Saya duduk di lantai kamar anak laki-laki saya, jam delapan malam, bacain buku yang udah kita baca entah berapa puluh kali. Dia empat tahun, lebih tertarik mainin kancing baju saya daripada dengerin ceritanya. Saya sempet kepikiran, ini ngaruh gak sih buat dia. Toh dia kelihatan gak fokus, besok juga mungkin gak inget saya bacain apa.
Ini bukan momen dramatis. Justru karena gak dramatis itu yang bikin ganggu. Kalau ada momen besar, gampang kelihatan hasilnya. Tapi rutinitas kecil kayak bacain buku tiap malam, dengerin cerita random dia soal temen di sekolah, atau cuma duduk deket dia pas dia main sendiri, itu jenis usaha yang datanya gak pernah kelihatan jelas. Dan saya kerja di dunia digital marketing, pegang beberapa akun iklan klien setiap harinya. Jadi tiap kali saya ragu soal hal kecil kayak ini, otak saya otomatis balik ke satu prinsip yang saya pakai tiap hari waktu ngatur akun iklan itu.
Prinsipnya sederhana: jangan buru-buru nilai sesuatu dari data yang paling kecil dan paling dekat, karena itu belum tentu cerita yang sebenarnya.
Prinsip yang Saya Pelajari dari Ngurus Akun Iklan
Di dunia iklan digital, ada istilah yang disebut reliability hierarchy. Urutannya begini, dari yang paling bisa dipercaya sampai yang paling gampang menipu: level akun paling reliable, di bawahnya level campaign, di bawahnya lagi level set iklan, dan yang paling gak reliable itu level iklan satuan.
Kedengarannya teknis, tapi maksudnya gampang. Semakin detail dan semakin kecil unit yang kamu lihat, semakin gampang kamu salah simpul. Satu iklan bisa kelihatan gak menghasilkan apa-apa, padahal perannya bukan buat closing. Ada yang disebut assisting ads, iklan yang tugasnya bukan nutup penjualan, tapi mengenalkan orang duluan, biar closingnya kejadian lewat iklan lain yang datanya kelihatan bagus. Kalau kamu cuma lihat data iklan yang “gak menghasilkan” itu terus dimatiin, kamu justru mematikan bagian yang bikin proses closing itu bisa jalan sama sekali.
Ada lagi konsep yang namanya no-spend ads, iklan yang gak dapet budget karena sistem lagi pilih iklan lain yang lebih efisien saat ini. Iklan itu kelihatan diam, gak ngapa-ngapain, kayak sia-sia dipasang. Tapi dia berfungsi sebagai insurance. Begitu iklan yang lagi jalan capek atau fatigue, sistem otomatis pindah ke iklan cadangan itu. Kalau iklan cadangan itu kamu matiin karena kelihatan gak kerja, kamu kehilangan jaring pengamannya pas benar-benar dibutuhkan.
Makanya ada aturan keras yang saya pegang di kerjaan: jangan matiin iklan di campaign yang secara keseluruhan masih di jalur yang benar, cuma karena satu iklan itu sendiri kelihatan gak berkontribusi. Karena kamu cuma lihat sebagian data, bukan keseluruhan gambar.
Kenapa Ini Kepikiran Waktu Saya Ragu Soal Momen Kecil Sama Anak
Bacain buku yang gak ditanggapin itu, di kepala saya, mirip banget sama no-spend ads. Kelihatan gak kerja malam itu. Gak ada reaksi besar, gak ada “makasih Daddy”, gak ada tanda jelas kalau ini “berhasil”. Tapi saya gak bisa nilai dari satu malam. Saya cuma punya data level paling kecil, satu momen, satu reaksi anak yang lagi capek atau lagi lebih tertarik sama kancing baju.
Nasihat-nasihat kecil yang keliatan diabein juga sama kayak assisting ads. Waktu saya bilang ke anak perempuan saya soal kenapa dia harus minta maaf duluan sama temennya, kelihatannya gak nempel di momen itu. Tapi mungkin peran obrolan itu bukan buat “menutup” pelajarannya hari itu juga. Mungkin dia lagi mengenalkan satu ide, dan idenya baru benar-benar dipahami waktu ada momen lain, mungkin minggu depan, mungkin bulan depan, dalam situasi yang beda, yang gak akan pernah saya sambungkan ke obrolan malam itu.
Kalau saya nilai usaha saya sebagai Daddy cuma dari reaksi anak di malam itu saja, level paling detail dan paling gampang menipu, saya bisa salah simpul terus. Saya bisa mikir “ah rutinitas ini gak ngaruh, mending saya skip aja besok, toh dia gak kelihatan peduli.” Padahal yang lagi terjadi bisa jadi kebalikannya. Rutinitas itu justru sedang kerja di background, membangun sesuatu yang gak bisa saya lihat datanya malam itu juga.
Tiga Prinsip yang Saya Pakai Sekarang
Dari cara berpikir itu, ada tiga hal konkret yang saya pegang setiap kali ragu soal usaha kecil ke anak.
1. Zoom out ke level yang lebih besar sebelum menilai
Jangan nilai dari satu malam. Nilai dari pola sebulan. Kalau saya bacain buku tiap malam selama sebulan, dan saya lihat gambaran yang lebih besar, apakah anak saya makin nyaman cerita ke saya, apakah dia makin sering nyari saya duluan, itu data yang lebih reliable dibanding reaksi dia di satu malam tertentu.
2. Yang kelihatan “gak ngaruh” itu bisa jadi insurance, bukan sia-sia
Rutinitas kecil yang gak dapet reaksi besar bukan berarti gak berfungsi. Sama seperti no-spend ads, dia mungkin lagi nunggu momennya sendiri. Kepercayaan yang dibangun dari rutinitas kecil biasanya yang dipanggil pas anak lagi butuh, bukan pas semuanya baik-baik saja.
3. Sebelum berhenti, tanya dulu: ini beneran gak berhasil, atau saya cuma belum bisa lihat datanya
Ada bedanya antara kebiasaan yang beneran bikin masalah, dengan kebiasaan yang cuma belum kelihatan hasilnya sekarang. Kalau saya mau berhenti dari sesuatu yang saya lakuin ke anak, saya coba tanya ini dulu. Kebanyakan kasus, jawabannya bukan “gak berhasil”. Jawabannya “saya cuma belum bisa lihat datanya dari sini.”
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Sejak 2018 saya mencoba jadi Daddy yang benar-benar hadir untuk anak, bukan cuma ada di rumah tapi pikirannya di tempat lain. Prinsip ini yang bikin saya tetap konsisten di hari-hari yang kelihatannya gak berbuah apa-apa. Saya gak selalu tahu apakah bacain buku tiap malam sama anak laki-laki saya kerasa sampai ke dia gimana. Saya juga gak selalu tahu apakah obrolan singkat sama anak perempuan saya soal minta maaf itu benar-benar nempel atau lewat aja.
Yang saya tahu, kalau saya berhenti cuma karena satu malam kelihatan gak ada hasilnya, saya kehilangan kesempatan buat lihat pola yang lebih besar. Jadi saya tetap jalan. Bukan karena saya yakin banget setiap malamnya berhasil, tapi karena saya belajar gak percaya sama data yang paling kecil dan paling deket buat ambil keputusan besar soal cara saya jadi Daddy.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: sering ragu apakah usaha kecil yang kamu lakuin ke anak tiap hari itu ada gunanya, terutama kalau responnya kelihatan datar atau gak ada reaksi besar. Kamu butuh cara berpikir yang bikin kamu tetap konsisten tanpa harus nunggu bukti instan.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu memang belum punya rutinitas kecil apapun sama anak dan masih bingung mau mulai dari mana. Cara berpikir ini soal gimana menilai kebiasaan yang sudah jalan, bukan soal gimana mulai dari nol. Mulai dulu satu rutinitas kecil, baru nanti pakai prinsip ini buat memutuskan lanjut atau berhenti.
Kalau Kamu Mau Cara Berpikir Kayak Ini Lebih Sering
Saya sering nemu hal-hal kecil kayak ini dari kerjaan sehari-hari yang ternyata pas dipakai buat jadi Daddy yang hadir untuk anak. Kalau kamu mau saya kirim yang lain langsung ke email kamu, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy. Gratis, saya kirim tiap minggu, isinya hal-hal kecil yang bisa langsung kamu coba sambil tetap kerja cerdas, bukan kerja keras.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Gimana saya tahu usaha kecil ke anak saya beneran ngaruh atau saya cuma menghibur diri sendiri?
Kamu gak akan selalu tahu di momen itu juga, dan menurut saya itu wajar, bukan tanda kamu gagal baca situasi. Cara yang lebih adil adalah nilai dari pola beberapa minggu atau bulan, bukan dari satu malam tertentu yang kebetulan anaknya lagi capek atau lagi tertarik hal lain. Kalau secara umum hubungan kamu sama anak makin nyaman, dia makin sering cerita atau nyari kamu duluan, itu sinyal yang lebih bisa dipercaya dibanding reaksi dia di satu momen spesifik.
Kapan saya sebaiknya benar-benar berhenti dari kebiasaan yang kelihatan gak jalan?
Berhenti kalau ada tanda yang jelas kebiasaan itu justru bikin situasi lebih buruk, misalnya anak makin jarang mau deket, makin sering nolak, atau rutinitas itu bikin kamu berdua sama-sama stres tiap kali dilakukan. Itu beda dengan kebiasaan yang cuma kelihatan biasa-biasa saja atau gak dapet reaksi heboh. Kalau kamu masih ragu mana yang terjadi, coba dulu jalan terus minimal tiga sampai empat minggu sambil kamu perhatikan pola besarnya, baru putuskan.
Apakah cara berpikir ini cuma berlaku buat parenting, atau bisa dipakai di kerjaan juga?
Bisa dipakai di kerjaan, dan saya sendiri sering pakai. Kalau satu usaha kelihatan gak menghasilkan di level yang paling kecil dan paling gampang diukur, saya coba zoom out dulu ke gambaran yang lebih besar sebelum memutuskan itu gagal. Sering ternyata usaha itu punya peran yang gak kelihatan langsung, mirip assisting ads, dia bantu proses yang closingnya kejadian di tempat lain.
Saya cuma punya waktu sedikit tiap malam buat anak, apakah usaha kecil itu tetap ada gunanya?
Menurut saya tetap ada gunanya, bahkan mungkin lebih penting justru karena waktunya sedikit. Kalau kamu cuma punya 2-4 jam kerja produktif sehari dan sisanya harus dibagi buat keluarga, rutinitas kecil yang konsisten, walau cuma 15-20 menit, itu yang paling menentukan pondasi kepercayaan jangka panjang, bukan momen besar yang jarang kejadian.
Istilah reliability hierarchy itu apa, kok kedengarannya teknis banget?
Itu istilah dari dunia periklanan digital, urutan level data dari yang paling bisa dipercaya sampai yang paling gampang menipu keputusan. Saya pinjam cara berpikirnya saja buat kehidupan sehari-hari, kamu gak perlu paham detail teknisnya. Intinya cuma satu: sebelum menyimpulkan sesuatu gak berhasil, cek dulu apakah kamu lagi lihat gambaran besar atau cuma satu titik data yang kecil.

