dan ini yang saya pakai sekarang sebelum memutuskan bikin apapun.
Cari 5 orang yang paling mungkin jadi pembeli pertama kamu. Bukan 5 orang yang paling supportif, bukan keluarga yang pasti bilang bagus, bukan teman yang tidak enak untuk jujur. Tapi 5 orang yang kamu rasa punya masalah yang produk kamu bisa selesaikan.
Kalau skill kamu fotografi produk untuk UMKM, cari 5 orang yang punya usaha kecil dan aktif jual online. Kalau kamu jago Excel untuk laporan keuangan, cari 5 orang yang sering mengeluh soal Excel di WAG kantor. Kalau kamu bisa bantu soal bahasa Inggris untuk kebutuhan kerja, cari 5 orang yang pernah bilang bahasa Inggrisnya kurang dan itu jadi hambatan.
Lalu tanyakan satu hal ini: “Kalau ada [deskripsi singkat apa yang kamu tawarkan], dan harganya sekitar [range harga], kamu tertarik?”
Itu saja. Satu pertanyaan. Tidak perlu panjang. Tidak perlu presentasi. Tidak perlu pitch deck.
Yang Kamu Cari di Jawabannya
Di sinilah bagian pentingnya. Ada dua jenis respons yang sering keluar, dan kamu harus bisa membedakannya.
Respons pertama: “Wah menarik”, “Bagus tuh”, “Boleh juga ya”, “Noted, nanti saya lihat-lihat.” Respons seperti ini terasa positif, tapi ini bukan sinyal valid. Ini cuma orang yang tidak enak untuk menolak secara langsung.
Respons kedua: “Serius? Kapan ready?”, “Harganya sekitar berapa?”, “Bisa kirim detail ke saya?”, “Saya butuh ini dari dulu, masalahnya [detail masalah mereka].” Respons seperti ini berbeda. Ada rasa urgensi di sana. Ada detail spesifik. Ada pertanyaan lanjutan yang menunjukkan mereka benar-benar mempertimbangkan.
Kalau dari 5 orang yang kamu tanya, ada 2 sampai 3 yang memberikan respons kedua itu, ide kamu layak dilanjutkan. Bukan “mungkin”, bukan “maybe”, tapi ada permintaan nyata yang bisa kamu ukur.
Kalau semua 5 memberikan respons pertama, bukan berarti ide kamu jelek. Bisa jadi kamu targeting yang salah. Bisa jadi cara kamu mendeskripsikannya perlu diubah. Coba lagi dengan 5 orang yang berbeda, atau dengan framing pertanyaan yang berbeda.
Bagaimana Cara Tanyanya
Ini yang sering bikin orang ragu: cara nanya yang tidak terasa awkward.
Kuncinya adalah jangan langsung ke “mau beli tidak” di kalimat pertama. Mulai dari konteks dulu. Kalau kamu mau validasi ebook tentang cara kelola keuangan keluarga dengan satu income, kamu bisa mulai dengan nanya situasinya dulu: “Hei, saya lagi coba bikin sesuatu soal [topik], kamu pernah punya masalah ini tidak?” Kalau mereka bilang iya dan elaborasi, baru kamu lanjut ke pertanyaan validasi.
Bisa lewat chat WhatsApp. Bisa via DM Instagram. Bisa ngobrol langsung. Yang penting jangan bikin ini jadi event formal, tidak ada formulir, tidak ada presentasi, tidak ada pitch. Ini percakapan biasa antara dua orang.
Dan satu hal lagi: kamu tidak perlu minta uang sekarang. Validasi bukan pre-order, meskipun kadang memang bisa sampai ke sana. Tujuannya cuma satu: tahu ada atau tidak ada interest yang nyata.
Sinyal yang Benar vs Sinyal Palsu
Ini perlu saya tegaskan lagi karena ini yang sering membuat orang salah baca situasi.
Sinyal palsu:
- “Wah keren tuh, semoga berhasil ya”
- “Bagus ide-nya”
- “Iya nanti saya cek kalau sudah jadi”
- Banyak yang “like” postingan kamu soal ini di Instagram
Sinyal nyata:
- Mereka nanya berapa harganya sebelum kamu sempat sebut
- Mereka cerita masalah mereka sendiri dan nyambungin ke apa yang kamu tawarkan
- Mereka minta kamu kabarin kalau sudah ready
- Mereka tanya apakah bisa bayar sekarang atau dipesan dulu
Bedanya besar. Yang pertama adalah kebaikan sosial. Yang kedua adalah sinyal market yang nyata.
Bagaimana Kalau Hasilnya Negatif
Ini yang paling penting untuk dipahami, dan ini yang selalu saya coba ingat: validasi negatif bukan kegagalan. Validasi negatif adalah penghematan waktu yang sangat besar.
Kalau kamu sudah tanya 5 orang, lalu 5 orang lagi dengan framing berbeda, dan tidak ada yang menunjukkan interest nyata, kamu baru menghabiskan 1-2 minggu. Coba bayangkan kalau kamu skip validasi ini dan langsung bikin produknya: kamu mungkin butuh 2-4 minggu untuk bikin konten, setup platform, buat halaman penjualan, buat payment gateway. Lalu setelah semua itu selesai, tidak ada yang beli.
2 minggu versus 6 minggu, itu selisih 4 minggu yang bisa kamu pakai untuk cari angle yang benar, atau coba ide yang berbeda sama sekali.
Dan ini yang saya pelajari dari kesalahan saya sendiri: bukan berarti skill kamu tidak berharga. Mungkin kamu targeting orang yang salah. Mungkin harganya perlu disesuaikan. Mungkin formatnya harus berbeda, misalnya bukan ebook tapi template, atau bukan video course tapi sesi konsultasi singkat. Validasi negatif memberikan informasi, bukan vonis.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Saya pernah punya ide bikin sesuatu soal konten marketing untuk usaha kecil. Sudah semangat, sudah outline, sudah bayangin cara jual. Tapi kali ini saya coba tanya dulu ke beberapa orang sebelum bikin apapun.
Dari 5 orang yang saya tanya, hanya 1 yang responsnya terasa nyata. Empat orang lainnya bilang bagus tapi tidak ada follow-up question, tidak ada rasa urgensi. Dari 1 orang yang tertarik, ternyata masalahnya lebih spesifik dari yang saya bayangkan dan sedikit berbeda dari angle yang saya rencanakan.
Itu informasi yang jauh lebih berharga dari semua riset platform yang saya lakukan sebelumnya. Saya sesuaikan anglenya, coba tanya ke 5 orang lagi dengan framing baru, dan hasilnya lebih baik. Total waktu yang saya habiskan sebelum mulai bikin: kurang dari 2 minggu. Dan saya mulai dari titik yang jauh lebih solid.
Bukan cerita yang dramatis, tidak ada plot twist besar. Tapi itulah yang membuat prosesnya jauh lebih efisien dibanding dulu waktu saya langsung lompat ke build mode tanpa tanya dulu ke siapa-siapa.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: Daddy karyawan yang punya skill spesifik dari pekerjaan atau hobi, sudah lama kepikiran untuk monetisasi tapi selalu berhenti di tahap “nanti saja kalau sudah siap”, atau sudah pernah coba bikin produk tapi tidak laku dan tidak tahu kenapa.
Mungkin belum waktunya kalau: Kamu sama sekali belum punya skill atau pengetahuan yang mau dijual, atau kamu sedang dalam fase eksplorasi awal dan belum tahu mau bikin produk di bidang apa. Validasi ini bekerja kalau kamu sudah punya setidaknya 1 ide konkret yang cukup spesifik untuk dijelaskan ke orang lain dalam 2-3 kalimat.
Kalau Kamu Mau Satu Langkah Lebih Jauh
Kalau artikel ini resonan dan kamu mau belajar lebih soal sistem income tambahan yang bisa dijalankan dalam kondisi kamu sekarang, saya kirim tips dan framework praktis soal ini di newsletter mingguan saya.
Kalau mau saya kirim langsung ke email kamu, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini, gratis, dan saya kirim tiap minggu.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy ->
Pertanyaan yang Sering Muncul
Bagaimana kalau saya tidak punya network yang cocok untuk divalidasi?
Ini lebih umum dari yang kamu kira, dan bukan alasan untuk skip validasi. Mulai dari yang ada. Kalau ide kamu soal fotografi produk untuk UMKM tapi circle kamu bukan pelaku usaha, coba masuk ke grup Facebook UMKM lokal atau komunitas penjual online dan lihat apa yang mereka keluhkan. Kamu tidak harus langsung tanya “mau beli tidak?” ke orang baru, tapi kamu bisa observe dulu masalah apa yang paling sering muncul. Itu juga data validasi yang valid, hanya butuh waktu sedikit lebih lama dari nanya ke 5 kenalan.
Apakah validasi lewat polling atau survei online bisa diandalkan?
Kurang dari validasi percakapan langsung, dan ini perbedaannya cukup signifikan. Polling dan survei mudah diisi tanpa komitmen nyata, jadi hasilnya cenderung lebih positif dari realita. “Kamu tertarik dengan ini?” dengan pilihan ya/tidak di Google Form bisa menghasilkan 80% ya, tapi tidak berarti 80% itu akan beli. Yang kamu cari adalah sinyal spesifik seperti “kapan ready?” dan “berapa harganya?” dan itu hanya muncul dalam percakapan dua arah. Kalau tidak bisa tatap muka atau telepon, minimal voice note atau chat bolak balik. Jangan andalkan polling saja sebagai satu-satunya data.
Berapa harga yang harus saya sebut waktu validasi?
Sebutkan range yang jujur, bukan harga yang kamu pikir orang mau dengar. Kalau kamu berencana jual ebook seharga Rp149.000, bilang “sekitar Rp100 ribu sampai Rp150 ribu”. Kalau kamu berencana bikin video course dengan harga Rp500.000, bilang range itu. Tujuannya bukan supaya mereka bilang “murah banget” tapi supaya kamu tahu apakah harga itu masuk akal untuk orang yang kamu targetkan. Kalau reaksi mereka adalah syok atau diam saja, itu informasi penting soal pricing, bukan cuma soal minat.
Apakah saya harus validasi ulang kalau ide saya berubah signifikan dari validasi pertama?
Iya, dan ini justru bagus. Katakanlah kamu mulai dengan ide kursus video editing, tapi dari validasi ternyata yang lebih dibutuhkan adalah template yang langsung pakai. Itu perubahan yang cukup fundamental dari segi format dan cara konsumsi produknya. Validasi ulang dengan framing baru ke orang-orang yang sama atau yang baru. Prosesnya tidak harus dimulai dari nol, tapi cukup 3-5 percakapan lagi untuk konfirmasi bahwa arah baru kamu lebih valid dari arah awal.
Kalau hasil validasi positif, langkah apa yang harus dilakukan duluan?
Jangan langsung bikin produk lengkapnya. Langkah berikutnya adalah bikin versi paling sederhana yang bisa kamu jual: satu modul, satu template, satu dokumen. Ini yang disebut minimum viable product, tapi versi paling praktis untuk Daddy yang waktunya terbatas. Kalau orang mau bayar untuk versi paling sederhana itu, baru kamu investasikan waktu untuk versi yang lebih lengkap. Jangan selesaikan semua konten dulu sebelum ada satu pun yang beli, karena kamu belum tahu bagian mana yang paling mereka butuhkan.

