Saya ingat malam itu, anak pertama saya baru beberapa minggu lahir. Istri sudah tidur, bayi baru saja berhasil tidur setelah nangis lama, dan saya duduk sendiri di sudut ruangan dengan satu pertanyaan yang tidak keluar dari kepala: “apakah saya cukup baik untuk ini?”
Bukan soal finansial. Bukan soal karier. Tapi soal ini. Soal jadi Daddy.
Saya tidak tahu caranya. Tidak ada buku yang benar-benar mempersiapkan kamu untuk itu. Tidak ada kursus yang mengajarkan cara merespons tangisan yang artinya berbeda-beda tergantung situasi, yang cuma kamu pelajari dari jam-jam yang bingung di tengah malam.
Dan di tengah bingung itu, yang paling berat bukan kelelahan fisiknya. Yang paling berat adalah perasaan bahwa orang lain mungkin akan melakukan ini lebih baik dari saya.
Imposter Syndrome Tidak Cuma di Karier, Tapi Juga di Peran Jadi Ayah
Orang lebih banyak bicara soal imposter syndrome dalam konteks karier atau profesional. “Saya tidak layak di posisi ini.” “Orang lain lebih qualified dari saya.” “Suatu hari nanti mereka akan sadar saya tidak sepintar yang mereka kira.”
Tapi versi fatherhood-nya sama nyata dan sama beratnya.
“Saya tidak tahu cara jadi ayah yang baik.” “Saya terlalu sering marah.” “Saya tidak punya kesabaran yang cukup.” “Anak saya layak dapat Daddy yang lebih baik dari saya.”
Itu bukan kalimat yang dibuat-buat. Itu kalimat yang sungguh-sungguh terlintas di kepala banyak ayah, terutama di awal.
Kenapa Ayah yang Peduli yang Paling Sering Merasakannya
Ada pola yang menarik kalau kamu perhatikan. Ayah yang tidak peduli biasanya tidak banyak mempertanyakan apakah mereka cukup baik. Yang paling banyak bertanya itu justru yang paling peduli.
Keraguan itu sebenarnya bukan tanda kegagalan. Itu tanda keterlibatan. Itu tanda bahwa kamu cukup peduli untuk mengevaluasi diri sendiri, untuk mau lebih baik, untuk tidak berhenti di status quo.
Yang jadi masalah adalah ketika keraguan itu membuat kamu merasa tidak layak untuk bahkan mencoba. Ketika rasa “tidak cukup baik” itu berubah jadi alasan untuk tidak hadir, tidak mencoba, tidak berusaha karena “toh saya tidak akan pernah cukup bagus.”
Di situlah imposter syndrome jadi destruktif, bukan di keraguan itu sendiri, tapi di keputusan untuk menyerah sebelum mulai.
Yang Anak Ingat Bukan Yang Kamu Kira
Saya sudah bicara sama beberapa orang dewasa soal kenangan tentang ayah mereka. Dan yang menarik adalah: yang paling diingat bukan apakah ayahnya sempurna. Yang paling diingat adalah apakah ayahnya ada.
Ada atau tidak ada, dalam arti yang paling sederhana, waktu yang dihabiskan bersama, momen-momen yang mungkin terasa biasa tapi ternyata tidak biasa bagi anak. Main di lantai sabtu pagi. Diantar sekolah meski buru-buru. Makan malam bareng meski lelah.
Bukan ayah yang tahu segalanya. Bukan ayah yang selalu tenang dan tidak pernah salah. Yang diingat adalah ayah yang hadir untuk anak.
Anak Tidak Butuh Kamu Sempurna
Satu hal yang pelan-pelan saya pelajari adalah bahwa ketika saya salah di depan anak, dan saya jujur soal itu, itu justru mengajarkan mereka sesuatu yang tidak bisa diajarkan dari ceramah.
“Daddy salah tadi marah-marah. Maafkan Daddy ya.” Kalimat itu, yang dulunya saya pikir melemahkan wibawa, ternyata justru membangun koneksi yang lebih dalam.
Anak belajar bahwa salah itu manusiawi. Bahwa permintaan maaf itu penting. Bahwa orang yang kita sayang pun punya batas, dan itu tidak mengurangi kasih sayang mereka.
Kamu tidak mendidik anak dengan kesempurnaanmu. Kamu mendidik anak dengan cara kamu merespons ketidaksempurnaanmu sendiri.
Cara Saya Menghadapi Keraguan Itu
Saya bukan ayah sempurna. Dan sudah lama saya berhenti mencoba jadi satu, karena standar “sempurna” itu tidak pernah jelas dan tidak pernah tercapai.
Yang saya ganti adalah fokusnya. Dari “apakah saya sudah cukup baik?” ke “apa satu hal yang bisa saya lakukan hari ini untuk hadir lebih baik?”
Satu hal. Bukan sepuluh. Bukan revolusi total dalam cara parenting.
Kemarin mungkin itu berarti meletakkan laptop 30 menit lebih awal supaya bisa mandi bareng anak yang paling kecil. Hari ini mungkin itu berarti duduk di sofa dan dengarkan cerita sekolah anak perempuan saya tanpa scroll HP sama sekali.
Kecil. Tapi konsisten. Dan itu lebih berguna dari plan besar yang tidak pernah dieksekusi karena terasa terlalu berat.
Kumpulkan Bukti bahwa Kamu Sudah Berusaha
Ini yang sering tidak kita lakukan, tapi sebenarnya sangat membantu.
Ketika anak saya bilang sesuatu yang menunjukkan bahwa momen kita bersama membekas, saya coba ingat itu. Simpan di kepala, atau kadang ditulis.
Bukan untuk validasi eksternal. Tapi untuk counter narasi negatif di kepala sendiri. Karena otak kita lebih mudah ingat kesalahan daripada keberhasilan. Kita butuh secara aktif counter itu dengan bukti bahwa kita sedang berusaha dan usaha itu ada hasilnya.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Dengan kondisi kerja yang ada sekarang, saya punya window tertentu setiap hari untuk benar-benar ada dengan anak. Bukan banyak, tapi saya jaga itu sekonsisten yang saya bisa.
Yang saya temukan: kualitas kehadiran dalam 30 menit yang fokus sepenuhnya jauh lebih dirasakan anak daripada 3 jam tapi saya setengah ada karena HP dan pikiran masih di pekerjaan. Itu bukan insight yang saya dapat dari buku. Itu yang saya pelajari dari mengamati respons anak saya sendiri selama bertahun-tahun.
Anak tahu kalau Daddy benar-benar ada atau hanya fisiknya saja yang ada. Mereka lebih sensitif dari yang kita kira untuk hal itu.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: Ayah baru atau yang punya anak balita, yang sedang bergulat dengan perasaan tidak cukup baik sebagai orang tua. Atau yang sedang mencari cara untuk tetap hadir untuk anak di tengah kesibukan dan keterbatasan waktu.
Mungkin belum waktunya kalau: Kamu sedang di situasi yang butuh bantuan profesional, bukan hanya konten blog. Kalau imposter syndrome sebagai ayah sudah sampai di titik yang mempengaruhi kesehatan mental secara signifikan, saya sangat merekomendasikan bicara ke psikolog atau konselor yang bisa lebih tepat membantu.
Kalau Kamu Mau Terus Eksplorasi Ini
Saya sering nulis soal fatherhood yang tidak sempurna tapi berusaha, di newsletter Not A Perfect Daddy. Bukan tips parenting yang terdengar terlalu rapi, tapi cerita dan refleksi jujur dari ayah yang juga masih belajar. Kalau itu relevan buat kamu, daftar di sini:
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy ->
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah wajar kalau saya lebih nyaman di tempat kerja daripada di rumah bersama anak?
Jujur, ini lebih umum dari yang orang mau akui. Di tempat kerja ada struktur yang jelas, ekspektasi yang terukur, dan kamu tahu cara berperforma. Di rumah dengan anak kecil, strukturnya sering kacau dan tidak bisa diprediksi. Itu bisa bikin kerja terasa lebih “aman” secara psikologis. Yang perlu diwaspadai adalah kalau kenyamanan di tempat kerja mulai digunakan sebagai alasan untuk tidak pulang lebih awal atau tidak hadir secara penuh waktu di rumah. Itu beda dengan sekadar punya preferensi lingkungan kerja yang terstruktur.
Anak saya sekarang masih sangat kecil dan sepertinya tidak terlalu peduli apakah saya ada atau tidak. Apa bedanya?
Di usia sangat kecil, anak memang belum bisa mengekspresikan rasa kehilangan dengan cara yang bisa kamu baca dengan jelas. Tapi penelitian soal attachment theory menunjukkan bahwa pola kehadiran atau ketidakhadiran di tahun-tahun pertama membentuk template dalam cara anak berhubungan dengan orang-orang penting di hidup mereka di kemudian hari. Mereka mungkin tidak tahu kalau kamu tidak ada, tapi mereka tahu dan merekam kalau kamu ada.
Saya sering marah ke anak dan menyesal setelahnya. Apakah ini merusak hubungan kami?
Satu insiden kemarahan tidak merusak hubungan. Pola kemarahan yang tidak diakui dan tidak diperbaiki yang lebih berbahaya. Yang justru membangun kepercayaan adalah kalau setelah marah kamu datang, jelaskan dengan jujur (“Daddy salah tadi, Daddy minta maaf”), dan berusaha lebih baik. Itu mengajarkan hal yang sangat berharga: konflik bisa diperbaiki, emosi bisa dikelola, dan orang yang kita sayang tidak pergi karena kita tidak sempurna.
Bagaimana cara saya tetap konsisten hadir untuk anak waktu sedang sangat lelah dari pekerjaan?
Yang membantu saya adalah tidak mencoba hadir dalam durasi yang panjang saat kondisi sedang kelelahan. Lima belas menit yang benar-benar fokus lebih baik dari satu jam yang setengah tidur. Kalau memang kondisinya sangat lelah, jujur ke anak juga bisa jadi opsi tergantung usia mereka: “Daddy capek hari ini, Daddy butuh istirahat 30 menit dulu ya, nanti kita main bareng.” Itu juga mengajarkan bahwa orang dewasa punya batas, dan itu bukan sesuatu yang perlu disembunyikan.
Apakah saya perlu membaca banyak buku parenting untuk jadi ayah yang baik?
Buku bisa membantu untuk konteks dan perspektif, tapi tidak ada buku yang bisa menggantikan waktu yang kamu habiskan secara langsung bersama anakmu. Anak yang spesifik kamu miliki tidak ada di buku manapun. Yang paling penting adalah hadir, perhatikan, dan mau belajar dari interaksi langsung dengan mereka. Buku adalah suplemen, bukan pengganti.

