Ada satu pertanyaan yang hampir tidak pernah ditanyakan oleh orang yang baru mau bikin produk digital: “Apakah ada yang mau bayar untuk ini?”
Bukannya pertanyaan itu tidak pernah muncul di kepala, tapi sering kali kita skip langsung ke produksi karena sudah terlanjur excited dengan idenya. Kita pikir, “Ini pasti berguna, pasti ada yang mau.”
Mungkin. Atau mungkin tidak. Dan kalau jawabannya tidak, kamu baru tahu setelah buang 20-30 jam untuk bikin sesuatu yang tidak ada yang mau.
Untuk Daddy yang waktunya adalah aset paling terbatas, itu kerugian yang tidak perlu terjadi.
Kenapa Kita Skip Validasi
Ini bukan soal ceroboh atau tidak berpengalaman. Bahkan orang yang sudah berpengalaman pun sering skip validasi karena beberapa alasan yang sangat manusiawi.
Pertama, validasi terasa seperti konfirmasi ketakutan. Kalau kita validasi dan jawabannya tidak ada yang mau, itu sakit. Lebih nyaman untuk terus berasumsi bahwa “pasti ada yang mau” dan mulai bikin tanpa konfirmasi. Kalau nanti tidak laku, kita bisa berdalih bahwa mungkin marketingnya yang kurang, bukan ideanya yang salah.
Kedua, kita terlalu jatuh cinta dengan solusi yang sudah kita bayangkan. Begitu kamu punya gambaran yang jelas tentang produk yang mau kamu buat, terasa tidak menyenangkan untuk menguji apakah gambaran itu benar-benar dibutuhkan.
Ketiga, validasi terasa seperti hambatan. “Nanti saja validasinya, sekarang bikin dulu.” Tapi bikin dulu tanpa validasi adalah cara tercepat untuk buang waktu yang kamu tidak punya cadangannya.
Cara Validasi yang Realistis untuk Daddy
Saya tidak bicara soal validasi yang kompleks seperti yang ada di buku-buku startup. Kita tidak sedang bangun unicorn, kita mau tahu apakah ada cukup orang yang mau bayar atau berikan email mereka untuk sesuatu yang kita buat.
Ada tiga level validasi yang bisa kamu lakukan sesuai tahap dan kebutuhan.
Level 1: Validasi Topik (30 Menit)
Sebelum bikin apapun, cek apakah topik yang kamu pilih ada permintaannya.
Cara paling simpel: cari di Google dengan kata kunci topik kamu. Apakah ada orang yang sudah menjual sesuatu tentang topik ini? Kalau ada, itu sebenarnya kabar baik, artinya ada pasar. Yang kamu perlu cari bukan apakah topik ini sudah ada atau belum, tapi apakah ada celah yang belum dicover dengan baik.
Cara kedua: cek forum atau komunitas yang relevan. Di grup Facebook, Reddit, Quora, atau komunitas WhatsApp yang sesuai topik. Apakah ada pertanyaan berulang yang muncul tentang topik ini? Pertanyaan yang berulang adalah sinyal permintaan.
Kalau kamu tidak menemukan tanda-tanda bahwa ada permintaan, itu bukan berarti ide kamu jelek. Tapi itu alasan untuk validasi lebih dalam sebelum lanjut.
Level 2: Validasi dengan Lead Magnet (1-2 Minggu)
Ini cara validasi yang paling praktis dan paling jujur untuk kondisi kita.
Bikin versi paling sederhana dari solusi yang mau kamu tawarkan, dalam format yang bisa diselesaikan dalam 1-2 jam. Bukan produk akhirnya, tapi preview-nya yang berguna. Bagikan ke 20-30 orang yang kamu pikir paling relevan, dengan tawaran yang jelas: “Ini [file] tentang [topik]. Kalau kamu mau, kasih email kamu dan saya kirim.”
Kalau dari 20-30 orang ada 5-10 yang genuinely mau, itu validasi yang cukup kuat bahwa topiknya punya pasar di audiensmu.
Kalau dari 20-30 orang hanya 1-2 yang tertarik, itu sinyal untuk evaluasi. Mungkin topiknya tidak resonan dengan audiens yang kamu hubungi, atau cara menawarkannya kurang tepat. Coba ubah satu variabel dulu dan test lagi sebelum ganti topik sepenuhnya.
Level 3: Validasi dengan Pre-Order (Opsional, untuk yang sudah punya audience)
Ini untuk yang sudah punya minimal 100-200 subscriber email atau audience di platform manapun. Announce produk berbayar yang sedang kamu bikin dan tawarkan harga early bird yang lebih rendah.
Kalau ada yang bayar sebelum produknya selesai, kamu punya dua hal sekaligus: bukti validasi yang kuat dan cash awal untuk jaga motivasi.
Kalau tidak ada yang bayar, kamu bisa refund (kalau ada yang sudah bayar untuk sesuatu yang belum jadi tapi kamu cancel) atau pivot tanpa sudah buang waktu besar untuk produksi. Saya belum pernah sampai di level ini secara pribadi, jadi saya tidak mau klaim lebih dari yang saya alami sendiri. Tapi ini konsep yang cukup widely dipraktikkan di kalangan digital product creator.
Yang Paling Sering Salah Ditafsir dari Validasi
Validasi bukan berarti kamu harus menunggu sampai yakin 100% sebelum bikin apapun. Itu akan membuat kamu tidak pernah mulai.
Validasi bukan juga berarti setiap aspek dari produkmu harus divalidasi sebelum kamu lanjut ke langkah berikutnya. Itu terlalu paranoid dan terlalu lambat.
Yang dimaksud dengan validasi di sini adalah: kamu punya cukup sinyal dari dunia nyata bahwa topik ini punya permintaan sebelum kamu investasikan waktu yang signifikan. “Cukup sinyal” itu threshold yang rendah, bukan sempurna.
Dan ada satu insight yang sering terlewat: validasi yang paling kuat adalah ketika orang bertindak, bukan ketika orang bilang. Orang bisa bilang “wah bagus tuh, pasti saya mau” tanpa pernah mau ketika saatnya tiba. Tapi orang yang memberikan email mereka atau yang membayar sekecil apapun, itu tindakan nyata. Percaya pada tindakan, bukan perkataan.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Saya pernah hampir bikin konten yang cukup panjang tentang topik yang saya pikir pasti dibutuhkan orang, hanya untuk menyadari setelah ngobrol dengan beberapa orang yang saya target bahwa mereka tidak benar-benar tertarik dengan aspek yang menjadi fokus utama konten saya. Mereka tertarik dengan aspek yang berbeda dari topik yang sama.
Kalau saya langsung bikin tanpa ngobrol dulu, saya akan buang beberapa jam untuk sesuatu yang perlu diulang lagi dari sudut yang berbeda. Bukan bencana, tapi waktu yang tidak perlu terbuang.
Sekarang sebelum saya mulai bikin apapun yang estimasinya lebih dari 2 jam, saya tanya dulu ke 3-5 orang yang saya pikir paling relevant: “Kalau ada [topik] dalam format [format], apakah itu berguna untukmu? Kira-kira masalah spesifik apa yang paling ingin kamu selesaikan dari topik itu?”
Tidak selalu perfect, tapi itu sudah jauh mengurangi kemungkinan saya buang waktu untuk sesuatu yang tidak resonan.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: punya beberapa ide tentang topik yang mau kamu tekuni tapi tidak yakin mana yang paling punya pasar, atau pernah bikin sesuatu sebelumnya dan tidak ada yang tertarik tapi tidak tahu kenapa.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu sama sekali belum tahu mau buat konten atau produk tentang apa. Validasi baru bisa dilakukan kalau kamu punya hipotesis awal, sekecil apapun. Kalau belum punya hipotesis, langkah sebelum validasi adalah identifikasi keahlian dan topik yang relevan dulu.
Newsletter yang Menemani Proses Belajar Ini
Di newsletter Not A Perfect Daddy, saya tulis tentang hal-hal yang saya sendiri masih sedang pelajari dan coba terapkan, termasuk soal membangun sesuatu dari nol dengan waktu dan energi yang terbatas. Tidak selalu berhasil, tapi saya ceritakan jujur.
Kalau kamu mau ikut perjalanannya, masuk di sini.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy ->
Pertanyaan yang Sering Muncul
Bagaimana kalau saya takut topik saya “dicuri” kalau saya share ke orang untuk validasi?
Kekhawatiran ini valid tapi secara praktis jarang terjadi untuk topik yang spesifik ke keahlian kamu. Orang yang mau “mencuri” ide kamu tetap perlu mengeksekusinya, dan eksekusi adalah bagian yang paling sulit. Yang membuat produkmu bernilai bukan idenya, tapi cara kamu mengeksekusi dan pengalaman spesifik yang kamu miliki untuk mendukungnya. Tapi kalau kamu tetap tidak nyaman, validasi dengan orang yang tidak dalam niche yang sama denganmu.
Apakah saya perlu validasi ulang setiap kali mau bikin produk baru?
Tidak perlu serumit validasi pertama. Setelah kamu punya email list yang engaged, kamu bisa tanya langsung ke mereka: “Saya sedang pertimbangkan untuk bikin [topik]. Apakah ini relevan untuk kamu sekarang?” Itu sudah cukup sebagai validasi cepat sebelum kamu investasikan waktu.
Berapa lama proses validasi yang realistis?
Untuk level 1 (validasi topik) cukup 30-60 menit riset. Untuk level 2 (validasi dengan lead magnet) butuh 1-2 minggu untuk mendapat cukup data. Tidak perlu lebih panjang dari itu untuk validasi awal. Kalau datanya belum cukup setelah 2 minggu, itu sendiri sudah informasi.
Apakah ada yang tidak perlu divalidasi?
Kalau kamu sudah punya track record yang kuat di topik tertentu dan sudah punya audience yang engaged, kamu punya lebih banyak “kredit” untuk bikin sesuatu tanpa validasi panjang. Tapi untuk yang baru mulai seperti kebanyakan kita, validasi adalah langkah yang melindungi waktu yang tidak bisa dikembalikan.

