Saya masih inget malam itu. Sekitar jam setengah sembilan, anak perempuan saya udah di kamar minta ditemenin baca buku, dan saya masih mantengin laptop nyelesain satu kerjaan yang sebenarnya bisa nunggu besok pagi. Saya bilang “bentar ya”, dan bentar itu jadi lima belas menit. Waktu saya akhirnya masuk kamar, dia udah setengah ngantuk, dan momen yang harusnya jadi obrolan sebelum tidur cuma jadi saya baca dua halaman terus dia merem.

Yang bikin saya kepikiran bukan malam itu doang. Yang bikin saya kepikiran adalah nyadar bahwa itu bukan kejadian sekali dua kali. Itu pola. Hari saya selama ini disusun dari jam bangun sampai jam tidur berdasarkan apa yang harus saya selesaikan buat kerjaan, dan keluarga dapet slot yang tersisa setelah semua itu beres. Bukan karena saya nggak sayang. Tapi karena dari cara saya menyusun hari, keluarga memang didesain untuk dapat sisa, bukan dapat porsi yang direncanakan sejak awal.

Kenapa Kita (Termasuk Saya) Membangun Hari dengan Urutan Terbalik

Ini bukan salah kita sepenuhnya. Cara kerja karyawan itu memang didesain supaya jam kerja jadi anchor utama hari kamu. Jam masuk, jam meeting, deadline, semua itu punya nomor dan punya orang lain yang nagih kalau telat. Sementara keluarga nggak punya deadline yang keliatan. Anak kamu nggak kirim email pengingat “Daddy, jam tujuh malam ini waktunya main sama saya ya, jangan lupa”. Istri kamu nggak bikin kalender invite buat ngobrol berdua.

Jadi yang terjadi natural adalah kita menyusun hari dari yang punya tuntutan paling keras dulu. Kerjaan menang duluan karena dia yang paling berisik. Keluarga menang belakangan, dan seringnya cuma menang energi yang udah habis dipakai buat hal lain.

Saya cerita ini bukan buat bilang bapak-bapak yang begini itu ayah yang gagal. Nggak. Ini soal desain, bukan soal niat. Kamu bisa niatnya seratus persen buat keluarga, tapi kalau cara kamu menyusun hari tetap mulai dari tuntutan kerja, hasil akhirnya tetap sama: keluarga dapat sisa.

Working Backwards: Cara Berpikir yang Saya Pinjam dari Tempat yang Nggak Terduga

Saya pernah baca cerita soal cara perusahaan besar seperti Amazon membangun produk baru. Yang menarik bukan produknya, tapi urutan berpikirnya. Sebelum satu baris kode pun ditulis, tim mereka disuruh nulis semacam pengumuman dulu, seolah-olah produknya udah jadi dan mau diumumkan ke pelanggan. Isinya kira-kira begini: “Pelanggan, kami senang mengumumkan [ini yang berubah], supaya kamu bisa [ini manfaatnya].”

Kedengerannya sepele, tapi efeknya besar. Kalau mereka nggak bisa nulis pengumuman itu dengan meyakinkan, kalau bacanya aja udah hambar, itu tanda bahwa idenya belum cukup bagus. Baru setelah pengumuman itu terasa benar-benar menarik dari sudut pandang orang yang menerima, mereka baru mundur ke belakang: oke, biar pengalaman ini kejadian, kita perlu bangun apa. Mereka nyebutnya working backwards. Mulai dari hasil akhir yang dirasakan orang lain, baru desain prosesnya mundur dari situ.

Menerjemahkan Ini ke Meja Makan, Bukan ke Ruang Meeting

Sekarang bayangin kamu pakai cara berpikir yang sama, tapi bukan buat produk, buat hari kamu sama keluarga.

Pertanyaannya jadi: “Anak dan istri saya mau merasa apa di penghujung hari ini?”

Bukan “kerjaan apa yang harus saya selesain hari ini”. Bukan “jam berapa saya ada waktu kosong buat keluarga”. Tapi mulai dari perasaan yang mau kamu kasih ke mereka, baru mundur ke belakang: biar itu kejadian, jam berapa saya harus berhenti kerja, hal apa yang bisa saya tunda ke besok, momen mana yang nggak boleh saya potong walaupun kerjaan lagi banyak.

Kalau jawabannya “saya mau anak saya ngerasa didengerin, bukan cuma ditemenin sambil saya pegang HP”, itu langsung ngasih tau kamu perlu apa. Bukan cuma alokasi waktu, tapi alokasi perhatian yang penuh, walaupun cuma lima belas menit.

Kalau jawabannya “saya mau istri saya ngerasa dia nggak parenting sendirian sore ini”, itu juga ngasih tau kamu jam berapa idealnya kamu udah standby, bukan masih nyelesain satu chat kerjaan lagi.

Bedanya dengan Sekadar “Nyempilin” Family Time

Ini beda sama sekadar naruh family time di kalender. Kalau kamu naruh slot “main sama anak jam 7-8 malam” di kalender tapi cara mikirnya tetap “ini slot kosong setelah kerjaan”, kamu tetap jalan dengan urutan lama. Kamu cuma kasih nama pada sisa.

Working backwards itu bedanya di titik mula. Kamu tentuin dulu pengalaman yang mau kamu kasih, baru semua yang lain, termasuk jadwal kerja kamu, didesain supaya pengalaman itu bisa kejadian. Bukan pengalaman keluarga yang menyesuaikan sisa jadwal kerja, tapi jadwal kerja yang menyesuaikan supaya pengalaman keluarga itu bisa terwujud.

Kalau Kerjaan Kamu Padat, Mulai dari Skala Kecil

Saya tau nggak semua orang punya kontrol penuh atas jam kerjanya. Ada yang shift, ada yang atasan suka nelpon di luar jam kerja, ada yang memang tuntutannya berat. Working backwards nggak berarti kamu harus rombak total dalam semalam. Mulai dari satu jam aja. Tentuin satu momen di hari itu, mungkin makan malam, mungkin quarter jam sebelum anak tidur, terus desain mundur dari situ: jam berapa saya harus taruh HP, kerjaan mana yang bisa saya geser biar momen itu nggak keganggu.

Kalau kamu nerapin ini konsisten buat satu momen aja dalam sehari, itu udah beda jauh dibanding nol momen yang direncanakan sejak awal.

Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya

Sejak 2018 saya emang udah berusaha hadir untuk anak, tapi jujur, hadir secara fisik dan hadir dengan urutan berpikir yang benar itu dua hal beda. Yang saya ubah belakangan ini bukan jumlah jam kerja saya, karena saya memang udah jalanin sistem kerja 2-4 jam sehari lewat apa yang saya sebut Daddy Freedom System. Yang saya ubah adalah saya mulai nanya ke diri sendiri tiap pagi, sebelum buka laptop: “malam ini saya mau anak-anak sama istri saya pulang dengan perasaan apa.” Kadang jawabannya simpel, “saya mau anak laki-laki saya ngerasa saya beneran lihat dia main lego, bukan cuma bilang wah bagus sambil mata di layar.” Dari situ saya baru atur, oke berarti jam segini saya harus udah selesai sama kerjaan yang butuh fokus, dan sisa yang bisa dicicil malam setelah anak-anak tidur, saya kerjain nanti. Bukan sempurna tiap hari, ada hari saya masih kebawa kerjaan, tapi bedanya sekarang saya sadar itu pilihan yang saya bikin, bukan default yang kejadian begitu aja.

Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?

Cocok kalau kamu: karyawan yang punya sedikit ruang gerak atas jadwal harianmu sendiri, ngerasa keluarga sering dapat “sisa” energi dan waktu, dan pengen ganti urutan berpikir tanpa harus resign atau ganti karier dulu.

Mungkin belum waktunya kalau: kamu lagi di fase kerjaan yang benar-benar nggak ada ruang gerak sama sekali, misalnya lagi krisis di kantor atau baru pindah kerja dan masih harus buktiin diri. Nggak apa-apa, tunggu sampai ada sedikit ruang bernapas, baru mulai coba dalam skala kecil.

Kalau Kamu Mau Latihan Ini Lebih Terstruktur

Reframe ini kedengarannya simpel di tulisan, tapi butuh latihan buat jadi kebiasaan, apalagi kalau kamu udah bertahun-tahun default ke urutan lama. Kalau kamu mau saya kasih cara praktis buat mulai nerapin working backwards ini di jadwal harian kamu sendiri, saya tulis lebih dalam di newsletter Not A Perfect Daddy. Daftar di daddy.co.id/newsletter.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apa itu working backwards untuk keluarga, dalam bahasa sederhana?

Simpelnya, kamu mulai mikir hari dari “keluarga saya mau ngerasa apa nanti malam”, baru nyusun mundur ke jadwal kerja dan kegiatan lain. Kebalikan dari kebiasaan banyak orang yang mulai dari to-do list kerja dulu, baru keluarga dapat apa yang tersisa. Ini soal urutan mikir, bukan soal ngurangin tanggung jawab kerja.

Apakah saya harus kerja lebih sedikit buat nerapin ini?

Nggak harus. Saya sendiri tetap kerja dengan jam yang saya tentuin, bukan tiba-tiba jadi nol jam kerja. Yang berubah itu kapan dan gimana saya kerja, supaya energi yang sampai ke keluarga bukan energi sisa yang udah abis dipakai buat hal lain duluan.

Gimana kalau jam kerja saya memang nggak fleksibel sama sekali?

Mulai dari bagian terkecil yang masih bisa kamu kontrol. Mungkin cuma lima belas menit sebelum anak tidur, atau satu jam pagi sebelum berangkat kerja. Working backwards bisa diterapkan dalam skala sekecil apapun, yang penting titik mulanya tetap dari pertanyaan soal perasaan keluarga, bukan dari sisa waktu.

Apa bedanya ini dari sekadar bikin jadwal family time?

Bedanya ada di titik awal mikirnya. Family time di kalender biasanya cuma diisi setelah semua jadwal kerja beres duluan, jadi tetap jadi sisa walaupun namanya kedengaran niat. Working backwards mulai dari pengalaman yang mau kamu kasih ke keluarga dulu, baru jadwal kerja menyesuaikan ke situ.

Berapa lama biar ini kerasa jadi kebiasaan, bukan cuma niat sesaat?

Dari yang saya alami sendiri, efeknya ke kehadiran kamu bisa kerasa di hari yang sama karena yang berubah duluan itu cara kamu hadir, bukan hasil di luar diri kamu. Tapi biar jadi otomatis, biasanya butuh sekitar dua sampai tiga minggu kamu sengaja nanya pertanyaan itu tiap pagi, sampai akhirnya jadi refleks tanpa perlu dipikir keras lagi.