“Kalau uangnya disimpan, kapan saya boleh memakainya?”
Pertanyaan seperti itu layak dijawab. Kadang kita meminta anak menabung, tetapi belum menjelaskan untuk apa uangnya disimpan, berapa yang dibutuhkan, atau apakah anak boleh mengubah pilihannya.
Belajar tentang uang bisa dimulai dari percakapan kecil. Saat memilih barang, merawat sesuatu yang sudah dimiliki, atau menunggu sampai uang untuk keinginan tertentu cukup.
Saya ingin percakapan itu membantu anak memahami pilihannya. Kita tetap bertanggung jawab atas keuangan keluarga. Anak tidak perlu memikul kecemasan orang dewasa agar dianggap mengerti uang.
Mulai dari hal yang sudah bisa dipahami anak
CFPB menjelaskan bahwa anak usia tiga sampai lima tahun umumnya masih terlalu muda untuk memahami konsep keuangan yang abstrak. Kita dapat memperkenalkan pilihan, menunggu dan merencanakan melalui kegiatan sederhana.
Usia memberi gambaran awal, bukan ukuran yang sama untuk semua anak. Perhatikan kemampuan menghitung, bahasa, minat serta bantuan yang dibutuhkan. Anak tidak harus menjawab dengan cepat atau tepat agar percakapannya boleh diteruskan.
Untuk anak yang belum memahami angka uang, coba bermain toko-tokoan dengan gambar barang dan uang mainan berbahan kertas. Pilih satu benda, lalu bicarakan kegunaannya. Tidak perlu mulai dari persentase, bunga atau investasi.
Anak yang sudah dapat menghitung bisa diajak melihat label harga dan menjumlahkan pembelian kecil. Gunakan barang yang dikenalnya. Berhenti ketika anak sudah lelah; setiap perjalanan belanja tidak harus berubah menjadi pelajaran.
Jelaskan batas uang dengan jujur
Kalau keluarga memang belum mampu membeli sesuatu, kamu boleh mengatakannya dengan bahasa yang sesuai. Tidak perlu mengganti kenyataan menjadi “bukan prioritas” jika masalahnya memang uang belum tersedia.
Contoh percakapan rekaan:
“Uang untuk belanja hari ini dipakai membeli makanan dan kebutuhan rumah. Kita belum punya anggaran untuk mainan itu.”
Kalau barangnya sebenarnya terjangkau tetapi tidak dipilih, jelaskan alasan yang berbeda:
“Kita masih punya yang berfungsi di rumah. Hari ini kita tidak membeli penggantinya.”
Anak boleh kecewa. Dengarkan perasaannya tanpa menjanjikan pembelian yang belum tentu bisa dilakukan. Hindari mengatakan bahwa kebutuhan anak menjadi penyebab seluruh kesulitan keuangan keluarga.
Orang tua juga boleh terlihat sedang memikirkan masalah. Jika anak bertanya, beri penjelasan secukupnya: ada urusan yang sedang diatur orang dewasa. Jangan menuntut diri selalu terlihat tenang, lalu merasa satu ekspresi khawatir akan menentukan masa depan anak.
Jika kamu sempat menyalahkan anak, perbaiki ucapan itu. “Tadi saya bicara dengan kesal. Mengatur uang rumah adalah tanggung jawab orang dewasa.” Setelah itu, kembalikan pembicaraan kepada hal yang perlu anak ketahui.
Sepakati ruang anak untuk memilih
Uang saku dapat menjadi sarana latihan jika keluarga memilih memberikannya. Jumlahnya perlu sesuai kemampuan keluarga dan kebutuhan anak, bukan mengikuti nominal yang diberikan keluarga lain.
Financial Consumer Agency of Canada menyarankan orang tua memperjelas pengeluaran yang akan ditanggung melalui uang saku. Ini membantu kita membedakan uang untuk kebutuhan yang sudah ditentukan dengan uang yang boleh dipilih penggunaannya oleh anak.
Bicarakan kapan uang diberikan, untuk apa, dan keputusan mana yang masih memerlukan bantuan. Kebutuhan dasar anak tetap menjadi tanggung jawab orang dewasa. Latihan menabung tidak boleh membuat anak kekurangan makan, transportasi atau keperluan sekolah.
Kalau belum memberi uang saku, kegiatan belajar tetap bisa berjalan. Anak dapat membantu membaca daftar belanja, memilih di antara dua barang yang sama-sama sesuai, atau berlatih dengan uang mainan.
Tidak semua bantuan di rumah harus dibayar. Bila ada pekerjaan tambahan yang diberi imbalan, sepakati dahulu tugas yang sesuai kemampuan serta ketentuannya. Bedakan dari kegiatan saling membantu yang memang dijalankan bersama.
Pilih tujuan menabung yang masuk akal
Tanyakan apa yang ingin anak lakukan dengan uangnya. Tujuannya bisa berupa barang, kegiatan atau menyimpan agar punya pilihan nanti. Jangan langsung menggantinya dengan tujuan yang lebih disukai orang tua.
Materi CFPB tentang menabung untuk anak usia sekolah menyarankan tujuan yang jelas dan langkah kecil untuk mencapainya. Dari situ, kita dapat menghitung rencana yang mudah diperiksa bersama.
Misalnya, dalam contoh rekaan, anak ingin membeli buku Rp40.000. Tabungannya Rp10.000, sehingga masih perlu Rp30.000. Jika ia mampu menyisihkan Rp5.000 setiap minggu dari uang yang memang boleh digunakan, diperlukan enam kali setoran lagi.
Perkiraan itu berubah kalau harga buku berubah, ada minggu tanpa setoran, atau sebagian uang dipakai untuk pilihan lain. Anak tidak gagal hanya karena tanggalnya bergeser.
Buat catatan sederhana: tujuan, uang yang sudah ada dan selisih yang masih diperlukan. Anak boleh menggambar tujuannya atau memberi tanda setiap kali menabung. Catatan itu membantu melihat keadaan, bukan papan perlombaan dengan saudara atau teman.
Wadah dan pembagian uang bisa sederhana
Satu celengan dan catatan sudah cukup untuk satu tujuan. Kalau ingin membedakan penggunaan uang, kamu bisa menawarkan amplop atau wadah untuk dipakai sekarang dan disimpan.
Berbagi kepada orang lain dapat dibicarakan sesuai nilai keluarga. Jelaskan pilihannya tanpa memaksa anak menyerahkan uang miliknya demi mendapat pujian. Ada juga cara membantu yang tidak menggunakan uang.
Tidak ada jumlah wadah atau persentase pembagian yang harus sama. Sesuaikan dengan uang yang benar-benar ada dan pemahaman anak. Gunakan tempat penyimpanan yang aman dan bantu mencatat bila uangnya dititipkan kepada orang tua.
Jika orang tua ingin menambah tabungan anak, sepakati jumlah atau batasnya sejak awal. Katakan juga apakah bantuan itu hanya sekali atau berlangsung sampai waktu tertentu. Jangan menjanjikan penggandaan yang tidak sanggup diteruskan.
Anak tetap bisa belajar tanpa bonus. Memberi tambahan maupun tidak memberikannya belum membuktikan sebuah metode pasti lebih baik untuk semua anak.
Kalau semangatnya berkurang, cari tahu dulu
Coba tanyakan dengan tenang, “Kamu masih ingin menabung untuk buku itu, atau ada yang berubah?”
Tujuannya mungkin sudah tidak menarik. Jaraknya terlalu jauh. Anak belum mendapat uang yang dapat disisihkan. Atau ia sekadar sedang tertarik pada kegiatan lain. Kita tidak bisa menyimpulkan penyebabnya hanya dari celengan yang jarang disentuh.
Buka catatan bersama jika anak bersedia. Bisa jadi rencananya perlu diperkecil, waktunya diperpanjang, atau tujuannya diganti. Jangan mengambil uang anak atau menambah hukuman karena ia tidak memenuhi target latihan.
Jika anak ingin memakai sebagian tabungannya sekarang, jelaskan akibatnya pada rencana. “Kalau Rp10.000 dipakai, sisa untuk buku menjadi sekian.” Beri ruang memilih sesuai kesepakatan dan batas aman yang sudah dibahas.
Menghabiskan uang untuk pilihan yang diizinkan dapat menjadi bahan percakapan berikutnya. Tidak perlu mempermalukan anak atau sengaja membiarkannya membeli barang berbahaya agar mendapat pelajaran.
Ajak membandingkan harga dan kegunaan
Saat membeli barang, mulai dari fungsi yang dapat diperiksa. Apakah ukurannya sesuai, nyaman digunakan dan memenuhi kebutuhan? Untuk tas, misalnya, anak bisa mencoba membuka ritsleting atau melihat apakah barang sekolahnya muat, dengan izin toko.
Harga tinggi, bahan tebal atau berat barang bukan bukti otomatis bahwa kualitasnya lebih baik. Kalau belum tahu, katakan, “Kita perlu cari tahu dulu.” Orang dewasa tetap perlu memeriksa informasi dan keselamatan barang.
Untuk anak yang sudah memahami pembagian, kamu dapat memakai ilustrasi biaya per pemakaian. Barang Rp60.000 yang dipakai 20 kali memiliki biaya pembelian Rp3.000 per pemakaian. Itu contoh hitungan, bukan janji bahwa barang pasti bertahan sebanyak itu.
Kebutuhan anak juga berubah. Barang yang awet tetapi tidak lagi muat atau tidak nyaman belum tentu menjadi pilihan yang tepat. Penjelasan lebih lengkap untuk orang tua ada pada panduan membandingkan belanja keluarga.
Mengajak anak berpikir bukan berarti keputusan akhirnya harus selalu membeli barang lebih mahal. Pilihan yang aman, sesuai kebutuhan dan terjangkau tetap layak dihargai.
Pisahkan harga barang dari nilai seseorang
Anak mungkin membandingkan barangnya dengan milik teman. Dengarkan apa yang ia sukai tanpa merendahkan teman tersebut atau keluarga sendiri.
Kamu bisa menjelaskan, “Setiap keluarga punya kebutuhan dan keputusan belanja yang berbeda. Kita sedang memilih sesuai keadaan kita.”
Tidak perlu membuktikan bahwa barang kita lebih pintar, lebih bermoral atau lebih bagus. Memiliki barang mahal juga tidak otomatis membuat seseorang boros. Percakapannya bisa kembali kepada cara memakai, merawat dan menghargai apa yang dimiliki.
Kalau anak ikut memilih, ajak merawat barang tersebut sesuai petunjuknya. Tetap bantu sesuai kemampuan anak. Jangan menganggap kerusakan selalu terjadi karena anak tidak menghargai uang.
Periksa pemahaman lewat percakapan berikutnya
Kamu bisa bertanya, “Uang yang disimpan ini untuk apa?” atau “Apa yang berubah kalau kita memilih membeli sekarang?”
Dengarkan jawabannya. Bila masih bingung, gunakan contoh yang lebih sederhana. Tujuannya membantu memahami keputusan, bukan menguji apakah anak sudah menjadi penabung yang disiplin.
Tidak ada tenggat tiga minggu yang menjamin kebiasaan ini terbentuk. Kita juga tidak perlu membagikan foto tabungan atau jumlah uang anak untuk mengakui kemajuannya. Percakapan pribadi sudah cukup.
Mulailah dari satu kegiatan yang memang terjadi minggu ini. Jelaskan pilihan yang sedang dibuat, lalu beri anak ruang bertanya. Pelajaran berikutnya bisa datang ketika ada kebutuhan dan kesempatan yang sesuai.




