Saya inget betul waktu itu. Saya sudah bayar domain, beli stok 20 pcs, bikin logo di Fiverr, sampai cerita ke istri soal “usaha baru” ini. Total habis sekitar Rp1,8 juta. Waktu launch, yang beli cuma dua orang, dan salah satunya itu saudara sendiri yang kasihan.
Ternyata tidak ada yang mau beli. Bukan karena produknya jelek, tapi karena saya tidak pernah cek apakah ada orang yang betul-betul mau bayar untuk itu.
Ini kesalahan yang menurut saya sering dilakukan Daddy yang mau mulai usaha sampingan, termasuk saya waktu itu. Kita langsung loncat ke eksekusi, padahal langkah paling penting adalah validasi dulu. Dan validasi itu tidak harus mahal, tidak harus makan waktu berbulan-bulan, dan tidak perlu sampai kamu resign dari kerja dulu.
Kenapa Banyak Usaha Sampingan Mati di Bulan Pertama
Bukan karena orangnya kurang kerja keras. Bukan juga karena modalnya kurang. Masalah paling umum yang saya lihat adalah terlalu cepat build, terlalu lambat cek.
Kamu habiskan 3 minggu bikin website, 2 minggu desain logo, 1 bulan nulis konten, baru launch, dan ternyata tidak ada yang peduli. Tiga bulan waktu dan mungkin Rp3-5 juta uang sudah terpakai sebelum kamu tahu apakah ini layak atau tidak.
Kalau kamu Daddy yang waktunya terbatas, kerja masih 8 jam sehari, anak masih kecil, dan energi sudah habis jam 8 malam, ini bukan sesuatu yang bisa kamu ulangi berkali-kali. Satu kali salah eksekusi bisa bikin kamu kapok untuk coba lagi.
Makanya validasi itu penting banget dilakukan sebelum kamu keluar modal satu rupiah pun.
3 Hal yang Harus Kamu Validasi Sebelum Mulai
Check 1: Apakah Ada yang Mencarinya?
Pertanyaan paling dasar tapi sering dilompati: ada tidak orang yang secara aktif mencari produk atau solusi seperti yang kamu tawarkan?
Cara paling mudah adalah buka Google Trends dan ketik kata kunci produkmu. Kalau grafiknya flat atau turun, itu sinyal bahaya. Kalau naik atau stabil, lanjutkan ke langkah berikutnya.
Cara kedua yang menurut saya lebih jujur: pergi ke TikTok atau Instagram dan cari hashtag produk kamu. Lihat, video tentang produk itu ditonton berapa kali rata-rata? Ada tidak kreator lain yang sudah jualan ini dan punya engagement? Kalau ada orang lain yang sudah jual dan hidupnya oke, itu artinya pasarnya ada. Kalau kamu tidak ketemu siapa-siapa yang jual, itu bisa dua hal: peluang kosong, atau memang tidak ada pasarnya. Perlu investigasi lebih lanjut.
Angka kasar yang bisa jadi patokan: kalau kata kunci utamamu punya minimal 5.000 pencarian per bulan di Google (bisa cek pakai Google Keyword Planner gratis), itu sudah cukup untuk mulai. Tidak perlu ratusan ribu.
Check 2: Bisa Tidak Kamu Jangkau Orang-orangnya?
Misalkan ada pasarnya, pertanyaan berikutnya adalah: kamu bisa tidak menjangkau mereka tanpa perlu modal iklan besar dulu?
Untuk produk yang target audiensnya niche, coba cari komunitas mereka. Apakah ada grup Facebook, komunitas Telegram, forum, atau hashtag aktif di Instagram? Kalau audiensnya 500.000 orang atau lebih di satu channel, itu artinya kamu bisa mulai organic dulu tanpa bayar iklan.
Kalau kamu punya anggaran untuk iklan, ada cara lebih cepat: cek di Meta Ads Manager (bisa buka gratis, tidak perlu aktifkan kampanye dulu) dan lihat estimated audience size untuk interest yang relevan. Target yang sehat untuk mulai itu antara 500.000 sampai 2 juta. Terlalu kecil susah scale, terlalu besar susah target spesifik.
Untuk Daddy karyawan yang belum punya anggaran iklan, fokus ke audiens organik dulu. Kalau kamu sendiri masuk komunitas itu, atau punya teman yang masuk komunitas itu, itu sudah modal awal yang cukup.
Check 3: Mau Tidak Mereka Bayar?
Ini yang paling banyak dilompati, dan paling penting. Ada yang mencari, ada yang bisa dijangkau, tapi mau tidak mereka keluarkan uang?
Cara termudah tanpa produk jadi: buat 3-5 variasi konten soal produkmu, posting di platform yang kamu pakai (Instagram, TikTok, Facebook group), dan lihat mana yang dapat respons paling banyak. Bukan hanya like, tapi DM, komentar yang nanya “beli di mana?”, atau share organik.
Kalau dari 1.000 impresi ada minimal 10 orang yang DM atau komentar nanya cara beli, itu tanda yang bagus. Artinya ada permintaan nyata.
Yang perlu dihindari: jangan tanya “kalau saya jual ini kamu beli tidak?” ke teman. Itu tidak valid. Yang valid adalah posting konten, tunggu respons organik, dan lihat siapa yang tertarik tanpa kamu minta.
Satu tambahan: kalau berani, coba pre-sell. Buat halaman sederhana (bisa pakai Linktree atau Google Form) dan tawarkan “early access” dengan harga lebih murah. Kalau 5-10 orang mau bayar DP sebelum produknya jadi, itu validasi paling kuat yang bisa kamu dapatkan.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Saya pernah beberapa kali coba ide produk digital. Yang gagal itu hampir selalu punya pola sama: saya excited sendiri, langsung buat, baru tanya pasar setelah semua jadi.
Yang berhasil punya pola berbeda. Sebelum buat apapun, saya posting dulu konten tentang topiknya selama 2-3 minggu. Lihat mana yang dapat respons paling banyak. Baru dari situ saya tahu apa yang orang mau, dan saya tinggal bikin produk yang menjawab pertanyaan paling banyak ditanya.
Waktu yang dihabiskan untuk validasi: sekitar 1-2 jam per hari selama seminggu. Ini bisa dilakukan sambil commute atau di malam hari setelah anak tidur. Tidak perlu resign, tidak perlu modal dulu, dan tidak perlu istri ikut khawatir.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: Daddy karyawan yang punya ide usaha sampingan tapi belum tahu apakah layak dikejar, belum punya banyak modal untuk “coba-coba”, dan waktumu terbatas jadi tidak bisa salah langkah terlalu sering.
Mungkin belum waktunya kalau: Kamu belum punya ide sama sekali dan sedang mencari inspirasi usaha, atau kamu sudah punya toko yang jalan dan sudah dapat penjualan, karena validasinya sudah selesai di fase itu.
Kalau Kamu Mau Belajar Lebih Jauh Soal Ini
Topik validasi produk dan cara mulai income digital sambil tetap kerja dan hadir untuk anak itu yang sering saya bahas di newsletter. Bukan teori panjang, tapi hal-hal yang bisa dicoba minggu ini.
Kalau mau saya kirim framework dan contoh konkret langsung ke email kamu, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini, gratis, dan saya kirim tiap minggu.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy ->
Pertanyaan yang Sering Muncul
Kalau saya sudah kadung beli stok, validasi masih berguna tidak?
Berguna untuk memaksimalkan apa yang sudah ada. Kamu bisa pakai framework yang sama untuk cari tahu channel mana yang paling efektif untuk jual stok yang sudah ada. Fokus ke Check 2 dan Check 3, yaitu di mana audiensmu dan konten seperti apa yang mereka respons. Stok yang sudah terlanjur beli bisa tetap terjual kalau channel distribusinya tepat.
Berapa lama saya harus posting sebelum bisa ambil kesimpulan?
Minimal 7 hari posting organik dengan frekuensi setidaknya 1 postingan per hari. Kalau dalam 7 hari tidak ada satu pun respons organik yang meaningful (DM, pertanyaan, atau komentar yang nanya cara beli), itu tanda yang perlu ditanggapi serius. Bukan langsung abandon, tapi evaluasi: apakah kontennya kurang menarik, atau memang pasarnya kecil?
Saya tidak punya follower, validasi organik tetap bisa?
Bisa, tapi perlu sedikit modifikasi. Coba posting di grup Facebook atau komunitas yang relevan daripada feed sendiri. Atau minta teman yang punya audiens lebih besar untuk posting kontenmu sebagai test. Angka engagement dari komunitas orang lain seringkali lebih jujur daripada dari follower sendiri yang sudah kenal kamu.
Produk fisik vs produk digital, mana yang lebih mudah divalidasi?
Produk digital lebih mudah karena tidak ada minimum order atau stok. Kamu bisa validasi dengan konten mockup atau preview gratis dulu, baru buat produknya setelah ada konfirmasi minat. Produk fisik butuh sedikit lebih banyak kreativitas, misalnya pakai foto produk serupa atau mockup Canva untuk test respons pasar sebelum beli stok.
Kalau 10 orang DM tapi tidak jadi beli, itu validasi berhasil atau gagal?
Itu validasi setengah jalan. Ada minat (bagus), tapi ada hambatan di tahap checkout. Hambatannya bisa harga terlalu tinggi, cara bayar yang ribet, atau mereka belum cukup percaya sama kamu. Tanya langsung ke yang DM tapi tidak jadi beli, tanyakan kenapa. Satu alasan yang jujur lebih berharga dari sepuluh DM yang tidak convert.

